Author: superadmin

Keuntungan Terbesar Bermain Judi Poker Online – Setelah melewati beberapa tahap proses dalam penyaringan,akhirnya kami dapat menyempurnakan artikel yang sudah kami kumpulkan dengan data-data dari sumber yang terpercaya mengenai keuntungan bermain judi poker  online.

Isitlah menang dan kalah adalah istilah yang sudah di kodratkan ketika anda mengenal permainan judi. Dalam berjudi anda harus berani bertaruh, hal ini juga berlaku untuk lawan main, siapa yang beruntung maka dialah pemenangnya dan siapa yang tidak beruntung dialah yang kalah. Jadi setelah membaca artikel ini, maka berpikirlah kembali secara bijak jika anda sedang bermain idn poker 88 online. simak baik-baik.

Keuntungan Terbesar Bermain Judi Poker Online

Kelebihan Bermain Situs Bandar Poker Online di Internet

Mengasah kemampuan berpikir dan bertindak

Judi poker bukan hanya tentang uang, bertaruh agar menang atau kalah, judi daftar dominoqq online merupakan permainan kartu yang benar-benar akan melatih kemampuan kita sebagai seorang player untuk bisa berpikir secara bijak dalam mengambil setiap keputusan. Contoh saja di meja judi poker online, ketika anda mengambil keputusan untuk all in maka pikirkan secara matang-matang, jangan bertindak baru berpikir. Nah hal-hal sepele seperti ini jika hanya sekedar mengikuti hawa nafsu maka sudah dipatstikan akan kalah. Itulah kenapa dari setiap permainan poker online selalu diberikan waktu 1 menit untuk anda para pemain berpikir dan mengambil keputusan. Inilah salah satu kenggulan pertama dari permainan poker online yang jarang diketahui oleh pemain yang serakah akan kemenangan instan. Paling tidak point pertama ini bisa menyadarkan rasa haus anda akan kemenangan.

Tempat menghasilka uang bukan tempat membuang uang

Semua orang yang bermain poker online tentu memiliki tujuan untuk mendapatkan uang sampingan setiap harinya, nah yang salah disini bukannya tempat untuk mendapatkan uang tetapi malah dijadikan tempat untuk buang-buang uang. Apa enak memberikan uang kepada bandar online ? Ini yang perlu di pikirkan matang-matang. Kalau dari awal anda berpikir bermain poker bisa menghasilkan uang, maka pikirkan itu baik-baik. Judi poker online memang memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan uang secara instan, tetapi bukan berarti tidak ada konsekuensinya sama sekali. Setiap penjudi memiliki cara tersendiri dalam mendapatkan uang di permainan poker, mungkin anda memiliki cara yang salah. Kami sendiri sebelum memutuskan untuk bermain poker online sudah memiliki target yang jelas, berapa kemenangan yang harus kami dapatkan, berapa kemenangan yang harus kami tarik dan kapan harus berhenti ketika menang. Itu semua harus di susun secara matang agar permianan poker online benar-benar bisa dijadikan tempat mendaptkan uang bukan menghambur-hamburkan uang. Bagaimana setuju dengan poin kedua ini ? Harusnya anda setuju.

Tempat menggapai barang impian

Setiap orang yang hidup di bumi ini tentu memiliki keingnian memiliki barang impian atau sesuatu yang lainnya, maka sudah seharusnya impian seperti ini mudah diwujudkan pada saat anda duduk di meja judi poker online. Bagi kebanyakan orang yang sudah lama bermain poker online, untuk menggapai mimpi itu hal yang mudah dengan syarat bermain secara fokus dan memiliki target yang jelas serta keuntungan berapapun yang didapatkan setidaknya bisa disisihkan. Itulah kenapa poker bisa membawa keuntungan sendiri untuk pemain-pemain yang memiliki pemikiran seperti ini. Jadi kalau anda berpikir mendapatkan impian itu sulit ketika bermain poker, kami jawab itu salah. Sejatinya Agen Poker Terpercaya dibuat untuk memudahkan para bettor mendapatkan uang bukan malah sebaliknya.

Jalan investasi jangka panjang

Bermai situs bandar poker online di internet banyak membawa keuntungan untuk semua orang terlebih mereka yang memiliki mindset seorang pebisnis, poker bisa dijadikan tempat untuk investasi jangka panjang dengan syarat anda mampu menyusun taktik terbaik untuk hal ini. Judi poker online sebenarnya lebih mirip dengan permainan pasar uang atau bitcoin, naik turunnya pasar saham tidak mampu diprediksi oleh pemainnya, sedangkan permainan poker jauh lebih mudah diprediksi. Inilah kenapa kalau anda ingin berinvestasi jangka panjang lebih baik bermain poker online di bandingkan harus bermain saham ataupun pasar uang yang tidak jelas arah grafiknya.

Gerakan Sosial Tanpa Asap Rokok  Gerakan Sosial Tanpa Asap Rokok 

Gerakan Sosial Tanpa Asap Rokok – Beberapa artikel yang akan kami berikan adalah artikel yang kami rangkum dari sumber terpercaya, berikut ini beberapa artikel yang membahas mengenai gerakan sosial anti asap rokok dari kelompok perindu sehat.

Ketua Umum Jakmania Ferry Indrasjarief sudah dua tahun ini membuat social movement (gerakan sosial) membuat gerakan tribun tanpa asap. Asap ini meliputi dua baik asap rokok maupun dari kebul petasan. Hal ini dilakukannya lantaran ia merasa kurang nyaman setiap kali saat mendukung tim kesayangannya bertanding, ia selalu terganggu dengan asap mengebul dari para ahli hisap.

“Saya gak merokok dan saya sendiri gak bisa berada di ruangan penuh asap. Sebagai ketua Jakmania, saya ingin pertandingan tim kesayangan bisa ditonton anak-anak, tapi kan kasihan tribun penuh dengan asap,” katanya dalam sebuah diskusi memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Jakarta, Selasa, 28 Mei 2019.

Selain itu, seringnya Persija bertanding tanpa penonton lantaran kerap mendapatkan hukuman memaksa Ferry bergerak cepat dengan membuat regulasi yang melarang para Jakmania merokok saat pertandingan. “Jakmania itu kalau dibilang bahwa regulasi itu untuk kebaikan tim kesayangannya pasti menurut,” ujar Ferry.

Gerakan sosial yang diinisiasi Ferry untuk penerapan Kawasan Tanpa Rokok ini kian ia gencarkan setelah sebuah peristiwa yang nyaris menjadi tragedi. Kapten Persija, Andritany Ardhiyasa tiba-tiba ambruk saat pertandingan melawan Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, pada 2 Desember 2018.

“Stadion penuh asap rokok dan flare. Asap ini membuat saya tidak kuat apalagi saat itu saya lagi flu,” ucapnya. Andritany pun mendukung gerakan sosial Jakmania ini. “Kalau bisa, semua stadion itu harus bebas dari asap rokok dan petasan.”

Gerakan sosial Tribun Tanpa Asap yang digagas Ferry ini hanya satu dari sekian gagasan kreatif para perindu sehat. Di Kota Bogor, inisiasi untuk menciptakan lingkungan sehat ini juga sudah lama dipraktikkan oleh pemimpinnya.

Wali Kota Bogor Bima Arya selalu tampil bak Hamzah, paman Nabi Muhammad yang berjuluk Singa Padang Pasir. Ia akan garang jika ada anak-anak sekolah dilihatnya sedang merokok. Bima Arya benar-benar garang dalam mewujudkan lingkungan yang sehat.

Banyak inisiatif yang dia lakukan dengan melibatkan anak muda untuk bergerak dan berolahraga. Seperti saat menggelar acara sepeda ceria pada awal Desember tahun lalu. “Ini bagian dari Kota Bogor sebagai kota olahraga yang memimpikan badan sehat dan geerasi sehat tanpa asap rokok,” kata Bima Arya.

Soal menciptakan generasi yang sehat tanpa asap rokok, Bima tak main-main. Berbagai kebijakan di Bogor benar-benar diterapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok.

Bima Arya menolak iklan rokok. Ia bahkan berani melawan raksasa industri rokok yang bersedia mensponsori event badminton nasional pada 2015. “Mereka marah-marah tapi saya sampaikan komitmen kami untuk menolak iklan rokok,” ucapnya.

Menurut Bima, syarat perubahan sosial itu harus didukung tiga hal, yakni aktor, kultur (siapapun wali kotanya), struktur (perda). “Sejak 2009 saya diwarisi pendahulu. Sebelum saya gak merokok. Pimpinan DPR gak merokok, LSM galak-galak,” katanya.

Ia menjelaskan, tak ada hubungan antara Pendapatan Asli Daerah dengan iklan rokok. Karenanya, ia yakin saat mengeluarkan Perda Larangan Iklan Rokok pada 2015. “Hilang Rp 100 miliar tapi yang lain datang.”

Bima mengatakan, banyak cara untuk menolak iklan rokok. Ia memberikan contoh saat menjadi cameo dalam film Galih dan Ratna. “Begitu diputar filmnya, iklannya rokok, langsung saya minta diturunkan iklan film itu di jalanan di Kota Bogor,” tuturnya.

Dengan ketegasan yang diperlihatkannya, kata Bima, KTR menjadi tiga huruf yang sangat diakrabi warga Kota Bogor. “Saya selalu menyiksa para perokok,” ujarnya.

Ia pun berani menerapkan tindak pidana ringan di wilayahnya jika ada yang berani melanggar aturan Kawasan Tanpa Rokok. “Kami punya mobil utk proses tipiring. Tingkat kepatuhannya mencapai 96 persen,” kata dia. “Prinsipnya harus total football, harus holistik.”

Kuncinya, kata Bima Arya, agar regulasi itu benar-benar ditaati secara menyeluruh, berakar pada komitmen dari pimpinan. “Kenapa di Bogor awareness tinggi karena tidak ada pembiaran. Kalo wali kota kepala dinas masih merokok ya gak bisa, sebagai pimpinan ia harus memberikan contoh.”

Bima Arya mengakui, saat muda ia adalah perokok gaul atau bahasa kerennya social smoker. Hingga suatu ketika ayah ibunya meninggal karena kanker. “Ayah menderita kanker getah bening, ibu kanker payudara, yang menurun dari orang tuanya yang juga kanker. Artinya buat saya, ini adalah sebuah ikhtiar untuk hidup panjang,” ujar Bima Arya.

Menurut Bima Arya, warganya miskin karena rokok. “Kalau saya blusukan, penyakitnya aneh-aneh. Maka kesimpulannya adalah lifestyle yang membuat mereka begitu. Ada juga ASN banyak meninggal. Maka kita mulai dengan menyehatkan birokrasi dulu.”

Bima Arya menjelaskan, mumpung ia masih menjabat, maka dia tidak main-main dalam menerapkan lingkungan sehat. “Saya gak mau lurah merokok. Saya punya hak prerogatif. Habitus itu atau kultur itu penting sekali. Tidak mungkin kita menyetop kultur secara drastis tapi kita bisa membangun generasi baru, anak-anak SD, SMP, SMA yang sehat,” kata dia.

Tak hanya di Kota Bogor, pemerintah Kota Ambon pun bergerak cepat mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok yang bisa berjalan efektif. Mereka memanfaatkan sumber daya dan tradisi yang dimiliki. Misalnya, untuk mengkampanyekan KTR ini, mereka menggunakan sampan untuk menyampaikan pesan sehat ini kepada masyarakat.

Gerak bersama ini patut didukung oleh semua pihak. Tujuannya, saat Indonesia berada di puncak bonus demografi pada 2030, muncul anak-anak generasi emas yang sehat dan benar-benar membawa Indonesia sebagai macan Asia. Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Kebutuhan Partisipasi Masyarakat dalam Revolusi Mental Kebutuhan Partisipasi Masyarakat dalam Revolusi Mental

Kebutuhan Partisipasi Masyarakat dalam Revolusi Mental – Mungkin anda sudah pernah membaca artikel serupa atau sejenis,tapi artikel ini berbeda karena sudah kami ambil dari sumber terpercaya , berikut kebutuhan partisipasi masyarakat dalam revolusi mental.

Sejatinya Revolusi Mental adalah sebuah gerakan sosial masyarakat yang ditawarkan oleh pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat dan upaya membangun kesadaran bersama dinilai menjadi syarat mutlak sukses dan berlanjutnya gerakan perubahan sikap mental bangsa Indonesia ke arah lebih baik.

Munculnya Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) di era Jokowi adalah upaya dalam menjawab kegelisahan masa lalu, akibat munculnya krisis karakter bangsa, maraknya intoleransi, korupsi, hingga tak hadirnya pemerintah di saat masyarakat membutuhkan perhatian.

“Ajakan mulia ini seharusnya kita dorong bersama, dimulai dari diri sendiri dan kesadaran masing-masing untuk mengubah tingkah laku, pola pikir, dan sikap, sehingga bangsa Indonesia memiliki modal utama pembangunan yang kuat, yakni manusia Indonesia yang hebat dan unggul dalam akhlak,” demikian pendapat sosiolog dari Universitas Indonesia, Paulus Wirutomo.

Hal-hal yang diutarakan Paulus terangkum dalam delapan prinsip dasar GNRM, yaitu Revolusi Mental adalah gerakan sosial untuk bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik; Harus didukung oleh tekad politik (political will) pemerintah; Harus bersifat lintas sektoral; Kolaborasi masyarakat, sektor privat, akademisi dan pemerintah.

Kemudian dilakukan dengan program “gempuran nilai” (value attack) untuk senantiasa mengingatkan masyarakat terhadap nilai-nilai strategis dalam setiap ruang publik; Desain program harus mudah dilaksanakan (user friendly), menyenangkan (popular) bagi seluruh segmen masyarakat; Nilai-nilai yang dikembangkan terutama ditujukan untuk mengatur moralitas publik (sosial) bukan moralitas privat (individual), seperti nilai etos kerja, gotong royong dan integritas; dan Dapat diukur dampaknya dan dirasakan manfaatnya oleh warga masyarakat.

Tiga nilai utama Revolusi Mental, etos kerja, gotong royong dan integritas, diyakini merupakan nilai universal yang dibutuhkan Indonesia untuk mengejar berbagai ketertinggalannya dibanding negara lain.

Menurutnya, Gerakan Revolusi Mental mestinya tak berhenti pada slogan yang setiap hari harus diteriakkan, namun dilakukan sebagai aksi nyata untuk merubah perilaku, pola pikir dan sikap. Dalam konteks ini, contoh dan teladan dari para pimpinan tertinggi hingga level terendah merupakan keniscayaan.

Presiden Jokowi dalam banyak hal nyata telah mempraktikkan hal ini. Prioritas pembangunan yang berorientasi Indonesia sentris, perubahan pelayanan masyarakat yang menuntut birokrat bekerja efisien, melayani bukan dilayani, dan berbagai kemudahan lainnya, merupakan beberapa contoh.

Baca Juga:Gerakan Sosial Anak Muda Ekonomi Kreatif

Pertanyaan selanjutnya, jika pemimpinnya terus berupaya melakukan perubahan, bagaimana masyarakatnya?

“Revolusi Mental bukanlah perubahan seketika, tak bisa selesai dalam setahun atau lima tahun, butuh kesinambungan. Yang terpenting, janganlah buru-buru menilai gerakan ini berhasil atau tidak, tetapi apakah kita sudah mau bergabung, bergerak bersama-sama dan berubah jadi lebih baik?” tambah Paulus.

Menurutnya, Revolusi Mental merupakan gerakan sosial, tidak ada pilihan lain, yang harus dimulai dan konsisten dilaksanakan. Indonesia sangat membutuhkan perubahan cepat, karena perubahan dunia juga demikian.

Perubahan yang cepat tersebut perlu didukung perubahan perilaku, pola pikir dan sikap masyarakat yang juga cepat. Itulah mengapa Revolusi Mental di berbagai bidang diperlukan.

Jelang lima tahun terakhir, GNRM dipercaya mulai menampakkan hasilnya. Hal tersebut dapat dilihat dari capaian-capaian pemerintah di berbagai bidang, seperti pembangunan infrastruktur, inovasi berbagai pelayanan masyarakat (penyelenggaraan ibadah haji, dan lainnya), kesuksesan Asian Games dan Asian Para Games, kemudahan berinvestasi, dan lainnya.

“Pemerintah harus terus menjaga, bahkan meningkatkan berbagai capaian pembangunan yang merupakan wujud Revolusi Mental, agar berjalan baik. Revolusi Mental selalu mengedepankan nilai-nilai universal. Adapun kualitas moral setiap individu berbasis pada nilai-nilai agama dan keyakinannya,” tandas Paulus.

Gerakan Sosial Anak Muda Ekonomi Kreatif Gerakan Sosial Anak Muda Ekonomi Kreatif

Gerakan Sosial Anak Muda Ekonomi Kreatif – Beberapa artikel yang akan kami berikan adalah artikel yang kami rangkum dari sumber terpercaya, berikut ini beberapa artikel yang membahas mengenai gerakan sosial anak m uda ekonomi kreatif.

Founder Perkumpulan Kader Bangsa sekaligus Anggota Tim Asistensi Menko Perekonomian, Dimas Oky Nugroho mengatakan anak muda harus membuat gerakan sosial baru melalui ekonomi kreatif sehingga ekonomi kreatif ini tidak menjadi eksklusif. “Ekonomi kreatif harus menjadi semacam gerakan sosial baru, yang menggalang dan menyentuh kelompok masyarakat lain sehingga produktif dan bermanfaat dalam memberikan dampak positif pada masyarakat. Di sisi lain ikut mengawal kebijakan-kebijakan yang terkait dengan UMKM secara khusus, dan kesejahteraan sosial secara luas,” kata Dimas di hadapan sejumlah komunitas anak muda di Surabaya yang mengikuti kegiatan ‘Pecha Kucha’ di East Atrium Grand City, Minggu (5/1/2020). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Surabaya Creative Network dan Kolaborasi Positif. Acara ini juga diisi dengan talkshow yang mengusung tema “Semangat Baru dalam Mewujudkan Kolaborasi Antarkomunitas” dengan pembicara sekaligus panelis yakni Dimas Oky Nugroho selaku Founder Perkumpulan Kader Bangsa bersama Hafshoh Mubarak dari Surabaya Creative Network dan Jazuli Maksum Owner dari Jokopi.

Lebih lanjut, Dimas menyampaikan bahwa ekosistem ekonomi kreatif di Surabaya ini sangat baik. Terbukti sudah berhasil menunjukkan pertumbuhan ekonomi kreatif yang sejalan dengan kebutuhan pembangunan kota. “Surabaya cocok menjadi ibu kota kreatif Indonesia. Kerja sama antara pemerintah kota dan pelaku ekonomi kreatif yang mayoritas anak muda serta warga kota secara luas termasuk lembaga akademik dan media telah menjadi model dan inspirasi bagi anak-anak muda di berbagai kota lain,” tutup Dimas.

Baca Juga:Gerakan Sosial Kejar Mimpi Maudy Ayunda

Untuk diketahui, kegiatan ini diikuti oleh puluhan komunitas dan ratusan anak muda di Surabaya. Dalam kesempatan itu, Pecha Kucha memberikan wadah bagi komunitas dalam mempresentasikan ide atau gagasan kreatif mereka untuk Surabaya kedepannya. Pecha Kucha adalah model persentasi singkat dan sederhana khususnya oleh pegiat ekonomi kreatif yang pertama kali dikenalkan di Tokyo, Jepang. Format persentasinya menggunakan maksimal 20 slide dan masing-masing slide ditampilkan dalam 20 detik.

Gerakan Sosial Kejar Mimpi Maudy Ayunda Gerakan Sosial Kejar Mimpi Maudy Ayunda

Gerakan Sosial Kejar Mimpi Maudy Ayunda – Maudy Ayunda menjadi salah satu artis yang memiliki banyak penggemar, dengan keindahan suaranya ia dapat memikat banyak penggemar, tidak hanya itu prestasinya di bidang pendidikan juga menjadi alasan banyak penggemarnya.

Sesuatu yang besar lahir dari mimpi besar. Ingin berbagi semangat dengan sesama anak muda, penyanyi dan aktris Maudy Ayunda, 23, turut menggagas social movement #KejarMimpi. Dimulai awal tahun lalu, campaign tersebut digerakkan melalui digital maupun terjun langsung mendatangi sekolah dan kampus untuk memberikan workshop ataupun talk show.

“Tujuannya, menyemangati anak-anak muda untuk mengidentifikasi mimpi mereka, merancang strategi sehingga mampu mewujudkannya,” papar Maudy di Jakarta (7/12).

Terinspirasi dari gerakan sosial tersebut, perempuan bernama lengkap Ayunda Faza Maudya itu menciptakan lagu bertajuk sama, Kejar Mimpi, yang diluncurkan Agustus lalu.

“Saya percaya, musik adalah salah satu alat yang powerful untuk menyebarkan pesan positif bagi anak muda,” lanjut peraih bachelor of arts in philosophy, politics, and economics dari University of Oxford itu.

Maudy berharap social movement #KejarMimpi akan terus bertumbuh dan dampak positifnya meluas secara organik. “Membahagiakan sekali saat melihat anak-anak muda zaman sekarang punya mimpi yang inovatif,” ucapnya.

restasinya di bidang karier maupun pendidikan membuat Maudy Ayunda selalu jadi inspirasi khususnya bagi para remaja di tanah air. Antusiasme itu juga terlihat saat Maudy, demikian gadis cantik dengan segudang prestasi ini akrab disapa saat hadir di Leaders Camp Online #KejarMimpi CIMB Niaga 2020.

Di tengah popularitasnya di bidang entertainment, Maudy juga sukses masuk ke Universitas Top dunia yakni meraih gelar S1-nya di Oxford University dan saat ini ia tengah menyelesaikan S-2 di Stanford University, Amerika. Menurut Maudy, keren itu punya mimpi ga cuman satu, namun harus punya banyak mimpi. Dengan berani mencoba banyak mimpi itulah menghantarkan ia mencapai banyak mimpi. Bagi Maudy sendiri, motivasi utama dalam mengejar mimpi, kata Maudy adalah ketika kita memberikan impact yang positif bagi banyak orang.

“ Motivasi utama aku dalam mengejar mimpi, aku orangnya ingin selalu tumbuh ingin menjadi versi lebih baik lagi pada diri aku. Misalnya , aku ingin mencari medium untuk mengubah mindset aku menjadi impact yang positif bagi orang banyak,” tuturnya dalam sharing yang dipandu @agiscevi, co-founder gerakan sosial #KejarMimpi.

Untuk itu, lanjut Maudy, ia pun kolaborasi dengan CIMB Niaga #KejarMimpi yang merupakan suatu gerakan yang sangat pas dengan passionnya di dunia pendidikan dan sosial. “I`m very passionable karena di #KejarMimpi aku bisa ketemu banyak anak muda, bisa memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Jadi aku pengen karya aku dapat mengubah dunia secara positif” jelasnya.

Perempuan berusia 25 tahun itu juga merasa bangga sudah menjadi bagian keluarga CIMB Niaga #KejarMimpi. Selama 4 tahun karena telah menebar semangat inspirasi kepada anak muda Indonesia.

“ Aku sangat bangga luar bisa bergabung dalam bagian dari #KejarMimpi, bersama CIMB dulu pertama kali mendiskusikan bagaimana kita harus buat sesuatu untuk anak muda Indonesia yaitu dengan menyebarkan inspirasi dan motivasi anak muda. Aku seneng sekarang followers sudah banyak sekali, kita juga telah menyentuh banyak hati dan pikiran anak muda Indonesia” tegasnya.

Di Leaders Camp yang mengangkat tema “Pantang Menyerah #KejarMimpi” tersebut Maudy juga sharing tentang tips membagi waktu antara karir dan pendidikan. Menurutnya time management sangat penting agar proses dalam mengejar mimpi dapat berjalan dengan baik.

“Mungkin paling utama yang aku sharing, aku bukan orang yang ngebalance semuanya dalam waktu bersamaan. Aku orang yang membagi hidup aku menjadi fase-fase tertentu misalnya, 3 bulan pertama di tahun 2019 aku fokus di bidang musik, 3 bulan berikutnya aku fokus di film , 2 bulan berikutnya aku fokus di application untuk lanjut S2,” tuturnya.

Maudy berpesan agar jangan memaksakan diri untuk multitasking dalam waktu bersamaan karena tidak efektif dan banyak waktu yang terbuang. “Kita bisa fokus, jadi lebih baik membagi hidup kita menjadi fase-fase waktu tertentu daripada semuanya dikerjaan secara bersamaan,“ ungkap Maudy.

Dalam proses mengejar mimpi, pasti setiap orang pernah mengalami down atau gagal, namun bagi Maudy tidak ada mimpi yang tidak tercapai hanya tertunda. Dalam situasi itu, diperlukan grow mindset untuk bangkit dari perasaan down.

“Kita harus memiliki mindset bahwa mimpi itu bukan tidak tercapai namun hanya tertunda, kemudian kita harus memiliki grow mindset atau mindset tumbuh. Tekankan dalam diri untuk menumbuhkan mindset kita harus bisa berkembang. “ jelas pelantun lagu Tiba-Tiba Cinta Datang itu.

Untuk mencapai sebuah mimpi, kata Maudy lagi, kita harus bisa memahami bakat apa yang dimiliki. Ia pun memberikan saran anak-anak muda harus banyak mencoba hal baru seperti dirinya. Hal itu, kata Maudy karena bakat itu ada yang ada sejak lahir ada bakat yang muncul karena diasah.

Baca Juga :Paket Bantuan dari Gerakan Indonesia Perduli

“Waktu SMP dan SMA orangtua aku mendorong aku untuk mencoba sebanyak mungkin aktivitas dan ekstrakulikuler misial ikut musik, main basket, nyanyi, dan lain-lain sampai pada akhirnya aku menemukan yang aku suka yaitu nyanyi. Jadi tumbuhlah kesadaran diri dan kepercayaan diri dari proses itulah aku menemukan elemen-elemen diri aku” ungkapnya.

Banyak anak muda sekarang ini khawatir akan masa depannya, Maudy juga membagi saran mengatasi rasa khawatir dan insecure akan masa depan dengan berani mencoba berbagai kesempatan yang ada.

“Generasi muda itu memiliki pressure yang sangat tinggi untuk buru-buru menemukan passionnya atau bakatnya. Ada ekspetasi memiliki masa depan yang linier seperti kerjaan harus selaras dengan jurusan, harus konsisten dan itu semua membuat aku juga dulu sempat krisis identitas, “ kenangnya.

Untuk itu, kata Maudy, yang harus dilakukan sebagai anak muda adalah harus berani exploreratif,, berani menjalankan hidup untuk membuka mata melihat kesempatan yang dapat dikejar. “Orang yang hanya punya satu mimpi itu berbahaya karena bisa jadi stres kalau ternyata kita ga punya passion sesuai dengan mimpi kita. Sebaiknya, kita memiliki mimpi yang banyak karena kita ga tau mimpi yang mana akan jadi mimpi utama nanti” kata Maudy.

Selain berbagi tentang inspirasi dalam mengejar mimpi, Maudy yang jago berbahasa Inggris sejak masih balita itu juga sharing pengalamannya menggunakan layanan Octo Mobile dari CIMB Niaga. Octo mobile adalah adalah layanan aplikasi perbankan digital dari Bank CIMB Niaga yang merupakan pilihan tepat para Dream Warriors di saat pandemi sekarang ini, dimana selain untuk transaksi Octo Mobile juga bisa digunakan untuk membuka Rekening tabungan pertama.

Paket Bantuan dari Gerakan Indonesia Perduli Paket Bantuan dari Gerakan Indonesia Perduli

Paket Bantuan dari Gerakan Indonesia Perduli – Berikut ini merupakan artikel yang membahas tentang paket bantuan yang diberikan Gerakan Peduli Indonesia kepada masyarakat.

Pandemi Covid-19 membawa dampak ekonomi cukup berat bagi masyarakat, terutama yang bekerja di sektor informal. Dampak ekonomi juga memukul masyarakat miskin atau kaum dhuafa, serta mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja atau dirumahkan tanpa gaji.

Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Keuskupan Agung Pontianak melalui Yayasan Landak Bersatu, dan Yayasan Pena Mas Mulia, bekerjasama membentuk Gerakan Indonesia Peduli dan Bersatu untuk merespons cepat derita yang dirasakan masyarakat terdampak Covid-19.

Gerakan Indonesia Peduli dan Bersatu bergerak cepat menghimpun segala daya upaya untuk mengetuk kepedulian pada donatur untuk bersama melakukan aksi kemanusiaan membantu masyarakat terdampak Covid-19 berupa bantuan bahan pokok pangan atau sembako. Aksi kemanusiaan ini digalang di Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat. Selanjutnya menyusul provinsi seperti Jawa Barat dan di luar Pulau Jawa lainnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, penyaluran bantuan paket sembako ini merupakan bentuk kepedulian kepada warga masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Hari ini, bantuan sembako untuk masyarakat yang membutuhkan akan mulai disalurkan sebanyak 3.450 paket. “Sebelumnya, bantuan sudah dan sedang disalurkan di Jawa Timur. Setelah Jabodetabek menyusul Jawa Tengah dan Kalimantan Barat. Doakan saja, donasi bagi masyarakat ini terus disalurkan dari para dermawan,” ujarnya sat launching distribusi bantuan kemanusian Gerakan Indonesia Peduli dan Bersatu untuk Jabodetabek, di Kantor GP Ansor, Jakarta (20/4/2020).

Yaqut menjelaskan, bantuan kemanusiaan ini merupakan spirit gotong royong. “Gotong royong ini spirit asli bangsa Indonesia. Model aksi kemanusiaan dengan gotong royong berbagai organisasi lintas iman dan lintas pemangku kepentingan ini model ideal yang mencerminkan persatuan bangsa dan kepedulian terhadap sesama. Melalui gotong royong pula distribusi bantuan ke masyarakat dilakukan para kader GP Ansor dan Banser. Proses penyaluran dilakukan secara bertahap,” jelas Gus Yaqut, sapaan akrabnya, didampingi Sekjen GP Ansor Abdul Rochman.

Sementara, mewakili unsur pelaku usaha yang berpartisipasi dalam Gerakan Indonesia Peduli dan Bersatu, Arvin F. Iskandar dari DPD Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta mengatakan, aksi kolaborasi ini merupakan wujud kepedulian bersama sebagai anak bangsa mulai rohaniwan, pelaku usaha, pegiat LSM, ormas, dan banyak warga masyarakat lainnya.

Sedangkan, Theresia Rustandi, tokoh perempuan sekaligus pelaku usaha dari PT Intiland Development Tbk, menambahkan, gerakan kemanusiaan ini adalah tanggung jawab setiap anak bangsa untuk ikut berperan dalam pandemi ini. “Ayo, jangan hanya menjadi penonton dan berpangku tangan,” ujarnya.

Baca Juga :Perlunya Gerakan Sosial dalam Pandemi Covid-19

“Pandemi global ini datang tanpa melihat siapa orangnya, apa agama, ataupun sukunya. Duka dan kecemasan mereka merupakan duka dan kecemasan kita semua. Karena itu, kami menyeru kepada berbagai elemen bangsa untuk peduli dan bersatu untuk menjaga bangsa kita dalam menghadapi kondisi ini,” tambah Ditto Santoso, mewakili Yayasan Penamas Mulia dan Yayasan Landak Bersatu.

Untuk diketahui, Gerakan Indonesia Peduli dan Bersatu merupakan kolaborasi yang digagas Pengurus Pusat GP Ansor, Yayasan Landak Bersatu, dan Yayasan Penamas Mulia dengan melibatkan berbagai elemen lintas agama, lintas pemangku kepentingan, dan lintas sector. Gerakan ini didukung para filantropis dan perusahaan yang peduli dalam naungan REI, PT Intiland Development Tbk, Ahabe Group, dan Mayora Group. Gerakan ini merupakan wujud karya kemanusiaan sekaligus wahana untuk mempromosikan semangat keragaman dan persatuan bangsa.

Perlunya Gerakan Sosial dalam Pandemi Covid-19 Perlunya Gerakan Sosial dalam Pandemi Covid-19

Perlunya Gerakan Sosial dalam Pandemi Covid-19 – Gerakan sosial merupakan aktivitas sebuah kelompok atau oraganisasi yang secara spesifik berfokus pada isu-isu dan masalah sosial. Indonesia baru mengkonfirmasi secara resmi kasus pertama Covid-19 atau yang dikenal dengan virus korona pada 2 Maret 2020 lalu. Setelah itu angka kasus positif Covid-19 terus bertumbuh secara eksponensial. Per 8 April yang positif sudah 2.956 orangf.

Tidak hanya Indonesia, hampir 200 negara lebih di dunia berperang melawan Covid-19. Data dari global yang dikeluarkan Pusat Studi Virus Corona Universitas John Hopkins menunjukkan korban meninggal akibat Covid-19 di dunia menembus angka 60.000, Sekarang sekurangnya 1,4 juta penduduk di planet ini terinfeksi virus mematikan ini.

Terkait kasus Covid-19 di Indonesia, berbagai prediksi kemudian dibuat oleh para peneliti. Salah satunya Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang memprediksi bahwa pendemi Covid-19 akan berakhir di Indonesia pada akhir Mei hingga awal Juni 2020. Artinya, Covid-19 itu belum berakhir saat memasuki mudik Lebaran 2020. Hal yang sama juga dilakukan oleh peneliti Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Menular (CMMID) London, Inggris. Mereka mengembangkan pemodelan Matematika untuk memprediksi secara kasar kemungkinan jumlah kasus penyebaran Covid-19 di suatu negara berdasarkan jumlah kematian. Mereka mengatakan bahwa ratusan ribu kasus Covid-19 di Indonesia tidak terdeteksi.

Berdasarkan data, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dengan persentase mencapai 8,7 persen. Namun, angka pengetesan Covid-19 di Indonesia termasuk yang terendah di dunia. Kemudian kemungkinan ada 1 juta kasus di Indonesia, hal itu mungkin akan terjadi. Kemungkinan ini berkaca dari tingginya populasi di Indonesia dengan 270 juta penduduk.

Tentu kita tidak ingin menghendaki skenario itu akan terjadi. Tetapi kita layak untuk khawatir dan sekaligus waspada terhadap penyebaran pendemi Covid-19 ini, karena seperti yang diketahui bahwa layanan kesehatan rumah sakit di Indonesia tidak lebih baik dengan negara-negara lainnya, Amerika Serikat misalnya yang merupakan negara yang maju dalam hal kesehatan pun sudah babak belur dengan angka kematian tertinggi di dunia yang diakibatkan oleh Covid-19.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita sering mendengar dan membaca berita layanan kesehatan kita sudah kewalahan, hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya berita tentang kurangnya APD (Alat Pelindung Diri), respirator, ataupun ruang perawatan hanyalah sedikit bukti bahwa layanan kesehatan Indonesia tidak siap menghadapi wabah. Jika seandainya kita hubungkan dengan penelitian dari Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Menular (CMMID) London, Inggris. Tentu hal ini sungguh amat mengerikan, runtunhya layananan kesehatan publik, dan juga tentunya akan berdampak secara sosial, ekonomi, dan politik. Maka perlunya gerakan sosial untuk menghadapi Covid-19 ini.

Gerakan Sosial

Diani dan Bison mendefinisikannya sebagai sebentuk aksi kolektif dengan orientasi konfliktual yang jelas terhadap lawan sosial dan politik tertentu, dilakukan dalam konteks jejaring lintas kelembagaan yang erat oleh aktor-aktor yang diikat rasa solidaritas dan identitas kolektif yang kuat maelebihi bentuk-bentuk ikatan dalam koalisi dan kampanye bersama. Secara singkat, gerakan sosial adalah aksi organisasi atau kelompok masyarakat sipil mendukung atau menentang perubahan sosial.

Baca Juga: Sosialisme di Indonesia Dari Sneevliet Hingga Soekarno

Salah satu pendekatan dalam gerakan sosial yakni mobilisasi sumber daya (Resource Mobilization), yaitu terdapat distribusi yang tidak merata atau ketimpangan terhadap sumber daya yang ada di masyarakat. Ia dapat dibagi kedalam dua jenis, yaitu sumber daya material seperti uang, organisasi, tenaga kerja, teknologi, sarana komunikasi, dan media massa. Di sisi lainnya terdapat sumber daya non-material meliputi legitimasi, loyalitas, hubungan sosial, jaringan, hubungan pribadi, perhatian publik, otoritas, komitmen moral, dan solidaritas

Berdasarkan dari pejelasan tersebut, maka diperlukan gerakan sosial di dalam masyarakat untuk bekerja sama melawan Covid-19 ini. Karena sudah ribuan yang positif terkena virus ini dan angka korban akan terus bertambah jika kita lalai dan tidak mempunyai persatuan dalam menghadapi pandemi ini. Kita tetap harus waspada sampai angka kasus ini berhenti dengan mentaati imbauan dari pihak seperti pemerintah, dokter, atau pihak kesehatan. Hal ini betujuan memberhentikan laju penyebaran Covid-19. Imbauan seperti mencuci tangan dengan hand sanitizer atau sabun, memakai masker, dan imbauan social distancing atau physical distancing harus dimasifkan sosialisasinya kepada masyarakat. Terutama pada masyakarat yang tempat tinggalnya jauh dari akses informasi. Sosialisasi ini amat perlu dilakukan khususnya seorang yang memiliki kemampuan persuasi dengan kerja sama tim yang kuat. begitupun ormas (organisasi masyarakat) harus saling bekerja sama untuk membantu masyarakat lainnya, seperti melakukan donasi ataupun membantu alat medis yang dibutuhkan oleh rumah sakit.

Selain dari itu, situasi di ambang krisis sosial seperti saat ini juga diperlukan kepemimpinan yang decisive, yaitu pemimpin yang memiliki komando dan kontrol atas komandonya. Juga, kepercayaan masyarakat atas komando tersebut yang dimaksudkan sebesar-besarnya untuk keselamatan masyarakat. Oleh karena itu, saatnya simpul masyarakat diperkuat untuk melawan Covid-19. Sinergitas antara masyarakat, semisalnya kelompok intelektual, pemuda, pemuka agama, serta organisasi masyarakat mesti terbangun. Kontrak sosial harus dikawal dan dipastikan terlaksana sebaik mungkin. Sebagai jembatan penghubung antar sesama masyarakat untuk menciptakan gerakan sosial dalam melawan Covid-19.

Sosialisme-di-Indonesia-Dari-Sneevliet-Hingga-Soekarno Sosialisme-di-Indonesia-Dari-Sneevliet-Hingga-Soekarno

pergerakansosialisApakah “sosialisme” masih terlalu seram di pendengaran kita? Jika iya, besar kemungkinan ungkapan “sejarah adalah milik penguasa” telah berhasil dijalankan oleh Soeharto dan tentara sejak mereka berkuasa di tahun 1966. Semua aspek dan pengaruh sosialisme di Indonesia dapat segera dibuat hilang dan terlarang, seperti juga penghilangan para pengikutnya dalam babak kelam sejarah Indonesia. Tetapi bagi yang berpikiran maju dan sadar sejarah, penting untuk membongkar kembali catatan-catatan yang telah dipalsukan demi penguasa, agar makna dari apa yang telah berlalu dapat jadi amunisi penguat untuk perjuangan rakyat Indonesia di masa depan.

Tertancapnya ideologi hingga ke akar-akarnya

sneevliet

 

 

 

Tidak ada yang lebih bertanggung jawab dalam menancapkan sosialisme di negeri Indonesia (dulu Hindia Belanda) selain sebuah organisasi kaum sosialis yang dibangun tahun 1914: ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Organisasi ini pada awalnya merupakan kumpulan dari kaum sosialis Belanda yang bekerja di Hindia-Belanda, dan dibentuk atas kegelisahan seorang sosialis Belanda yang berhadapan dengan kondisi-kondisi sosial-politik Hindia Belanda saat itu. Sneevliet namanya. Atau lengkapnya Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet. Kedatangannya ke Hindia Belanda tahun 1913 dan berkerja di Soerjabajaasch Handelsblad (sebuah surat kabar di Surabaya) telah membawanya menjadi tonggak awal dari kemunculan ide-ide Sosialisme di Indonesia. Namun sebelum memulainya, Sneevliet harus bertemu terlebih dahulu dengan sebuah perdebatan awal didalam ISDV tentang tugas kaum sosialis Belanda di Hindia-Belanda (Indonesia).

Saat itu ISDV mengerti betul bahwa penjajahan Belanda di Indonesia dalam bentuk kolonialisme (pemerintahan Hindia Belanda) merupakan bagian langsung dari cara untuk mempertahankan Kapitalisme di Eropa dan Amerika (Imperialisme). Tetapi mereka masih berbeda pandangan tentang apakah sudah saatnya untuk mempropagandakan ide-ide sosialisme dan mendorong kemerdekaan pada masyarakat Hindia Belanda. Pihak yang lebih moderat (yang di kemudian hari berpecah dengan ISDV) lebih menekankan pada tugas-tugas kajian bagi kepentingan fraksi SDAP (Partai Sosial Demokrat Belanda) di parlemen Belanda. Sneevliet akhirnya harus berkompromi, dimana selain mempropagandakan ide-ide sosialisme dan kajian-kajian bagi kepentingan SDAP, ISDV disepakati hanya berurusan dengan politik sebatas apa yang tidak dilarang oleh peraturan kolonial.

Namun demikian, dalam deklarasi prinsip nya ISDV telah memasukkan prinsip “perjuangan kelas” dan makna kemerdekaan dalam tujuan organisasinya, berbeda dari organisasi-organisasi pergerakan sebelumnya yang lebih menekankan segi kebangsaan (seperti Boedi Oetomo atau Indische Partij) atau keagamaan (seperti Serikat Islam):

“persatuan sosial demokrat Hindia Belanda memiliki tujuan bagi pengorganisasian pendudukan Hindia, terutama kaum proletar dan kaum petani tanpa memandang ras dan agama, untuk membentuk suatu partai politik independen yang akan memimpin perjuangan kelas melawan penguasa kelas kapitalis asing di tanah air, dengan demikian melakukan satu-satunya perjuangan yang mungkin mencapai pembebasan nasional. Gerakan ini memberikan segala dukungan yang mungkin pada setiap gerakan ekonomi dan politik rakyat sejauh gerakan itu memperkuat kedudukan pendudukan melawan kelas penguasa” [huruf tebal dari penulis]

ISDV kemudian mulai mengeluarkan pandangan-pandangan sosialisnya dalam terbitan “Het Vrije Woord“ (Suara Kemerdekaan) pada tahun 1915. Walau masih menggunakan bahasa Belanda, tulisan-tulisan dalam terbitan ini ternyata ikut mempopulerkan ISDV dan gagasan Sosialisme di kalangan pemimpin pergerakan rakyat Hindia Belanda ketika itu. Pada 1917 ISDV meluaskan pandangannya dengan penerbitan berbahasa Melayu/Indonesia, “Soeara Merdeka”.

Namun terbitan yang cukup menuai popularitas itu ternyata terasa masih kurang disaat ISDV belum berhasil melahirkan sebuah gerakan berbasis massa yang menjadi syarat dari kemerdekaan rakyat. Saat itu faksi Snevliet yang lebih menekankan sisi agitasi-propaganda dan aksi di ISDV memulai propagandanya menentang pemerintah (salah satunya dalam menentang kriminalisasi terhadap jurnalis Indonesia – Marco Kartodikromo – dan menolak rencana milisi bumi putera menghadapi Perang Dunia I). Faksi Sneevliet juga mulai mempengaruhi organisasi-organisasi massa besar seperti insulinde dan Serikat Islam. Usaha ini dilakukan karena ISDV membutuhkan pengikut sosialis dari kalangan pribumi untuk tampil memimpin dan mengorganisasikan perjuangan rakyat, sebagai suatu hal yang sulit dilakukan oleh kaum sosialis berkebangsaan Belanda. Hingga akhirnya Serikat Islam terbukti menjadi tempat yang subur bagi pertumbuhan pemikiran sosialis di kalangan pribumi, dan menjadikan gerakan berbasis massa yang diharapkan Sneevliet mendapatkan sejarahnya di Indonesia.

Serikat Islam sendiri pada awalnya merupakan organisasi para pedagang pribumi yang ingin menghempang dominasi pedagang-pedagang dari timur asing dan eropa. Tidak ada niat apapun untuk menghentikan pemerintahan kolonial Belanda selain hanya meminta sedikit ruang hidup dalam perdagangan. Namun kepopulerannya lewat simbol islam (yang menjadi salah satu identitas pribumi saat itu) membuat penduduk pribumi yang berasal dari ‘kelas bawah’ sering menjadikannya simbol perlawanan dan (karena pembukaan keanggotaan SI secara luas) akhirnya membuat rakyat berkumpul didalamnya. Semaun, Darsono maupun Alimin (yang kemudian menjadi kaum sosialis) pertama kali dilahirkan dari organisasi ini.

Sedangkan, disaat pandangan-pandangan sosialis telah mengalir deras dan meraih kepopuleran dalam tubuh SI khususnya cabang Semarang, dan setelah peristiwa revolusi Rusia 1917 yang tersiar ke pelosok dunia, tokoh-tokoh pergerakan Indonesia dari yang berpandangan nasionalis sampai islam, dari Tjokroaminoto sampai Soekarno, mulai ikut gandrung untuk mempelajari karya-karya Marx dan Engels, khususnya yang berjudul Das Capital (Modal). Dan saat itu dapat dikatakan, tidak ada pemimpin pergerakan yang menolak tujuan-tujuan sosialisme secara umum (yang dianggap sebagai tujuan persamaan antara sesama manusia tanpa penindasan).

Jatuh-bangun, perpecahan dan persebaran

PKI

 

 

 

Pengusungan prinsip dan tujuan sosialisme kedalam sebuah partai politik akhirnya terjadi pada tahun 1920, yaitu hasil dari perubahan ISDV sendiri menjadi Partai Komunis Indonesia. Dalam komposisi ISDV yang sudah banyak memiliki anggota dari kaum buruh dan pribumi, momentum pendirian partai bernama komunis didorong oleh dua hal. Pertama, terbentuknya Internasional Komunis pada 1919, yang sekaligus mematenkan nama ‘komunis’ secara internasional untuk membedakan diri dari sosial-demokrat secara internasional yang berkhianat pada perjuangan kelas—lalu menggusarkan pemimpin ISDV atas nama ‘sosial-demokrasi’ yang disandangnya. Kedua, faksi yang lebih moderat dalam ISDV kemudian membentuk organ terpisah yang bernama ISDP—sehingga ikut melahirkan masalah kemiripan penyebutan ‘v’ dengan ‘p’ di kalangan pribumi. PKI akhirnya bergabung dengan Komunis Internasional (Komintern).

Namun permasalahan prinsip dan karakter Internasional yang menjadi salah satu prinsip sosialisme akhirnya menuai pertentangan tajam dikalanga

n yang mengakui tujuan-tujuan sosialisme, baik yang berada didalam PKI maupun yang kemudian tumbuh diluar PKI (semisal yang berada didalam PSI, PNI, PARI, maupun Murba). Kelompok-kelompok yang tumbuh diluar PKI merasa ada ‘jalan lain’ diluar dari apa yang dikatakan Marx dan diluar dari apa yang terjadi di Rusia pada tahun 1917; yang ‘lebih berkarakter Indonesia’ dalam bentuk-bentuk “sosialisme islam/religius”, “marhaenisme”, ataupun “sosialisme-demokrasi/kerakyatan” yang menolak prinsip perjuangan kelas dan internasionalisme.

Sedangkan didalam PKI sendiri kebijakan Komintern saat itu untuk bekerjasama dengan kalangan nasionalis revolusioner atau borjuis-demokratik (demi kemerdekaan nasional) juga sempat membuat kegagapan. Sebagian besar pemimpin meyakini dukungan terhadap nasionalisme (yang dibawa oleh kelas pedagang) sama saja membiarkan perjuangan kelas berada dibawah perjuangan nasional dan ikut menyudutkan kaum sosialis berkebangsaan Belanda. Mereka meyakini bahwa hanya perjuangan kelas (kaum proletariat dan kaum tani) yang mampu menjadi dasar dari pembebasan/kemerdekaan nasional yang sejati.

Pertentangan-pertentangan lain antara Komintern dengan sebagian pemimpin PKI juga terjadi pada soal keterlibatan didalam Volksraad (semacam Dewan Perwakilan Rakyat) ataupun kerjasama dengan Pan-Islamisme. Ketegangan ini diperparah dengan terlambatnya resolusi khusus Komintern pada persoalan-persoalan di Asia khususnya Indonesia (yang menurut sebagian pemimpin PKI berbeda dengan India maupun Mesir), dan membuat beberapa pemimpin PKI beberapa kali menghiraukan kebijakan Komintern. Demikian pula Komintern sempat menuding PKI sedang bergerak ke ‘ekstrem kiri.’

Baca Juga : Pers Berperan dalam Pergerakan Nasional Indonesia

Tetapi, periode pembangunan perlawanan rakyat (1920-1926) melalui metode aksi massa dan mogok kerja yang dipimpin oleh PKI dan SI ketika itu telah membuat pengaktifan perlawanan massa rakyat mulai sampai pada usaha-usaha (politik) penumbangan pemerintah kolonial. Dan ditahun 1926, beberapa faksi PKI ‘dipaksa’ oleh ancaman pemerintah dan agitasi revolusioner mereka sendiri—yang membuat anggota dari kaum pribumi yang memiliki sentimen anti-kolonial yang tinggi membengkak jumlahnya—untuk melakukan pemberontakan segera. Walau berhasil dipatahkan dengan mudah dan kemudian PKI dilarang, pemberontakan ini ikut memberi inspirasi bagi pejuang-pejuang rakyat yang bertumbuhan di periode selanjutnya untuk mendorong kemerdekaan lebih serius lagi. Dikalangan PKI sendiri terjadi perpecahan besar dalam mengevaluasi peristiwa ini.

Dilarangnya PKI tidak membuat pandangan-pandangan sosialisme sama sekali hilang dari dunia pergerakan. Prinsip-prinsip kesetaraan antar bangsa, ras, agama, maupun kedudukan sosial (yang awalnya diterangi oleh Sosialisme), walau dijalankan dalam praktek politik yang berbeda-beda sekaligus membingungkan, telah juga merasuk kedalam gerakan kemerdekaan nasional hingga terwujudnya di tahun 1945. Saat itu kaum yang menamakan diri sebagai sosialis memang telah berpencar kedalam berbagai organisasi dan menerapkan strategi-taktik yang berbeda-beda pula dalam menyongsong kemerdekaan nasional.

Dengan dibukanya demokrasi setelah kemerdekaan, PKI akhirnya kembali ke permukaan dan berhasil mengkonsolidasi diri dengan cepat, sehingga pada pemilu pertama tahun 1955 mampu menjadi partai ke empat terbesar di Indonesia. Polarisasi kekuatan-kekuatan penggerak kemerdekaan yang dianggap sudah mengakar di Indonesia menggiring Soekarno pada suatu konsep aliansi 3 kekuatan besar di Indonesia: Nasionalis, Agama dan Komunis (NASAKOM). Namun kelompok-kelompok sosialis yang berseberangan dengan kebijakan Soekarno (khususnya soal perjanjian KMB) akhirnya semakin menjauhkan diri dari garis politik PKI di era Soekarno.

Setelah mendapat banyak pelajaran politik dari periode kemerdekaan (kemajuan dan kemunduran, persatuan dan perpecahan), peristiwa G30S tahun 1965 yang dituduhkan pada PKI akhirnya menutup lembar terbuka sosialisme di Indonesia. Tidak begitu jelas alasan yang dialamatkan pada PKI dalam membunuh para Jendral dan menjatuhkan Soekarno saat itu. Banyak buku dan kisah yang memberi analisa ilmiah tentang peristiwa ini. Tapi yang ironis, peristiwa lubang buaya telah dijadikan alasan bagi Soeharto untuk membubarkan PKI dan melakukan pembunuhan massal terhadap jutaan rakyat pendukung PKI (ditaksir mencapai 1,5 juta). Alasan pembantaian ini menjadi lebih jelas setelahnya, ketika Soeharto membawa kembali penjajahan baru ke Indonesia melalui kontrak dengan modal asing.

Menimang masa depan

Begitulah jalannya sejarah kita, bahwa sosialisme telah meninggalkan bekas pada jiwa perlawanan rakyat Indonesia menghadapi penindasan di lapangan apapun. Alasan yang menyebabkan mengapa pandangan sosialis sering dimusuhi oleh berbagai jenis pemerintahan dari kolonial hingga orde baru, dan yang membuatnya harus jatuh-bangun, adalah terutama karena pandangan nya yang tajam dalam melihat ‘masyarakat berkelas’ yang dipertahankan para pemilik modal. Dengan mengambil sudut pandang ‘kelas’ pada aspek perjuangannya, kaum sosialis telah membuat ‘terang’ hakikat dari penindasan yang terjadi dalam diri rakyat Indonesia. Tentu dalam serangkaian ketajaman, sosialisme tetap tidak dapat dijalankan tanpa merebut kekuasaan (politik), hal yang akhirnya menuai banyak perpecahan juga dalam memandang cara-caranya (strategi-taktik politik).

Sejalan dengan ketajamannya, kaum sosialis telah dipupuk untuk menjadi pejuang yang paling militan di setiap arena perlawanan dalam sejarah. Snevliet sampai harus meninggalkan pekerjaannya yang bergaji tinggi untuk turut dalam pembangunan sosialisme di Indonesia. Tan Malaka sampai harus masuk penjara berkali-kali. Sedangkan Semaun, Darsono, Alimin, Pramudya Ananta Toer dan beribu-ribu pejuang lainnya harus melewati penangkapan, pembuangan dan pengasingan untuk mewujudkan kemerdekaan dan pembebasan rakyat.

Sebagai dasar negara, Pancasila yang diilhami oleh Soekarno juga tidak dapat ditolak telah mendapat pengaruh dari pandangan-pandangan sosialis. Soekarno bahkan sudah mengatakan dengan tegas bahwa arah dari kemerdekaan Indonesia adalah sosialisme. Selain butir kelima yang sedikit-banyak mencerminkan ke”sama-rata”an, butir kedua (kemanusiaan yang adil dan beradab) juga telah mendekati karakter internasional yang sebelumnya tidak dikenal dalam Budi Utomo, Indische Partij, Serikat Islam, maupun PNI.

Memang, berbagai pelajaran dan peraturan sedang terus dikeluarkan pemerintah untuk menghempang pandangan dan gerakan sosialis, termasuk dengan menutupi sejarah peran kaum sosialis dalam kemerdekaan. Namun, ideologi sosialisme telah terlanjur menyatu dengan jiwa perlawanan rakyat Indonesia yang kokoh, sehingga semakin memperjelas kepentingan apa yang berada dibalik kekuasaan pemerintah yang melarangnya, yaitu modal.

Saat ini, pemikiran sosialis ditantang untuk terus menajamkan pandangan berikut strategi-taktik politiknya. Laju krisis kapitalisme yang bertubi-tubi dan menimbulkan pergolakan rakyat di seluruh dunia beserta bukti terus-menerus pemerintahan yang berpihak pada kaum modal telah menjadi ‘pintu lebar’ dari gagasan sosialisme untuk menjelaskan pada rakyat Indonesia dan mendaratkan cita-citanya: Pemerintahan rakyat, Kesejahteraan rakyat, dan Kepemilikan sosial/kolektif atas alat produksi.

Pers-Berperan-dalam-Pergerakan-Nasional-Indonesia Pers-Berperan-dalam-Pergerakan-Nasional-Indonesia

pergerakansosialis –  Surat kabar yang oleh sebagian ahli diidentifikasi sebagai surat kabar pertama yang dimiliki dan dierbitkan oleh bangsa Indonesia adalah Medan Priyayi yang diterbitkan oleh R.M. Tirtoadisuryo tahun 1907.3) Dan pendiri Medan Priyayi dianggap dianggap sebagai wartawan pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat untuk membentuk pendapat umum. Seiring dengan meningkatnya kesadaran kebangsaan yang aktualisasinya nampak dari semakin banyaknya organisasi pergerakan, maka pers nasional juga semakin menempatkan kedudukannya sebagai alat perjuangan pergerakan. Biasanya tokoh pergerakan terlibat dalam kegiatan jurnalistik, bahkan banyak di antaranya yang memulai aktivitasnya melalui profesi jurnalis.4)

Hampir semua organisasi pergerakan pada masa itu memiliki dan menggunakan surat kabar atau majalah untuk menyuarakan ide-ide dan aspirasi perjuangannya. Bung Karno ketika memberikan kata sambutan pada hari ulang tahun koran “Sipatahoenan” yang ke-10 di tahun 1933, mengatakan bahwa tiada perjuangan kemerdekaan secara modern yang tidak perlu memakai penyuluhan, propaganda dan agitasi dengan pers.5) Pengakuan semacam ini diungkap pula oleh Muhammad Hatta sewaktu membina koran PNI Baru, “Daulat Rakjat”, yakni:
Memang majalah gunanya untuk menambah pengetahuan, menambah pengertian dan menambah keinsyafan. Dan bertambah insyaf kaum pergerakan akan kewajiban dan makna bergerak, bertambah tahu kita mencari jalan bergerak. Sebab itu majalah menjadi pemimpin pada tempatnya. Dan anggauta-anggauta pergerakan yang mau memenuhi kewajibannya dalam perjuangan tidak dapat terpisah dari majalahnya.6)

Pengakuan yang diungkapkan oleh kedua kampiun pergerakan tersebut memberi gambaran akan pentingnya peranan pers dalam perjuangan pergerakan nasional.
Budi Utomo pada awal pertumbuhannya telah mengambil alih Dharmo Kondo, majalah yang sebelumnya dimiliki dan diterbitkan oleh orang Cina.7) Setelah mengalami masa pasang surut dalam perkembangannya, harian Dharmo Kondo berubah nama menjadi Pewarta Oemoem, dan menjadi pembawa suara Partai Indonesia Raya (Parindra). Selain Dharmo Kondo, Budi Utomo pernah juga menerbitkan Budi Utomo (1920), Adilpalamerta (1929), dan Toentoenan Desa pada tahun 1930.8)
Sementara itu Sarekat Islam setelah mengadakan kongresnya yang pertama pada tahun 1931 di Surabaya, menerbitkan Oetoesan Hindia. SI juga menerbitkan Bendera Islam, Sarotama, Medan Moelimin, Sinar Djawa, Teradjoe.9)

Baca Juga : Sejarah Dari Pergerakan Nasional

Indische Partij di bawah pimpinan Tiga Serangkai menjadikan Het Tijdsichrift dan De Expres sebagai alat propagandanya. Melalui kedua media ini, tulisan-tulisan tokoh Indische Partij dimuat. Di antaranya yang terkenal adalah tulisan Suardi Suryaningrat yang berjudul Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda).10)
Lahirnya PKI (1920) makin menambah jumlah surat kabar partai. Pada akhir tahun 1926, tercatat lebih dari dua puluh penerbitan PKI yang tersebar di berbagai kota.
Di lain tempat, organisasi pergerakan yang ada di negeri Belanda, Perhimpunan Indonesia telah menerbitkan medianya Indonesia Merdeka yang sebelumnya bernama Hindia Putera.11) Tulisan-tulisan tokoh PI dalam majalah tersebut banyak berpengaruh terhadap perjuangan pergerakan di tanah air.
Bukan hanya organisasi politik yang menerbitkan pers, tapi organisasi kedaerahan, organisasi kepemudaan, organisasi yang bersifat sosial keagamaan turut pula menerbitkan surat kabar atau majalah. Para perkumpulan ini telah menyadari pentingnya sebuah media pers untuk menyampaikan aspirasi perjuangan.
Syamsul Basri menjelaskan peranan pers yang menentukan dalam perjuangan pergerakan nasional, yakni:

  • Menyadarkan masyarakat/bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan adalah hak yang harus diperjuangkan
  • Membangkitkan dan mengembangkan rasa percaya diri, sebagai syarat utama memperoleh kemerdekaan
  • Membangkitkan dan mengembangkan rasa persatuan
  • Membuka mata bangsa Indonesia terhadap politik dan praktek kolonial Belanda.12)

Demikianlah peranan pers nasional sebagai alat perjuangan dengan orientasinya yang mendukung perjuangan pergerakan nasional telah mengambil bagian penting dari epsidoe perjuangan dalam upaya mencapai kemerdekaan. Di samping sebagai wadah di mana ide-ide dan aspirasi organisasi disuarakan, juga telah berperan dalam menyadarkan dan membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan yang kemudian menjadi senjata ampuh melawan politik devide et impera Belanda.

Sejarah-Dari-Pergerakan-Nasional Sejarah-Dari-Pergerakan-Nasional

pergerakansosialisMasa penjajahan bangsa Eropa di Indonesia sangat menyedihkan dan menyakitkan. Bangsa Indonesia saat itu hidup bagaikan budak di negeri sendiri. Selain tenaga mereka yang diperas untuk menjadi budak, bangsa Indonesia atau pribumi diwajibkan untuk menyetor pajak atau hasil pertanian. Tidak ada akses pendidikan untuk pribumi. Bahkan, kaum pribumi tidak mendapatkan pelayanan publik yang baik. Kemiskinan merajalela dan musibah kelaparan terjadi di mana-mana.

Sayangnya, tidak ada yang berani melawan penjajah pada saat itu. Kaum pribumi takut jika melawan, mereka akan mendapat hukuman yang kejam dan mengerikan. Sehingga, penjajah semakin semena-mena terhadap kaum pribumi.

Masa penjajahan ini berlangsung sangat lama, hingga ratusan tahun. Selama berabad-abad, kaum pribumi mengalami masa-masa kelam dalam ketidak pastian. Hidup di bawah garis kemiskinan, tanpa akses pendidikan ataupun pelayanan publik yang baik. Hasil panen dan jerih payah mereka pun harus diserahkan sebagian kepada penguasa.

Ketika para penjajah ini dianggap melukai rasa keadilan, mengoyak martabat dan harga diri, serta melahirkan penderitaan, barulah muncul perlawanan. Perlawanan ini awalnya dilakukan oleh pemimpin atau tokoh yang dianggap kharismatik dan memiliki pengaruh di masyarakat. Umumnya, perlawanan ini dipimpin oleh raja, bangsawan, pemuka agama, bahkan rakyat biasa yang diyakini memiliki kesaktian atau kekuatan lebih.

Perlawanan ini bersifat kedaerahan atau lokal. Mereka hanya akan melakukan perlawanan ketika wilayah mereka diganggu. Pun, mereka tidak akan membantu wilayah lain yang bukan menjadi urusan mereka.

LAHIRNYA POLITIK ETIS

Penjajahan yang berlangsung selama berabad-abad ini ternyata mendorong seorang wartawan untuk mengkritik pemerintah Hindia Belanda. Wartawan dari koran De Locomotief bernama Pieter menullis sindiran sikap tak acuh Eropa di Hindia Belanda ketika terjadi wabah kolera yang menimbulkan banyak korban jiwa bagi masyarakat pribumi. Selain itu, C. Th. van Deventer, seorang ahli hukum Belanda mengkritik sistem tanam paksa.

Kritik ini menyatakan bahwa pemerintah Belanda memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemerintah Belanda harus membayar hutang budi dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat di negara jajahan.

Kritik-kritik ini menjadi perhatian serius oleh pemerintah kolonial Belanda dan membuat Ratu Wilhelmina memunculkan kebijakan baru bagi daerah jajahan. Kebijakan ini dikenal dengan politik etis. Kebijakan ini dituangkan dalam program Trias van Deventer. Program ini diterapkan di Indonesia pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Alexander W. F. Idenburg pada tahun 1909 sampai tahun 1916.

Ada tiga program penting dalam politik etis, yaitu irigasi, imigrasi, dan edukasi. Irigasi diperlukan untuk membangun dan memperbaiki pengairan dan bendungan untuk pertanian. Migrasi dilakukan untuk mendorong transmigrasi demi keseimbangan jumlah penduduk di berbagai kota pada masa itu. Sedangkan edukasi dilaksanakan untuk memperluas bidang pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat pribumi di Hindia Belanda.

Meski terlihat seperti sebuah rencana program yang baik, sayangnya pemerintah Hindia Belanda menjalankannya dengan semena-mena. Irigasi justru digunakan untuk mengairi perkebunan milik Belanda dan tidak menyentuh lahan pertanian masyarakat setempat. Program imigrasi dimanfaatkan untuk mengirimkan tenaga kerja murah untuk dipekerjakan di wilayah Sumatera. Sedangkan program edukasi dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang diperlukan oleh pemerintah kolonial. Program politik etis pada akhirnya tidak memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia pada saat itu.

Baca Juga : Pergerakan Sosial Di Tanah Partikelir Pamanukan Dan Ciasem 1913

TUMBUHNYA KESADARAN KEBANGSAAN

Dari tiga program Trias van Deventer, program edukasi menjadi program yang paling berpengaruh bagi masyarakat di Hindia Belanda. Adanya program edukasi ini melahirkan golongan elit baru di Indonesia yang disebut sebagai golongan priyayi.

Golongan priyayi adalah golongan yang mengenyam pendidikan di sekolah yang dibentuk oleh pemerintah kolonial. Sekolah-sekolah yang dibentuk oleh pemerintah kolonial ini menerapkan pendidikan gaya barat. Seusai sekolah, golongan priyayi tersebut banyak yang berprofesi sebagai dokter, guru, jurnalis, dan pegawai pemerintahan.

Selain profesi yang lebih menjanjikan, golongan ini memiliki pemikiran yang lebih maju serta sadar terhadap penindasan-penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Kemunculan golongan priyayi mengubah corak perjuangan masyarakat dalam melawan penindasan pemerintah kolonial, yang tadinya bersifat kedaerahan menjadi bersifat nasional. Inilah titik awal pergerakan nasional dimulai.

PERGERAKAN NASIONAL

Pergerakan nasional dipimpin oleh para kaum terpelajar. Menurut mereka, perlawanan fisik sudah tidak lagi relevan untuk melawan penindasan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, mereka membentuk organisasi-organisasi sebagai motor penggerak perlawanan.

Akhirnya, lahirlah berbagai organisasi kebangsaan untuk pertama kalinya pada kurun waktu 1908 hingga 1920. Terdapat tiga organisasi pergerakan nasional yang lahir pada periode ini, yaitu Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij. Organisasi-organisasi ini lebih mengedepankan diplomasi ketimbang kekerasan. Selain itu, mereka juga memanfaatkan media massa sebagai alat perjuangan. Munculnya organisasi-organisasi kebangsaan ini menjadi tanda dimulainya pergerakan nasional dengan visi yang jelas, yaitu Indonesia merdeka.

Perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan semakin terarah setelah berbagai organisasi ini lahir. Namun, butuh waktu yang cukup panjang hingga Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Kamu bisa membaca penjelasan yang lebih detail mengenai sejarah pergerakan nasional yang tentunya dibahas lebih lengkap dan seru melalui video pembelajaran di aplikasi