Author: superadmin

Kondisi Sosial Politik Indonesia Masa Jepang Dan Belanda Kondisi Sosial Politik Indonesia Masa Jepang Dan Belanda

Pergerakansosialis.com – Sebelum Indonesia merdeka masyarakat Indonesia belum mengenal ajaran agam Islam seperti saat ini, karena rakyatnya dikuasai oleh negara lain. Pada masa penjajahan Jepang keadaan bangsa Indonesia mulai berubah karena kedatangan Jepang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat Indonesia. Jepang memberi kesempatan sebagan rakyat Indonesia untuk sekolah sehingga sedikit banyak rakyat Indonesia mulai berusaha untuk mewujudkan cita-cita Indonesia untuk merdeka secara mutlak tanpa bantuan dari Jepang. Namun, untuk mewujudkan cita-cita tersebut tidak semudah membalikkan tangan. Banyak halangan yang harus dilewati, terutama dalam peyebaran agama Islam. Untuk itu pemakalah memaparkan bagaimana peradaban Islam pada masa penjajahan Jepang. 1. Bagaimana Kondisi Sosial Politik Keagamaan Masyarakat Pada Masa Penjajahan Belanda dan Jepang? 3. Bagaimana Usaha-Usaha Tokoh Islam Membangun Peradaban Islam di Indonesia Masa Penjajahan? 1. Untuk mengetahui Kondisi Sosial Politik Keagamaan Masyarakat Pada Masa Penjajahan Belanda dan Jepang. 3. Untuk mengetahui Usaha-Usaha Tokoh Islam Membangun Peradaban Islam di Indonesia Masa Penjajahan. Pada masa kedudukan Jepang ajaran yang marak yaitu Shinthoisme tentang Hakko Ichiu yang berarti kesatuan keluarga umat manusia. Ajaran tersebut memotivasi bangsa dan pemerintah Jepang untuk membangun masyarakat di bawah kendali Jepang.

Semangat tersebut diaktualisasikan dalam bentuk imperialisme dan ekspansi. Pada tanggal 8 Maret 1942 panglima tentara Hindia Belanda menandatangani piagam penyerahan tanpa syarat di Kalijati kepada angkatan perang Jepang di bawah pimpinan Letjen Hitoshi Imamura. Sejak saat itu Indonesia resmi berada di bawah kekuasaan Jepang dan Belanda kehilangan atas hak Indonesia. Kebijakan pertama Jepang pada Indonesia diberlakukan Dai Nippon yaitu melarang semua rapat dan kegiatan politik. Pada tanggal 20 Maret 1942, dikeluarkan peraturan yang membubarkan semua organisasi politik dan semua bentuk perkumpulan. Pada tanggal 8 September 1942 dikeluarkan UU no. 2 Jepang mengendalikan seluruh organisasi nasional. Keluarnya UU tersebut menjadikan organisasi nasional saat itu sedang giat-giatnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia harus dilumpuhkan. Dalam rangka menancapkan kekuasaan di Indonesia, pemerintah militer Jepang melancarkan strategi politisnya dengan membentuk gerakan tiga A. Gerakan ini merupakan upaya untuk merekrut dan mengerahkan tenaga rakyat yang dimanfaatkan dalam perang Asia Timur Raya. Gerakan tiga A dalam realisasinya tidak mampu bertahan lama karena rakyat Indonesia tidak sanggup menghadapi kekejaman militer Jepang dan berbagai bentuk eksploitasi.

Ketidak suksesan gerakan tiga A membuat Jepang mencari bentuk lain untuk dapat menarik simpati rakyat dengan cara menawarkan kerjasama dengan para pemimpin Indonesia untuk membentuk “Putera”. Jepang berharap Putera dapat menjadi wadah untuk menggalang persatuan dan menjadi kekuatan tersembunyi. Keberhasilan organisasi Putera tidak terlepas dari kemampuan para pemimpin serta tingginya kepercayaan rakyat Indonesia pada para tokoh nasional. Langkah Jepang selanjutnya yaitu membentuk Dinas Polisi Rahasia yang disebut Kemtai yang bertugas mengawasi dan menghukum pelanggaran terhadap pemerintah Jepang Kemtai ini menyebabkan tokoh pergerakan nasional Indonesia bersikap kooperatif karena untuk menghindari kekejaman Kemtai yang sangat terkenal. Selain kebijakan politik di atas pemerintah militer Jepang juga melakukan perubahan dalam melakukan birokrasi pemerintahan diantaranya menbentuk organisasi pemerintah ditingkat pusat (Departemen) dan membentuk couw sang in (Dewan Penasehat). Berdirinya beberapa negara Islam di kepulauan Indonesia-Melayu merupakan salah satu bukti kuatnya pengaruh Islam. Selain itu, Islam berhasil mempersatukan kelompok etnis yang terdiri atas ratusan suku yang ada dikepulauan ini.

Baca Juga :Orang Konservatif Di Tengah Radikalisasi Pergerakan

Islam Indonesia telah membentuk institui politik sejak abad ke-13. Namun, institusi politik Islam di beberapa daerah tidak sama. Adab ke-16 merupakan saksi munculnya kerajaan Islam terutama di Jawa. Namun, beberapa daerah pedalaman masih bersifat Hindu-Budha. Kerajaan-kerajaan Islam pada umumnya berdiri setelah kerajaan lama bercorak Budha atau Hindu mengalami kemunduran. Wilayah kerajaan itu pada umumnya Samudra Pasai, Aceh, Malaka, Demak, dan beberapa kerajaan yanng bersifat tribal lainnya. Kota Samudera yang didirikan oleh Sultan Malik Al-Shalih sangat berpengaruh dalam islamisasi di wlayah sekitarnya seperti Malaka, Pidie, dan Aceh. Kerajaan Samudera Pasai mulai berkembang sebagai pusat pedagangan dan pusat perkembangan Islam di Selat Malaka sejak akhir abad 13-16. Sebagai pusat perdagangan, kerajaan Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas beridentitas ketuhanan yang dinamakan dirham yang sistem penempaannya berpengaruh didunia Melayu. Mata uang tersebut sampai sekarang dianggap sebagai mata uang emas tertua yang pernah dikeluarkan oleh sebuah kerajaan Islam di Asia Tenggara. Samudera Pasai merupakan bagian dari wilayah kerajaan Aceh.

Orang Konservatif Di Tengah Radikalisasi Pergerakan Orang Konservatif Di Tengah Radikalisasi Pergerakan

Pergerakansosialis.com – Ayahnya bernama Raden Soewadji, seorang wedana. Dengan kepala keluarga bekerja sebagai birokrat kolonial, sudah barang tentu keluarga Raden Soewadji hidup serba cukup dan terpandang. Terbiasa hidup mewah dan dimanja kakek-neneknya, Soebroto kecil tumbuh sebagai bocah nakal. Malas belajar dan suka kelahi adalah bagian dari kesehariannya. Bukan Soebroto namanya jika tak pulang dengan wajah bengkak dan pakaian koyak. Kendati diajari tirakat dan sedikit olah batin oleh pamannya, kelakuannya tak banyak berubah. Tabiat macam itu ia bawa hingga merantau ke Batavia di umur 15. Remaja Soebroto diterima sekolah di STOVIA, sekolah elite para calon dokter Jawa. Meski begitu, Soebroto ternyata lebih gemar mengejar kesenangan hidup daripada ilmu. Untuk menunjang gaya hidupnya yang mewah, tak jarang ia terjerat utang atau membohongi keluarga agar dapat uang saku ekstra. Tapi dunia pemuda Soebroto runtuh seketika kala ayahnya meninggal secara mendadak pada Juli 1907. Secara tiba-tiba ia kehilangan penopang. Baru kali itu ia ingat posisinya sebagai putra sulung, yang artinya beban penghidupan keluarga kini berpindah ke pundaknya. Beban tersebut kian berat kala Soebroto menyadari bahwa tanpa ayahnya ia bukanlah siapa-siapa.

Dalam sebuah memoar ia menulis, “Saya merasa, bahwa orang-orang telah merobah sikapnya pada diri saya dan keluarga saya. Keterpurukan adalah awal dari perubahan besar, demikian filsuf Tiongkok kuno Lao Tze pernah berkata. Kemalangan itu mengubah jalan hidup pemuda Soebroto. Kini ia punya pandangan lebih jernih tentang karier dan masa depannya. Ia juga kian menyadari posisinya sebagai kaum terdidik di alam kolonial. Beberapa lama setelah sang ayah mangkat, Soebroto menarik diri dari pergaulan. Tapi ketika ia kembali, ia muncul sebagai pribadi yang berbeda. Permenungannya di masa-masa sulit itu tak hanya membuatnya sadar akan tanggung jawab kepada keluarga, tapi juga membawanya lebih aktif dalam urusan-urusan sosial dan politik. Hingga kemudian ia ikut dalam arus pertama pergerakan nasional, bahkan jadi salah satu pelopornya. Banyak orang tak akan mengenal Soebroto sebagai pionir pergerakan nasional. Tapi jika menyebut Soetomo, mereka pasti akan langsung mafhum. Soebroto adalah nama kecil Soetomo, inisiator di balik berdirinya Budi Utomo. Lelaki kelahiran Nganjuk, 30 Juli 1888 ini mengganti namanya jadi Soetomo saat masuk ke sekolah menengah.

Beberapa bulan setelah sang ayah meninggal, Soetomo bertemu Dokter Wahidin Soedirohoesodo di Batavia. Kala itu ia sedang berkampanye keliling untuk menggalang beasiswa bagi pelajar bumiputra. Soetomo amat tertarik dengan ide itu lantas menjajaki kemungkinan merealisasikannya. “Ia memperluas gagasannya itu dengan mencakup masalah-masalah politik dan sosial yang ia dan para mahasiswa anggap penting dalam pembangunan masyarakat. Tapi barangkali kebanyakan orang hanya mengenalnya sebatas itu, sebagaimana buku pelajaran sekolah mengabarkannya. Padahal aktivitasnya tak hanya berhenti di Budi Utomo. Namanya kemudian memang tak setenar Sukarno-Hatta-Sjahrir, tapi perannya merentang panjang. Usai lulus dari STOVIA pada 1911, Soetomo berpindah-pindah tempat dinas sebagai dokter. Pada 1919 ia dapat beasiswa untuk menempuh ujian dokter di Universitas Amsterdam. Di sana, selain kuliah, tentu saja Soetomo ikut berkegiatan di Indische Vereeniging. Di antara para mahasiswa Indonesia di Belanda, Soetomo dianggap senior dan dihormati. Usai menempuh pendidikan spesialis penyakit kulit di Jerman, Dokter Soetomo mudik ke Indonesia pada 1923. Ia kini menetap di Surabaya dan berdinas lagi di Rumah Sakit Simpang. Suratmin dalam biografi Dr.

Soetomo (1982) menyebut sang dokter juga bertugas sebagai pengajar di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Saat ia kembali, pergerakan nasional sudah makin semarak. Selain Budi Utomo, kini telah berdiri pula Sarekat Islam dan PKI. Tapi ia tak lantas bergabung dengan salah satu dari ketiganya. Ia tak sreg dengan SI dan PKI yang dikotomis dan cenderung radikal, sementara Budi Utomo dirasanya semakin kolot. Pada 1924 ia lantas bikin sendiri gerakan yang lebih cair dan berbasis pendidikan: Indonesische Studieclub. “Persatuan ini, yang berusaha untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat Pribumi dengan memberitahukan kepada mereka tentang situasi politik dalam dan luar negeri ketika itu, merupakan persatuan pertama yang pernah didirikan di Hindia Belanda,” tulis Savitri (hlm. Kegiatan utama Indonesische Studieclub adalah diskusi politik dan pembahasan persoalan publik. Kebanyakan anggotanya adalah pelajar. Model ini lalu diikuti Sukarno di Bandung dengan Algemeene Studieclub. Setelah jalan sekira enam tahun, Soetomo mengembangkan Indonesische Studieclub jadi organisasi politik. Per 16 Oktober 1930 namanya berganti jadi Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Lalu pada akhir 1935 PBI dan Budi Utomo berfusi jadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Tak hanya berpolitik, Parindra pimpinan Soetomo juga bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi melalui bank, koperasi, dan organisasi tani.

Baca Juga : Nasionalisme – Sejarah, Tujuan, Sebab, Jenis, Upaya, Faktor

Lain itu, ia juga menginisiasi pendirian beberapa panti asuhan dan rumah sakit. “Setelah Parindra terbentuk kemudian masuk di dalamnya beberapa perkumpulan lain, ialah Sarekat Selebes, Sarekat Sumatra, Sarekat Ambon, Perkumpulan Kaum Tani dan Tirtayasa. Tentang azas Partai Indonesia Raya adalah untuk mencapai cita-cita yang terakhir mencapai Indonesia Mulia,” tulis Suratmin (hlm. Ketika organisasi lain sudah demikian berani memacak cita-cita Indonesia merdeka, cita-cita Parindra itu tentu dianggap aneh oleh aktivis pergerakan lain. Menurut Savitri, hal ini agaknya harus dikembalikan pada pribadi dan pemikiran Soetomo yang sejak awal berbeda dari aktivis pergerakan, baik seangkatannya maupun yang lebih muda dan radikal. Tak seperti Tjipto Mangoenkoesoemo atau Soewardi Soerjaningrat yang vokal, Soetomo cenderung moderat dan sangat percaya pada harmoni. Ia juga termasuk orang yang masih percaya bahwa perubahan sosial dan politik dimulai dari atas, dari para priayi seperti dirinya yang bertindak sebagai penuntun. Dalam banyak hal, Soetomo adalah seorang konservatif. Karenanya di kalangan aktivis pergerakan ia lebih dikenal sebagai “pembangun”, bukan “pendobrak” laiknya Tjipto atau Sukarno. Jadi, tak heran jika ia amat berhati-hati dalam langkah politiknya. Latar belakang macam itulah yang mendasari pemilihan diksi “Indonesia Mulia” itu. Dalam artikelnya, “Kompetisi ora Konkurensi”, yang terbit dalam bunga rampai Puspa Rinontje (1932), Soetomo menjelaskan bahwa sebenarnya kemerdekaan itu sudah tercakup dalam diksi mulia itu. Baginya, merdeka masih lah satu tahapan saja menuju cita-cita yang lebih besar. Kemerdekaan saja tak menjamin apa pun selain kebebasan.

Nasionalisme - Sejarah, Tujuan, Sebab, Jenis, Upaya, Faktor Nasionalisme - Sejarah, Tujuan, Sebab, Jenis, Upaya, Faktor

Pergerakansosialis.com – “Lahirnya Reformasi Di Indonesia“. 2.5 5. Menurut Dr. Nasionalisme adalah bentuk pengkultusan kepada suatu bangsa (tanah air) yang diaplikasikan dengan memberikan kecintaan dan kebencian kepada seseorang berdasarkan pengkultusan tersebut, ia berperang dan mengorbankan hartanya demi membela tanah air belaka ( walaupun dalam posisi salah ), yang secara otomatis akan menyebabkan lemahnya loyalitas kepada agama yang dianutnya, bahkan menjadi loyalitas tersebut bisa hilang sama sekali”. Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri,sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme. Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain. Sedangkan menurut Hans Kohn, Nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya National Counciousness. Dengan perkataan lain nasionalisme adalah formalisasi (bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri. Dan kesadaran nasional inilah yang membentuk nation dalam arti politik, yaitu negara nasional.

Nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara. Nasionalisme adalah suatu persatuan perangai atau karakter yang timbul karena perasaan senasib. Nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya National Counciousness. Dengan perkataan lain nasionalisme adalah formalisasi (bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri. Dan kesadaran nasional inilah yang membentuk nation dalam arti politik, yaitu negara nasional. Nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa. 1. Hasrat untuk mencapai kesatuan. 2. Hasrat untuk mencapai kemerdekaan. 3. Hasrat untuk mencapai keaslian. 4. Hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa. Teroganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat sehingga mereka terikat dalam suatu masyarakat hukum. Nasionalisme adalah hasil dari perpaduan faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, dan intelektual. Kebanyakan teori menyebutkan bahwa nasionalisme dan nilai-nilainya berasal dari Eropa. Sebelum abad ke-17, belum terbentuk satu negara nasional pun di Eropa. Yang ada pada periode itu adalah kekuasaan kekaisaran-kekaisaran yang meliputi wilayah yang luas, misalnya kekuasaan kekaisaran Romawi Kuno atau Kekaisaran Jerman di bawah pimpinan Karolus Agung.

Yang jelas, kekuasaan bergandengan tangan dengan gereja Katolik, sehingga masyarakat menerima dan menaati penguasa yang mereka anggap sebagai titisan Tuhan di dunia.Karena itu, kesadaran akan suatu wilayah (territory) sebagai milik suku atau etnis tertentu belum terbentuk di Eropa sebelum abad ke-17. Di awal abad ke-17 terjadi perang besar-besaran selama kurang lebih tiga puluh tahun antara suku bangsa-suku bangsa di Eropa.Misalnya, perang Perancis melawan Spanyol, Prancis melawan Belanda, Swiss melawan Jerman,dan Spanyol melawan Belanda, dan sebagainya. Untuk mengakhiri perang ini suku bangsa yang terlibat dalam perang akhirnya sepakat untuk duduk bersama dalam sebuah perjanjian yang diadakan di kota Westphalia di sebelah barat daya Jerman. Pada tahun 1648 disepakati PerjanjianWestphalia yang mengatur pembagian teritori dan daerah-daerah kekuasaan negara-negara Eropa yang umumnya masih dipertahankan sampai sekarang. Meskipun demikian, negara-bangsa(nation-states) baru lahir pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Negara bangsa adalah negara-negara yang lahir karena semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme yang pertama muncul di Eropa adalah nasionalisme romantis (romantic nationalism) yang kemudian dipercepat oleh munculnya revolusi Prancis dan penaklukan daerah-daerah selama era NapoleonBonaparte. Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai jawaban atas kolonialisme.Pengalaman penderitaan bersama sebagai kaum terjajah melahirkan semangat solidaritas sebagai satu komunitas yang mesti bangkit dan hidup menjadi bangsa merdeka.

Baca Juga : Pergerakan Nasional Terbentuknya Bangsa Indonesia

Semangat tersebut oleh para pejuang kemerdekaan dihidupi tidak hanya dalam batas waktu tertentu, tetapi terus-menerus hingga kini dan masa mendatang. Salah satu perwujudan nasionalisme adalah dibentuknya Boedi Oetomo pada tahun 1908, yang menjadi awal kebangkitan nasionalisme bangsa Indonesia oleh kaum cendekiawan. Selain berdirinya Boedi Oetomo, yang menjadi tonggak perwujudan rasa nasionalisme bangsa Indonesia adalah semangat Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme yang bertekad kuat tanpa memandang perbedaan agama, ras, etnik, atau bahasa. Masa perintis adalah masa di mana semangat kebangsaan melalui pembentukan organisasi-organisasi pergerakan mulai dirintis. Masa ini ditandai dengan munculnya pergerakan Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Hari kelahiran Budi Utomo kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Masyarakat Indonesia yang beraneka ragam, melalui Sumpah Pemuda tersebut menyatakan diri sebagai satu bangsa yang memiliki satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Melalui organisasi pergerakan, bangsa Indonesia mencoba meminta kemerdekaan dari Belanda. Organisasi-organisasi pergerakan yang tergabung dalam GAPI (Gabungan Politik Indonesia) tahun 1938 mengusulkan Indonesia bahwa bangsa kami.

Pergerakan Nasional Terbentuknya Bangsa Indonesia Pergerakan Nasional Terbentuknya Bangsa Indonesia

Pergerakansosialis.com – Perasaan akan timbulnya nasionalisme bangsa Indonesia telah tumbuh sejak lama, bukan secara tiba-tiba. Nasionalisme tersebut masih bersifat kedaerahan, belum bersifat nasional.Nasionalisme yang bersifat menyeluruh dan meliputi semua wilayah Nusantara baru muncul sekitar awal abad XX.Lahirnya nasionalisme bangsa Indonesia didorong oleh dua faktor, baik faktor intern maupun faktor ekstern. Sejarah Masa Lampau yang GemilangIndonesia sebagai bangsa telah mengalami zaman nasional pada masa kebesaran Majapahit dan Sriwijaya. Kedua kerajaan tersebut, terutama Majapahit memainkan peranan sebagai negara nasional yang wilayahnya meliputi hampir seluruh Nusantara. Penderitaan Rakyat Akibat Penjajah. Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang dan menyakitkan sejak masa Portugis. Politik devide et impera, monopoli perdagangan, sistem tanam paksa, dan kerja rodi merupakan bencana bagi rakyat Indonesia. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia. Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia Belanda tidak dapat dipisahkan dari politik etis. Ini berarti bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan (Indonesia) banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri Belanda.

Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia. Perkembangan pendidikan di Indonesia juga banyak diwarnai oleh pendidikan yang dikelola umat Islam. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Kebangsaan di Indonesia. Berkembangnya sistem pendidikan Barat melahirkan golongan terpelajar. Adanya diskriminasi dalam pendidikan kolonial dan tidak adanya kesempatan bagi penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan, mendorong kaum terpelajar untuk mendirikan sekolah untuk kaum pribumi. Peranan Bahasa Melayu. Di samping mayoritas beragama Islam, bangsa Indonesia juga memiliki bahasa pergaulan umum (Lingua Franca) yakni bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu berubah menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia. Kemenangan Jepang atas Rusia. Selama ini sudah menjadi suatu anggapan umum jika keperkasaan Eropa (bangsa kulit putih) menjadi simbol superioritas atas bangsa-bangsa lain dari kelompok kulit berwarna. Hal itu ternyata bukan suatu kenyataan sejarah. Perjalanan sejarah dunia menunjukkan bahwa ketika pada tahun 1904-1905 terjadi peperangan antara Jepang melawan Rusia. Partai Kongres India. Dalam melawan Inggris di India, kaum pergerakan nasional di India membentuk All India National Congress (Partai Kongres India), atas inisiatif seorang Inggris Allan Octavian Hume pada tahun 1885. Di bawah kepemimpinan Mahatma Gandhi, partai ini kemudian menetapkan garis perjuangan yang meliputi Swadesi, Ahimsa, Satyagraha, dan Hartal. Keempat ajaran Ghandi ini, terutama Satyagraha mengandung makna yang memberi banyak inspirasi terhadap perjuangan di Indonesia.

Filiphina dibawah Jose Rizal. Filipina merupakan jajahan Spanyol yang berlangsung sejak 1571 – 1898. Dalam perjalanan sejarah Filipina muncul sosok tokoh yang bernama Jose Rizal yang merintis pergerakan nasional dengan mendirikan Liga Filipina. Sikap patriotisme dan nasionalisme yang ditunjukkan Jose Rizal membangkitkan semangat rela berkorban dan cinta tanah air bagi para cendekiawan di Indonesia. Hal-hal yang kiranya dianggap perlu dalam mencapai sebuah tujuan adalah pergerakan nasional Indonesia dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Dalam makalah ini, penulis akan berusaha membahas atau memaparkan berbagai masalah yang berkaitan dengan pergerakan nasional Indonesia yang dimulai dengan berdirinya organisasi-organisasi hingga perjuangan organisasi tersebut dalam memperjuangkan kemerdekaan sehingga terbentuknya bangsa indonesia. Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan.Masa pergerakan nasional (1908 – 1942), dibagi dalam tiga tahap berikut. 1) Masa pembentukan (1908 – 1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij. 2) Masa radikal/nonkooperasi (1920 – 1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI). 3) Masa moderat/kooperasi (1930 – 1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.

Pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo dengan ketuanya Dr. Sutomo.Organisasi Budi Utomo artinya usaha mulia.Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah partai politik.Tujuan utamanya adalah kemajuan bagi Hindia Belanda. Hal ini terlihat dari tujuan yang hendak dicapai yaitu perbaikan pelajaran di sekolah-sekolah, mendirikan badan wakaf yang mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan belanja anak-anak bersekolah, membuka sekolah pertanian, memajukan teknik dan industri, menghidupkan kembali seni dan kebudayaan bumi putera, dan menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan dalam rangka mencapai kehidupan rakyat yang layak. Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI adalah kooperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam.Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak memiliki anggota yang cukup banyak.Oleh karena itu agar memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam).Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh beberapa tokoh SDI seperti H.O.S Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim.

Baca Juga : Latar Belakang Munculnya Pergerakan Nasional

Sarekat Islam berkembang pesat karena bermotivasi agama Islam. 3.membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera. IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung oleh tokoh Tiga Serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Pendirian IP ini dimaksudkan untuk mengganti Indische Bond yang merupakan organisasi orang-orang Indo dan Eropa di Indonesia.Hal ini disebabkan adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda totok dengan orang Belanda campuran (Indo). IP sebagai organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama orang Indo dan bumi putera. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat sedikit, maka diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat. Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan politik rasial yang dilakukan pemerintah kolonial.Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte (Prancis).

Latar Belakang Munculnya Pergerakan Nasional Latar Belakang Munculnya Pergerakan Nasional

Pergerakansosialis.com – Perjuangan yang awalnya selalu menggunakan senjata, diubah menjadi menggunakan strategi politik dan semangat kebangsaan. Liberalisme diartikan kebebasan. Perjuangan ekonomi liberal dengan mengecam pemerintah yang ikut campur tangan dalam masalah perekonomian. Ekonomi Liberal menginginkan kekuatan ekonomi dibiarkan dan berkembang secara bebas. Liberalisme juga mempengaruhi bidang politik. Dalam hal ini Liberalisme bertujuan untuk mendapatkan pengakuan adanya kebebasan yang dimiliki oleh individu. Perkembangan paham Liberalisme juga mempengaruhi bidang agama. Hal ini ditandai dengan adanya kebebasan masing-masing individu untuk memilih suatu agama tanpa paksaan atau campur tangan dri pemerintah. Nasionalisme adalah suatu paham yang dapat memberi ilham kepada sebagian penduduk untuk bersatu dan dengan rasa kesetiaan yang mendalam megabdi kepentinganbangsa dan negara. Nasionalisme dapat terbentuk karena adanya perasaan senasib, persamaan budaya, persamaan karakter, dan persamaan keinginan untuk hidip bersama dalam suatu kelompok. Nasionalisme lahir di Inggris pada mulanya merupakan sikap bersatu untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya agar jangan sampai melepaskan diri. Nasionalisme Jerman pada awalnya muncul untuk melepaskan diri dari kekuasaan Austria.

Sosialisme muncul akibat adanya perkembangan industrialisasi yang ada di Eropa. Industrialisasi merupakan dampak dari adanya kebebasan individu dalam bidang ekonomi yang akhirnya melahirkan golongan kapitalisme atau pemilik modal. Golongan kapitalis menjadi golongan yang menguasai bidang perekonomian dan mengadakan penindasan terhadap golongan buruh. Dalam masyarakat berkembang adanya suatu kelompok yang mementingkan kedudukan dan status golongan buruh. Inilah yang disebut golongan sosialis. Adalah suatu sistem pemerintahan yang berasal dari rakyat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Paham demokrasi pertama kali dilaksanakan di Yunani yaitu Polis Athena yang berupa demokrasi langsung. Kekuasaan raja-raja di Eropa yang sifatnya absolut mulai ditumbangkan dan ditentang oleh rakyat sehingga memunculkan pemerintahan yang demokratis. Paham demokrasi pada intinya membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengakuan hak asasi manusia.  Demokrasi parlementer yang menempatkan kedudukan parlemen (badan legislatif) lebih tinggi dari pada badan eksekutif.  Demokrasi sistem pemisahan kekuasaan, dalam sistem ini kekuasaan legislatif dipegang oleh konggres, kekuasaan eksekutif dipegang oleh presiden, sedangkan kekuasaan yudikatif dipegang oleh Mahkamah Agung. Sistem seperti ini dianut oleh negara Amerika Serikat.  Sistem demokrasi melalui referendum, dalam sistem ini setiap negara bagian memiliki lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Sistem ini rakyat berperan sebagai badan pengawas melalui sistem referendum. Contoh negara yang melaksanakan sistem ini ialah Swiss. B. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DAN AWAL MUNCULNYA KESADARAN NASIONALISME DI INDONESIA. Pada akhir abad ke 19 sistem pendidikan yang berkembang di indonesia semakin banyak. Sistem pendidikan ini diselenggarakan oleh kelompok agama ataupun oleh poemerintah kolonial Belanda. Sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh kelompok agama lebih menitikberatkan pada pendidikan agama. Sementara pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda menekankan sistem pendidikan barat yang memiliki kurikulum yang jelas. Pendidikan yang diselenggarakan oleh Belanda pada awalnya hanyalah sebagai usaha Belanda untuk memenuhi tenaga kerja yang bisa mebaca dan menulis, yang nantinya akan disalurkan pada perkebunan-perkebunan atau kantor-kantor milik Belanda. Belanda menggunakan sistem deskriminatif, anak-anak bumi putera, sekolah yang dimasuki ialah sekolah khusus yang menggunakan kurikulum yang berbeda dengan anak-anak Eropa.Anak-anak yang boleh memasuki sekolah Eropa hanyalah anak-anak keturunan bangsawan atau yang orang tuanya bekerja di pmerintahan Belanda.

Perkembangan pendidikan yang ada di Indonesia ternyata dalam jangka waktu yang panjang dapat mengubah kedudukan sosial di masyarakat dan melahirkan satu golongan baru dalam masyarakat yaitu golongan cendekiawan. Golongan inilah yang nantinya mengadakan perubahan mengenai sistem perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. 1. Perjuangan bangsa Indonesia mulai menonjolkan persatuan. 2. Perjuangan tidk menggunakan senjata tradisional, melainkan menggunakan organisasi modern. 3. Pemimpin perjuangan ialah golongan cerdik pandai. Pergerakan nasional ditandai dengan munculnya perubahan perjuangan bangsa Indonesia untuk mengusir bangsa barat dari bumi nusantara. Budi Utomo didirikan oleh pelajar STOVIA di bawah pimpinan dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Organisasi ini merupakan organisasi pergerakan nasional pertama sehingga tanggal itu ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tujuan Budi Utomo ialah untuk mencapai kemajuan yang harmonis bagi nusa dan bangsa. Memajukan pertanian, peternakan,dan perdagangan. Perkembangannya Budi Utomo tidak lagi bersifat lokal tetapi nasional. Sarekat Dagang Islam (1911) didirikan oleh seorang saudagar kaya raya H. Samanhudi di Laweyan (Surakarta). Latar belakang didirikannya SDI adalah terjadinya persaingan perdagangan antara pedagang pribumi dan pedagang asing, terutama yang berasal dari Cina atau Tionghoa.

Baca Juga : Makalah Perubahan Sosial

Pada masa HOS Tjokroaminoto, Sarekat Dagang Islam namanya diubah menjadi Sarekat Islam (SI), tahun 1912, pusat kedudukannya di Surabaya. Memajukan kepentingan rohani dn jasmani penduduk asli. Belanda khawatir SI akan menjadi besar sehingga Belanda mengadakan devide et impera antar anggota SI dengan cara menyusupkan idiologi komunis sehingga SI pecah menjadi SI Putih berhaluan Islam dan SI Merah berhaluan komunis. SI yang mendapat pengaruh komunis ialah SI cabang Semarang pimpinan Semaun. Dalam perkembangannya SI Putih menjadi Partsi Sarekat Islam dan SI Merah menjadi Partai Komunis Indonesia. Organisasi ini didirikan oleh Tiga Serangkai yang terdiri dari Suwardi Suryaningrat/Ki Hajar Dewantoro, dr. Cipto Mangunkusumo, dan dr.EFE Douwes Dekker/Danur Dirjo Setiabudi, pada tahun 1912. Anggotanya terbuak untuk semua lapisan masyarakat. Cita-cita perjuangan IP disebarluaskan melalui surat kabar De Express. Karena IP merupakan partai yang tegas dan menyatakan ingin memerdekakan Indonesia, maka Belanda melarang IP beroperasi. Walaupun demikian tokoh-tokoh IP tetap berjuang seperti Ki Hajar Dewantoro yang mengkritik Belanda dengan tulisannya berjudul Seandainya Saya Seorang Belanda. Organisasi ini didirikan oleh K.H.Ahmad dahlan pada tahun 1912 di Yogyakarta.

Makalah Perubahan Sosial Makalah Perubahan Sosial

Pergerakansosialis.com – Kita semua menyadari perubahan itu merupan konsekuensi dari kehidupan umat manusia yang terus menerus mendapatkan pengaruh internal maupun eksternal terhadap tata kehidupan dalam masyarakat kita. Sehingga tidak ada suatu masyarakatpun yang berhenti dari perubahan. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita melakukan rencana perubahan yang sebaik-baiknya untuk mengkondisikan masyarakat pada masa yang akan datang lebih baik dari kondisi yang sekarang. Perubahan itu sendiri akan mampu mengantarkan manusia kepada hakekat kehidupannya yang dicita-citakan yaitu tercapainya suatu suasana kehidupan yang damai, sejahtera, serasi dan dalam istilah agama disebut dengan bahagia. Perubahan diartikan sebagai suatu hal atau keadaan berubah, peralihan dan pertukaran. Dengan demikian perubahan adalah sebuah proses yang mengakibatkan keadaan sekarang berbeda dengan keadaan sebelumnya, karena mengalami perubahan atau pertukaran. William F.Ogburn memberi batasan terhadap makna perubahan social hanya pada unsure-unsur kebudayaan. Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan social adalah perubahan dalam struktur masyarakat. Misalnya dengan timbulnya organisasi buruh dalam masyarakat kapitalis, terjadi perubahan-perubahan hubungan antara buruh dan majikan, selanjutnya perubahan-perubahan organisasi ekonomi dan politik. Perubahan memiliki aspek yang luas, termasuk didalamnya yang berkaitan dengan nilai, norma, tingkah laku, organisasi social, lapisan social, kekuasaan, wewenang dan intraksi social.

Menurut Koenjaraningrat perubahan social itu sendiri mencakup nilai-nilai yang bersifat material maupun budaya tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian masayarakat adalah kelompok social yang mendiami suatu tempat. Istilah social itu sendiri dipergunakan untuk menyatakan pergaulan serta hubungan antara manusia dan kehidupannya, hal ini terjadi pada masyarakat secara teratur, sehingga cara hubungan ini mengalami perubahan dalam perjalanan masa, sehingga membawa pada perubahan masyarakat. Perubahan adalah proses social yang dialami oleh masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan system social, dimana semua tingkatan kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan system social lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola-pola kehidupan, budaya, dan system social baru. Sebagaimana telah diaungkapkan diatas perubahan itu adalah sebagai suatu hal atau keadaan berubah, peralihan dan pertukaran, maka perubahan itu sendiri terjadi membutuhkan sebuah proses sehingga akan mengakibatkan terjadinya perubahan social. Dengan demikian perubahan adalah suatu proses yang mengakibatkan keadaan sekaran berbeda dengan keadaan sebelunya. Masyarakat selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Ada yang menganggap bahwa perubahan tersebut tak ubahnya sebuah siklus yang selalu berputar dan tidak ada akhirnya. Adapula yang beranggapan bahwa suatu perubahan pasti mengacu pada kondisi yang lebih baik.

Ada pula yang beranggapab bahwa tidak mungkin terjadi perubahan jika tidak ada pemicu, seperti sebuah hubungan yang timbale balik. Teori ini menempatkan variable latar belakang sejarah dengan menekankan proses evolusi sebagai factor penting terjadinya perubahan. Perubahan sebagai siklus; Perubahan sebagai perkembangan. Perubahan sebagai siklus akan sulit diketahui ujung pangkal perubahannya. Asumsi ini memandang sejarah sebagai siklus yang tak berujung. Ibnu Khaldun adalah salah satu pendukung teori sosiohistoris, yang mengemukakan perubahan, sebagai suatu siklus yang memfokuskan pada bentuk dan tingkat pengorganisasian kelompok dengan latar social budaya yang berbeda. Model perubahan social seperti ini biasanya dianut oleh masyarakat di kawasan Timur, terutama Cina. Sementara Auguste Comte, Herbert Spencer, dan Emile Durkheim adalah penganut perspektif yang melihat perubahan sebagai perkembangan. Setiap masyarakat lambat laun pasti berubah kearah yang lebih maju, kompleks dan modern. Teori ini melihat perubahan social sebagai dinamika adaptif menuju keseimbangan baru, akibat dari perubahan lingkungan eksternal. Teori ini memadang perubahan social, sebagai akibat dari peran actor individual untuk berkereasi dan berkembang.

Dalam teori konflik dijelaskan bagaimana perubahan social biasa diakibatkan dari adanya proses social yang disosiatif dalam masyarakat. Teori konflik berbicara secara terang-terangan banyak perubahan masyarakat. Tokoh sentral konflik ini adalah Karl Marx yang mendasarkan diri pada asumsi yang mengisyaratkan adanya kontradiksi sebagai substansi segala sesuatu, baik alam maupun manusia, sekaligus fakta sentral segala sesuatu. Strauss mengatakan konflik dan kontradiksi yang merupakan proses tawar menawar antara beberapa kekuatan untuk menuju tertib social dan setiap masyarakat akan selalu mengalami proses tersebut. Jadi, agar manusia dapat bertahan dengan segalam perubahan yang terjadi baik didalam diri mereka maupun perubahan yang terjadi dilikungkungan mereka, keempat fungsi tersebut haruslah dapat dilaksanakan. Dan ini tidak hanya berlaku bagi manusia sebagai individu, tetapi juga berlaku bagi manusia sebagai kelompok social. Melakukan tindakan yang nyata baik tindakan secara individual maupun tindakan social merupakan kunci utam untuk berfungsinya keempat hal di atas. Jika keberfungsian terjadi, maka segala perubahan yang terjadi dapat dijalani sebagai hal yang wajar dan sebagai proses yang alami yang justru akan menyehatkan masyarakat manusia itu sendiri.

Baca Juga :Kebijakan Pemerintah Kolonial Terhadap Pergerakan Nasional Indonesia

Proses perubahan masyarakat pada dasarnya merupakan perubahan pola prilaku kehidupan dari seluruh norma-norma social yang baru secara seimbang, berkemajuan dan berkesinambungan. Polo-pola kehidupan masyarakat lama yang dianggap sudah usang dan tidak relevan lagi akan diganti dengan pola-pola kehidupan baru yang tidak sesuai dengan kebutuhan sekarang dan masa mendatang. Pendapat lain mengatakan bahwa perubahan itu juga terjadi dalam suatu masyarakat dapat disebabkan oleh terganggunya keseimbangan atau tidak adanya sinkronisasi, terganggunya keseimbangan ini akan mengakibatkan terjadinya ketegangan-ketegangan dalam tubuh manusia, disamping itu juga adanya ketidak puasan suatu masyarakat terhadap kondisi budaya yang ada. Disisi lain yang dominant dalam perubahan itu sendiri, tidak boleh dipungkiri karena adanya penemuan baru (invention), pertumbuhan penduduk yang semakin banyak dan kebudayaan (culture). Aspirasi seorang individu atau kelompok dalam melaksanakan perubahan social sangat dipengaruhi oleh inovasi dan adaptasi dari setiap tekhnologi yang baru muncul, atau nampak ditengah-tengah masyarakat, baik tekhnologi yang berasal dari dalam (intern) maupun luar (ekstren) negeri. Fenomena ini menggambarkan bahwa betapa pentingnya inovasi bagi kemajuan dan perubahan dalam suatu masyarakat, sehingga pada akhirnya dapat dijadikan sebagai bagian dari peradaban masyarakat. Manusia secara terus menerus berupaya untuk memodifikasi sumber daya alam dalam bentuk pemecahan maslah.

Kebijakan Pemerintah Kolonial Terhadap Pergerakan Nasional Indonesia Kebijakan Pemerintah Kolonial Terhadap Pergerakan Nasional Indonesia

Pergerakansosialis.com – Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum selama memerintah tahun 1916-1921 menerapkan sistem politik moderat. 2) Muncul pemberontakan-pemberontakan di daerah (Jambi, Pasar Rebo, Cimareme, Toli-Toli) sebagai wujud kegelisahan dan penderitaan sosial masyarakat. 3) Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum berkeinginan untuk mengadakan perbaikan dan perubahan, dengan acara membentuk komisi perubahan, yang bertugas meninjau kembali kekuasaan dewan rakyat dna struktur administrasi pemerintahan Hindia Belanda. Dengan sistem moderat ini tercipta hubungan baik antara pemerintah kolonial Belanda dengan tokoh-tokoh organisasi pergerakan atau dengan pribumi. Munculnya krisis ekonomi setelah PD I, mengharuskan gubernur Jenderal Fock yang menggantikan Van Limburg Stirum sejak tahun 1921 merubah politik kolonialnya, yakni lebih bersifat reaksioner dan keras. Hal ini menyebabkan strategi organisasi pergerakan nasional berubah ke radikal dan Non Kooperatif (sejak tahun 1922), bahkan mulai muncul pergerakan (1926) dengan wujud pemberontakan di Banten dan Sumatera Barat. Untuk mengatasi radikalisme yang semakin kuat dari peribumi, maka De Graff sebagai gubernur jenderal menggantikan Fock menerapkan politik penindasan dan bertindak secara keras terhadap para tokoh nasionalis (tindakan cenderung represif). Puncak pelaksanaan sistem reaksioner dan penindasan terjadi pada masa gubernur Jenderal De Jonge (1931-1936). Pemerintah mengeluarkan aturan larangan berkelompok dan banyak tokoh nasional ditangkap, seperti Bung Karno, Bung Hatta Dan Sutan Syahrir. Beberapa organisasi pergerakan juga dibubarkan, seperti PNI dan Partindo.

Selain itu, adanya pembatasan-pembatasan pergaulan sosial antara ras-ras. Tidak adanya kontak sosial dan adanya pemisahan-pemisahan fisik yang sangat mencolok. Masyarakat Jawa dengan keras dilarang memasuki perkumpulan-perkumpulan, lapangan-lapangan olahraga, sekolah-sekolah, tempat-tempat umum dan daerah tempat dimana kediaman bangsa Belanda. Bentuk lahiriah wilayah Indonesia pada saat ini masih menjadi bukti adanya pemisahan-pemisahan pada zaman kolonial itu. Anggota-anggota sosial yang dominan yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Eropa, di kota-kota mereka mempunyai daerah-daerah tempat tinggal yang khusus dan di bagian kota yang baik. Karena pergaulan hidup antara golongan-golongan itu tertutup, maka apabila tidak ada kontak yang perlu, golongan-golongan itu berusaha menjauhkan diri satu sama lainnya. Dapat dinyatakan lebih konkrit, mereka hidup, bekerja dan membangun pada jalan yang sama sekali berbeda, dan mereka mempunyai kepentingan-kepentingan, kemampuan-kemampuan dan ideal-ideal yang tidak sama. Hanya pada hubungan-hubungan formal, seperti hubungan majikan dengan buruh atau hubungan tuan dengan hamba, terjadilah kontak tetapi kontak yang menunjukan ketidaksamaan tersebut. Bilamana kontak sosial tidak dapat di hindari, maka jarak sosial itu diterbitkan dan di lambangi dengan berbagai macam etiket dan berbagai macam mekanisme untuk melindungi diri sendiri. Semua bentuk pemisahan yang mencolok itu di institusionalisasikan untuk mencegah kontak sosial pada tingkat – tingkatan dimana ada kesamaan sosial atau keakraban.

Dilihat dari segi ini, maka masyarakat kolonial itu sunggun -sungguh menyerupai masyarakat yang berkasta. Tahun 1930 jumlah seluruh penduduk bumiputra di Jawa hampir mendekati 41.000.000 sedangkan untuk jumlah penduduk Eropa hampir 200.000. Berarti jumlah penduduk Eropa hanya sebesar 0,5% dari penduduk bumiputra. Penduduk yang sedikit banyak boleh dikatakan penduduk kota hanya 3.500.000 atau 8,5% dari seluruh penduduk Jawa. Dari jumlah itu golonga Eropa seluruhnya berjumlah 650.000. 64,5%. dalam waktu 30 tahun jumlah mereka bertambah tiga kalilipat. Kenaikan jumlah masyarakat Eropa ini dikarenakan karena adanya perluasan aparatur pemerintah dan perusahaan-perusahaan Barat. Sesuatu hal yang menarik perhatian bahwa pada periode itu juga pendudukan dan pekerjan terbuka lebih besar bagi bangsa Indonesia. Meskipun bagsa Indonesia dapat diangkat pada fungsi-fungsi taraf menengah, tapi bagian-bagian tingginya sebagian diisi oleh orang-orang Eropa, yaitu Indo Eropa atau mereka yang di datangkan ke Jawa dari negeri Belanda. Dari sini dapat ditemukan adanya prinsip diskriminasi ras. 92,2% dari pegawai-pegawai tinggi pada dinas-dinas pemerintah adalah orang Eropa.

Baca Juga : Teori Gerakan Sosial

Pada berbagai cabang fungsi-fungsi golongan administratif golongan Eropa menjadi mayoritasnya, misalnya 77% dalam staf teknis, 83% dalam staf pengawasan, dan 67% dalam sataf keuangan. Sedangkan 6,4% bangsa Indonesia. Selain digolongkan berdasarkan kriteria diskriminasi ras, stratifikasi sosial yang terjadi dalam kalangan masyarakat kolonial ini dapat digolongkan berdasarkan tipe tempat tinggal. Tahun 1930 jumlah penghuni rumah rata-rata 4 orang bagi golongan Eropa dan 4,7 orang bagi bangsa Jawa. Dan hanya 2% dari penduduk Eropa di Jawa yang berdiam di rumah yang dibuat dari material yang tidak permanen, sedangkan untuk golongan bumiputra 40%. Jumlah rumah batu yang didiami golongan Eropa berjumlah 35.890 buah, sedangkan yang didiami golongan bumuputra berjumlah 352.353 buah. Rumah dengan gaya modern juga menjadi tanda status kehidupan yang tinggi. Lokasi rumah yang khusus, ukuran besarnya, struktur dan susunannya. Semua itu secara langsung menunjukan status pemiliknya. Rumah-rumah priyayi tinggi berukuran besar, dibuat dari batu seperti halnya rumah-rumah pegawai menengah dan pegawai tinggi sedangkan pegawai-pegawai rendahan bertempat tinggal di rumah-rumah kayu dan penduduk-penduduk desa di rumah -rumah bambu. Namun mengenai hal ini belum dapat dibuat anilisis statistik dari data sosial ekonomi mengenai unsur kebudayaan ini.

Teori Gerakan Sosial Teori Gerakan Sosial

Pergerakansosialis.com – Menurut Anthony Giddens (Putra dkk, 2006), gerakan sosial adalah suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif (collective action) di luar lingkup lembaga-lembaga yang mapan. Menurut Tarrow (1998), gerakan sosial merupakan politik perlawanan yang terjadi ketika rakyat biasa yang bergabung dengan para kelompok masyarakat yang lebih berpengaruh menggalang kekuatan untuk melawan para elit, pemegang otoritas, dan pihak-pihak lawan lainnya. Menurut Borgatta dan Marie, gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang mencoba untuk mempromosikan atau menentang perubahan di dalam masyarakat atau kelompok. Menurut Mirsel (2004), gerakan sosial adalah seperangkat keyakinan serta tindakan tak terlembaga yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan ataupun menghalangi perubahan dalam masyarakat. Gerakan perpindahan (migratory movement), yaitu arus perpindahan ke suatu tempat yang baru. Individu-individu dalam jenis gerakan ini umumnya tidak puas dengan keadaan sekarang dan bermigrasi dengan harapan memperoleh masa depan lebih baik. Gerakan ekspresif (expresive movement), yaitu tindakan penduduk untuk mengubah sikap mereka sendiri dan bukan mengubah masyarakat.

Individu-individu dalam jenis gerakan ini sebenarnya hanya merubah persepsi mereka terhadap lingkungan luar yang kurang menyenangkan dari pada mengubah kondisi luar itu sendiri. Gerakan utopia (utopian movement), yaitu gerakan yang bertujuan menciptakan lingkungan sosial ideal yang dihuni atau upaya menciptakan masyarakat sejahtera yang berskala kecil. Gerakan reformasi (reform movement), yaitu gerakan yang berupaya memperbaiki beberapa kepincangan atau aspek tertentu dalam masyarakat tanpa memperbarui secara keseluruhan. Gerakan revolusioner (revolutionary movement), yaitu gerakan sosial yang melibatkan masyarakat secara tepat dan drastis dengan tujuan mengganti sistem yang ada dengan sistem baru. Gerakan regresif (reaksioner), yaitu gerakan yang berusaha untuk mengembalikan keadaan kepada kedudukan sebelumnya. Para individu yang bergabung dalam gerakan ini adalah orang-orang yang kecewa terhadap kecenderungan sosial yang sedang berjalan. Gerakan perlawanan (resistance movement), yaitu gerakan yang berusaha melawan perubahan sosial tertentu. Gerakan progresif (progressive movement), yaitu gerakan yang bertujuan memperbaiki masyarakat dengan cara mengadakan perubahan-perubahan positif pada lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi. Gerakan konservatif (conservative movement), yaitu gerakan yang berusaha menjaga agar masyarakat tidak berubah. Individu-individu yang mendukung gerakan ini menganggap bahwa kedudukan masyarakat pada saat sekarang sebagai kedudukan yang paling menyenangkan.

Agregate Frame, adalah proses pengartian isu sebagai masalah sosial. Individu yang mendengar frame dari peristiwa tersebut sadar bahwa isu tersebut adalah masalah bersama yang berpengaruh di setiap individu. Consensus Frame, adalah proses definisi yang berkaitan dengan masalah sosial hanya dapat diselesaikan dengan tindakan kolektif. Hal ini mengkonstruksi perasaan dan identifikasi dari individu untuk bertindak secara kolektif. Collective Action Frame, adalah proses yang memaparkan kenapa dibutuhkan suatu tindakan kolektif, serta tindakan kolektif apa yang harus dilakukan. Tahap kegelisahan. Dalam tahap ini terjadi ketidakpuasan akibat pergolakan sistem yang kurang baik. Tahap ini bisa meluas dan berlangsung selama beberapa tahun. Tahap kegusaran. Setelah perhatian dipusatkan pada kondisi-kondisi yang menimbulkan kegelisahan, maka terhimpunlah sebuah kolektivitas. Kegelisahan yang muncul dalam kolektivitas ini digerakkan oleh para agitator atau pemimpin. Tahap formalisasi. Dalam tahap ini, tidak tampak adanya struktur formal yang terorganisir yang dilengkapi dengan hierarki petugas-petugas. Salah satu tugas penting adalah menjelaskan ideologi gerakan kepada anggota yang telah bersatu. Sebab-sebab terjadinya ketidakpuasan, rencana aksi dan sasaran-sasaran gerakan. Tahap pelembagaan. Jika gerakan tersebut berhasil menarik banyak pengikut dan dapat memenagkan dukungan publik, akhirnya akan terjadi pelembagaan. Selama tahap ini, ditetapkan suatu birokrasi dan kepemimpinan yang profesional yang disiplin mengganti figur-figur kharismatik sebelumnya. Sujatmiko, I. G. 2006. Gerakan Sosial dalam Dinamika Masyarakat. Mirsel, Robert. 2004. Teori Pergerakan Sosial: Kilasan Sejarah dan Catatan Bibliografis. Putra, Fadillah Dkk. 2006. Gerakan Sosial. Tarrow, Sidney. 1998. Power in Movement, Social Movements and Contentius Politics. Cambridge: Cambridge University Press. Syarbaini, Syahrial. 2013. Dasar-Dasar Sosiologi. Gettys, W.E. dan Dawson, Carl A. 1948. An Introduction to Sociology. New York: The Ronald Press Company.

Jadi Jong Java berusaha membina persatuan dan persaudaraan JawaRaya melalui suatu ikatan dikalangan pemuda-pemuda pelajar yang disebut Jawa Raya, yakni daerah Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok. Daerah-daerah tersebut memang meiliki kebudayaan yang sama yang disebut dengan “ HindoeJavaansch Cultuur”. Tujuan lain dibentuknya Jong Java berusaha memajukkan anggotaanggotanya serta menimbulkan rasa cinta terhadap bahasa dan kebudayaan sendiri. Kegiatan utama Jong Java adalah dibidang kebudayaan dan kesenian. Jong Java merupakan perkumpulan atau organisasi pemuda yang tidak mencampuri urusan politik dan tidak melakukan kegiatan-kegiatan atau propaganda politik. Mereka sangat hati-hati dan tidak cepat bergerak kearah politik. Namun derasnya pergerakan politik yang terjadi di Batavia tentang gerakan kebangsaan Indonesia. Maka Jong Java tidak bisa menghindari pengaruh pergerakan politik yang bergejolak itu. Tujuan ini adalah untuk mencapai Jawa-Raya, dengan memperkokoh rasa persatuan antara pemuda Jawa, SUnda, Madura, Bali, dan Lombok. Namun mengingat semakin banyak pemuda yang berminat masuk menjadi anggota, maka akhirnya Tri Koro Dharmo membuka kesempatan pemuda-pemuda dari berbagai pulau.

Baca Juga : Perjalanan TEORI SOSIAL INDONESIA

Dengan kesempatan yang diberoikan ini, banyak pemuda dari sumatera masuk menjadi anggota Tri Koro Dharmo. Walaupun hal tersebut terjadi hanya untuk sementara. Dengan berprinsip seperti itu, maka pada tanggal 12 Juni 1918, nama Tri Koro Dharmo di ubah namanya menjadi “Jong Java”. Selanjutnya diikuti oleh pemuda-pemuda dari daerah laindengan mendirikan organisasi pemuda sesuai dengan asla nama daerahnya. Jong Sumatranen Bond berdiri pada tanggal 2 Desember 1917 di Jakarta. Organisasi ini didirikan oleh para pemuda pelajar yang berasal dari Pulau Sumatera. Seperti juga Tri Koro Darmo, Jong Sumatranen Bond juga didirikan di Gedung STOVIA Jakarta. Sagimun 1989:79). Keadaan Batavia atau Jakarta sebagai pusat pendidikan, ekonomi, politik serta sosial budaya, memungkinkan organisasi-organisasi pemuda lahir dan berkembang pusat disana. Organisasi pemuda kedaerahan tersebut sangat berhati-hati dan tidak cepat bergerak kearah politik. Pergerakan untuk melawan penjajah tidak lagi berjuang secara fisik, melainkan berjuang secara moral. Jadi tidak ada lagi perang fisik melainkan berjuang melalui semangat persatuan dan kesatuan yang dapat dibina melalui pendidikan. Tujuan dari organisasi ini adalah mempererat hubungan dan persaudaraan antara pemuda-pemuda pelajar yang berasal dari pulau Sumatera.

Perjalanan TEORI SOSIAL INDONESIA Perjalanan TEORI SOSIAL INDONESIA

Pergerakansosialis.com – Suku Primitif berkembang melalui peningkatan jumlah anggotanya, perkembangan itu mencapai suatu titik di mana suatu suku terpisah menjadi beberapa suku yang secara bertahap timbul beberapa perbedaan satu sama lain. Perkembangan ini dapat terjadi, seperti pengulangan maupun terbentuk dalam proses yang lebih luas dalam penyatuan beberapa suku. Pernyatuan itu terjadi tanpa melenyapkan pembagian yang sebelumnya disebabkan oleh pemisahan. Pertumbuhan masyarakat tidak sekedar menyebabkan perbanyakan san penyatuan kelompok, tetapi juga meningkatkan kepadatan penduduk atau meningkatkan solidaritas, bahkan memajukan massa yang lebih akrab. Dalam tahapan masyarakat yang belum beradab (uncivilized) itu bersifat homogeny karena mereka terdiri dari kumpulan masnusia yang memiliki kewengan, kekuasaan dan fungsi yang relative sama, terkecuali masalah jenis kelamin. Suku nomanden memiliki ikatan karena dipersatukan oleh ketundukkan kepada pemimpin suku. Ikatan ini mengikat hingga mencapai masyarakat beradab yang cukup untuk diintegrasikan bersama “selama 1000 tahun lebih”. Jenis kelamin pria, diindentikan dengan symbol-simbol yang menuntut kekuatan fisik, seperti keprajuritan, pemburu, nelayan dan lain-lain. Kepemimpinan muncul sebagai konsekuensi munculnya keluarga yang sifatnya tidak tetqap atau nomenden. Wewenang dan kekuasaan seseorang ditentukan oleh kekuatan fisik san kecerdikan seseorang, selanjutnya kewenangan dan kekuasaan tersebut memiliki sifat yang diwariskan dalam keluarga tertentu.

Peningaktan kapasitas pun menandai proses pertumbuhan masyarakat. Organisasi-organisasi sosial yang mulanya masih samar-samar, pertumbuhannya mulai mantap secara perlahan-lahan, kemudian adat menjadi hukum, hukum menjadi semakin khusus dan institusi sosial semakin terpisah berbeda-beda. Jadi, dalam berbagai hal memenuhi formula evolusi. Perkembanngan pun ditandai oleh adanya pemisahan unsur-unsur religious dan sekuler. Begitu pun system pemerintahan bertambah kompleks, diferensiasi pun timbul dalam organisasi sosial termasuk tumbuhnya kelas kelas sosial dalam masyarakat yang ditandai oleh siuatu pembagian kerja. Teori Dramatugi dari Erving Goffman tersebut tertuang dalam bukunya yang berjudul The Presentation of Self in everyday Life (1959) dan Encounters; Two Studies of Sociology of Interaction(1961). Goffman tidak berupaya menitikberatkan pada stuktur sosial, melainkan pada interaksi tatap muka atau kehadiran bersama (Co-presence). Menurutnya interaksi tatap muka itu dibatasi (1959:15) sebagai individu yang saling memengaruhi tindakan-tindakan mereka satu sama lain ketika masing-masing berhadapan secara fisik. Dalam suatu situasi sosial, seluruh kegiatan dari partisipan tertentu disebut sebagai suatu penampilan (performance), sedangkan orang-orang lain yang terlibat di dalam situasi itu disebut sebagai pengamat atau partisipan lainnya.

Para actor adalah mereka yang melakukan tindakan-tindakan atau penampilan ritun. Yang dimaksud tindakan rutin (Routine) disini Goffman (1974:16) membatasi sebagai pola tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya, terungkap pada saat melakukan pertunjukkan dan yang juga dapat dilakukan maupun di ungkapkan dalam kesempatan lain. Individu dapat menyajikan suatu show (pertunjukan) bagi orang lain, tetapi kesan (impression) pelaku terhadap pertunjukkan tersebut dapat berbeda-beda. Seseorang dapat bertindak sangat menyakinkan atas tindakan yang diperlihatkannya, walaupun sesungguhnya perilaku sehari-harinya tidaklah mencerminkan tindakan yang demikian. Panggung depan adalah bagian penampilan individu yang secraa teratur berfungsi sebagai metode umum untuk tampil di depan public sebagai sosok ideal. Sedangkan pada panggung belakang, terdapat sejenis “masyarakat rahasia” yang tidak sepenuhnya dapat dilihat di atas permukaan (1959:105). Dalam hal ini tidak mustahil bahwa tradisi dan karakter pelaku sangat berbeda dengan apa yang dipentaskan di depan. Dengan demikian, ada kesenjangan peranan mauoun keterikatan peranan ataupun role embracement (Goffman. Lewis H.Morgan (1818-1881) adalah seorang perintis antropolog Amerika terdahulu, pada awal kariernya adalah seorang ahli hukum yang banyak melakukan penelitian suku Indian di hulu Sungai St. Lawrwnce deket kota New York. Karya terpentingnya berjudul Ancient Society (1987) yangn memuat delapan tahapan tentang evolusi kebudayaan secara universal.

Baca Juga : Organisasi Pergerakan Nasional Tujuan Dan Tokoh

Zaman Kiar Tua, merupakan zaman sejak adanya manusia sampai manemukan api, kemudian manusia menemukan kepandaian meramu dan mencari akar-akar tumbuhan liar. Zaman Liar Madya, merupakan zaman di mana manusia menemukan senjata busur dan panah. Pada zaman ini pula manusia mulai mengubah mata pencahariannya dari meramu menjadi pencari ikan di sungai-sungai sebagai pemburu. Zaman Liar Muda, pada zaman ini manusia dari persenjataan busur dan panah sampai mendapatkan barang-barang tembikar, namun kehidupannya masih berburu. 2. Teori Evolusi Keluarga J.J. J.J. Bachoven adalah seorang ahli hukum Jerman yang banyak mempelajari etnografi berbagai bangsa (Yunani, Romawi, Indian termasuk juga Asia Afrika). Tahap Promiskuitas, manusia hidup serupa binatang berkelompok, laki laki dan perempuan berhubungan dengan bebas dan melahirkan keturunannya tanpa ikatan. Kelompok-kelompok keluarga inti belum ada pada waktu itu. Keadaan tersebut merupakan tingkat pertama dalam proses perkembangan masyarakat manusia. Lambat laun manusia sadar akan hubungan anatar ibu dengan anaknya sebagai suatu kelompok keluarga inti dalam masyarakat. Oleh karena itu, pada masa ini anak-anak mulai mengenal ibunya, belum mengenal ayahnya. Di situlah peran ibu merangkap sebagai kepala keluarga atau rumah tangga.

Organisasi Pergerakan Nasional Tujuan Dan Tokoh Organisasi Pergerakan Nasional Tujuan Dan Tokoh

Pergerakansosialis.com – Dalam kesepakatan itu ditekankan pada upaya Perhimpunan Indonesia tetap pada garis perjuangan kebangsaan dan diharapkan PKI dengan ormas-ormasnya tidak menghalang-halangi Perhimpunan Indonesia dalam mewujudkan citacitanya. Cita-cita Perhimpunan Indonesia tertuang dalam 4 pokok ideologi dengan memerhatikan masalah sosial, ekonomi dengan menempatkan kemerdekaan sebagai tujuan politik yang dikembangkan sejak tahun 1925. Keempat pokok ideologi tersebut adalah kesatuan nasional, solidaritas, non-kooperasi, dan swadaya. Partai Komunis Indonesia (PKI) secara resmi berdiri pada tanggal 23 Mei 1920. Berdirinya PKI tidak terlepas dari ajaran Marxis yang dibawa oleh Sneevliet. Ia bersama teman-temannya seperti Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma, mendirikan Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang pada tanggal 4 Mei 1914. Tokoh-tokoh Indonesia yang bergabung dalam ISDV antara lain Darsono, Semaun, Alimin, dan lain-lain. PKI terus berupaya mendapatkan pengaruh dalam masyarakat. Salah satu upaya yang ditempuhnya adalah melakukan infiltrasi dalam tubuh Sarekat Islam. Infiltrasi dapat dengan mudah dilakukan karena ada beberapa faktor berikut. 1. Adanya kemelut dalam tubuh SI, di mana pemerintah Belanda lebih memberi pengakuan kepada cabang Sarekat Islam lokal. 2. Adanya disiplin partai dalam SI, di mana anggota SI yang merangkap anggota ISDV harus keluar dari SI.

Akibatnya SI terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih. Setelah berhasil menyusup dalam tubuh SI, jumlah anggota PKI semakin besar. PKI berkembang pesat. Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan PKI berkembang pesat. 1. Propagandanya yang sangat menarik. 2. Memiliki pemimpin yang berjiwa kerakyatan. 3. Pandai merebut massa rakyat yang tergabung dalam partai lain. 4. Sikapnya yang tegas terhadap pemerintah kolonial dan kapitalis. 5. Di kalangan rakyat terdapat harapan bahwa PKI bisa menggantikan Ratu Adil. Organisasi PKI makin kuat ketika pada bulan Februari 1923 Darsono kembali dari Moskow. Ditambah dengan tokoh-tokoh Alimin dan Musso, maka peranan politik PKI semakin luas. Pada tanggal 13 November 1926, Partai Komunis Indonesia mengadakan pemberontakan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pemberontakan ini sangat sia-sia karena massa sama sekali tidak siap di samping organisasinya masih kacau. PKI telah mengorbankan ribuan orang yang termakan hasutan untuk ikut serta dalam pemberontakan. Dampak buruk lainnya yang menimpa para pejuang pergerakan di tanah air adalah berupa pengekangan dan penindasan yang luar biasa dari pemerintah Belanda sehingga sama sekali tidak punya ruang gerak. Walaupun PKI dinyatakan sebagai partai terlarang tetapi secara ilegal mereka masih melakukan kegiatan politiknya.

Semaun, Darsono, dan Alimin meneruskan propaganda untuk tetap memperjuangkan aksi revolusioner di Indonesia. Berdirinya partai-partai dalam pergerakan nasional banyak berawal dari studie club. Salah satunya adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai Nasional Indonesia (PNI) yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak terlepas dari keberadaan Algemeene Studie Club. Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh situasi sosio politik yang kompleks. Pemberontakan PKI pada tahun 1926 membangkitkan semangat untuk menyusun kekuatan baru dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda. Rapat pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo. Pada awal berdirinya, PNI berkembang sangat pesat karena didorong oleh faktor-faktor berikut. 1. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa. 2. PKI sebagai partai massa telah dilarang. 3. Propagandanya menarik dan mempunyai orator ulung yang bernama Ir. Untuk mengobarkan semangat perjuangan nasional, Bung Karno mengeluarkan Trilogi sebagai pegangan perjuangan PNI. Trilogi tersebut mencakup kesadaran nasional, kemauan nasional, dan perbuatan nasional.

Baca Juga : Sebagai Wujud Harapan Kartini

Tujuan PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI menggunakan tiga asas yaitu self help (berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy, sikapnya terhadap pemerintah juga antipati dan nonkooperasi. Dasar perjuangannya adalah marhaenisme. Kongres Partai Nasional Indonesia yang pertama diadakan di Surabaya, tanggal 27 – 30 Mei 1928. Kongres ini menetapkan beberapa hal berikut. 2. bidang ekonomi dan sosial untuk memajukan pelajaran nasional. Menetapkan garis perjuangan yang dianut adalah nonkooperasi. Menetapkan garis politik memperbaiki keadaan politik, ekonomi dan sosial dengan kekuatan sendiri, antara lain dengan mendirikan sekolah-sekolah, poliklinik-poliklinik, bank nasional, perkumpulan koperasi, dan sebagainya. Peranan PNI dalam pergerakan nasional Indonesia sangat besar. Menyadari perlunya pernyataan segala potensi rakyat, PNI memelopori berdirinya Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI diikuti oleh PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia), Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi, Indonesische Studi Club, dan Algemeene Studie Club. Berikut ini ada dua jenis tindakan yang dilaksanakan untuk memperkokoh diri dan berpengaruh di masyarakat.

Ke dalam, mengadakan usaha-usaha dari dan untuk lingkungan sendiri seperti mengadakan kursus-kursus, mendirikan sekolah, bank dan sebagainya. Keluar, dengan memperkuat opini publik terhadap tujuan PNI antara lain melalui rapat-rapat umum dan penerbitan surat kabar Banteng Priangan di Bandung, dan Persatuan Indonesia di Jakarta. Kegiatan PNI ini cepat menarik massa dan hal ini sangat mencemaskan pemerintah kolonial Belanda. Pengawasan terhadap kegiatan politik dilakukan semakin ketat bahkan dengan tindakantindakan penggeledahan dan penangkapan. Dengan berkembangnya desas desus bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan, maka empat tokoh PNI yaitu Ir. Soekarno, R. Gatot Mangkuprojo, Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata ditangkap dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan Bandung. Dalam proses peradilan itu, Ir. Soekarno dengan kepiawaiannya melakukan pembelaan yang diberi judul “Indonesia Menggugat”. Penangkapan terhadap para tokoh pemimpin PNI merupakan pukulan berat dan menggoyahkan keberlangsungan partai. Dalam suatu kongres luar biasa yang diadakan di Jakarta pada tanggal 25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran ini menimbulkan pro dan kontra. Mr. Sartono kemudian mendirikan Partindo.