Anggota Pergerakan Sosialis

Sosialisme-di-Indonesia-Dari-Sneevliet-Hingga-Soekarno Sosialisme-di-Indonesia-Dari-Sneevliet-Hingga-Soekarno

pergerakansosialisApakah “sosialisme” masih terlalu seram di pendengaran kita? Jika iya, besar kemungkinan ungkapan “sejarah adalah milik penguasa” telah berhasil dijalankan oleh Soeharto dan tentara sejak mereka berkuasa di tahun 1966. Semua aspek dan pengaruh sosialisme di Indonesia dapat segera dibuat hilang dan terlarang, seperti juga penghilangan para pengikutnya dalam babak kelam sejarah Indonesia. Tetapi bagi yang berpikiran maju dan sadar sejarah, penting untuk membongkar kembali catatan-catatan yang telah dipalsukan demi penguasa, agar makna dari apa yang telah berlalu dapat jadi amunisi penguat untuk perjuangan rakyat Indonesia di masa depan.

Tertancapnya ideologi hingga ke akar-akarnya

sneevliet

 

 

 

Tidak ada yang lebih bertanggung jawab dalam menancapkan sosialisme di negeri Indonesia (dulu Hindia Belanda) selain sebuah organisasi kaum sosialis yang dibangun tahun 1914: ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Organisasi ini pada awalnya merupakan kumpulan dari kaum sosialis Belanda yang bekerja di Hindia-Belanda, dan dibentuk atas kegelisahan seorang sosialis Belanda yang berhadapan dengan kondisi-kondisi sosial-politik Hindia Belanda saat itu. Sneevliet namanya. Atau lengkapnya Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet. Kedatangannya ke Hindia Belanda tahun 1913 dan berkerja di Soerjabajaasch Handelsblad (sebuah surat kabar di Surabaya) telah membawanya menjadi tonggak awal dari kemunculan ide-ide Sosialisme di Indonesia. Namun sebelum memulainya, Sneevliet harus bertemu terlebih dahulu dengan sebuah perdebatan awal didalam ISDV tentang tugas kaum sosialis Belanda di Hindia-Belanda (Indonesia).

Saat itu ISDV mengerti betul bahwa penjajahan Belanda di Indonesia dalam bentuk kolonialisme (pemerintahan Hindia Belanda) merupakan bagian langsung dari cara untuk mempertahankan Kapitalisme di Eropa dan Amerika (Imperialisme). Tetapi mereka masih berbeda pandangan tentang apakah sudah saatnya untuk mempropagandakan ide-ide sosialisme dan mendorong kemerdekaan pada masyarakat Hindia Belanda. Pihak yang lebih moderat (yang di kemudian hari berpecah dengan ISDV) lebih menekankan pada tugas-tugas kajian bagi kepentingan fraksi SDAP (Partai Sosial Demokrat Belanda) di parlemen Belanda. Sneevliet akhirnya harus berkompromi, dimana selain mempropagandakan ide-ide sosialisme dan kajian-kajian bagi kepentingan SDAP, ISDV disepakati hanya berurusan dengan politik sebatas apa yang tidak dilarang oleh peraturan kolonial.

Namun demikian, dalam deklarasi prinsip nya ISDV telah memasukkan prinsip “perjuangan kelas” dan makna kemerdekaan dalam tujuan organisasinya, berbeda dari organisasi-organisasi pergerakan sebelumnya yang lebih menekankan segi kebangsaan (seperti Boedi Oetomo atau Indische Partij) atau keagamaan (seperti Serikat Islam):

“persatuan sosial demokrat Hindia Belanda memiliki tujuan bagi pengorganisasian pendudukan Hindia, terutama kaum proletar dan kaum petani tanpa memandang ras dan agama, untuk membentuk suatu partai politik independen yang akan memimpin perjuangan kelas melawan penguasa kelas kapitalis asing di tanah air, dengan demikian melakukan satu-satunya perjuangan yang mungkin mencapai pembebasan nasional. Gerakan ini memberikan segala dukungan yang mungkin pada setiap gerakan ekonomi dan politik rakyat sejauh gerakan itu memperkuat kedudukan pendudukan melawan kelas penguasa” [huruf tebal dari penulis]

ISDV kemudian mulai mengeluarkan pandangan-pandangan sosialisnya dalam terbitan “Het Vrije Woord“ (Suara Kemerdekaan) pada tahun 1915. Walau masih menggunakan bahasa Belanda, tulisan-tulisan dalam terbitan ini ternyata ikut mempopulerkan ISDV dan gagasan Sosialisme di kalangan pemimpin pergerakan rakyat Hindia Belanda ketika itu. Pada 1917 ISDV meluaskan pandangannya dengan penerbitan berbahasa Melayu/Indonesia, “Soeara Merdeka”.

Namun terbitan yang cukup menuai popularitas itu ternyata terasa masih kurang disaat ISDV belum berhasil melahirkan sebuah gerakan berbasis massa yang menjadi syarat dari kemerdekaan rakyat. Saat itu faksi Snevliet yang lebih menekankan sisi agitasi-propaganda dan aksi di ISDV memulai propagandanya menentang pemerintah (salah satunya dalam menentang kriminalisasi terhadap jurnalis Indonesia – Marco Kartodikromo – dan menolak rencana milisi bumi putera menghadapi Perang Dunia I). Faksi Sneevliet juga mulai mempengaruhi organisasi-organisasi massa besar seperti insulinde dan Serikat Islam. Usaha ini dilakukan karena ISDV membutuhkan pengikut sosialis dari kalangan pribumi untuk tampil memimpin dan mengorganisasikan perjuangan rakyat, sebagai suatu hal yang sulit dilakukan oleh kaum sosialis berkebangsaan Belanda. Hingga akhirnya Serikat Islam terbukti menjadi tempat yang subur bagi pertumbuhan pemikiran sosialis di kalangan pribumi, dan menjadikan gerakan berbasis massa yang diharapkan Sneevliet mendapatkan sejarahnya di Indonesia.

Serikat Islam sendiri pada awalnya merupakan organisasi para pedagang pribumi yang ingin menghempang dominasi pedagang-pedagang dari timur asing dan eropa. Tidak ada niat apapun untuk menghentikan pemerintahan kolonial Belanda selain hanya meminta sedikit ruang hidup dalam perdagangan. Namun kepopulerannya lewat simbol islam (yang menjadi salah satu identitas pribumi saat itu) membuat penduduk pribumi yang berasal dari ‘kelas bawah’ sering menjadikannya simbol perlawanan dan (karena pembukaan keanggotaan SI secara luas) akhirnya membuat rakyat berkumpul didalamnya. Semaun, Darsono maupun Alimin (yang kemudian menjadi kaum sosialis) pertama kali dilahirkan dari organisasi ini.

Sedangkan, disaat pandangan-pandangan sosialis telah mengalir deras dan meraih kepopuleran dalam tubuh SI khususnya cabang Semarang, dan setelah peristiwa revolusi Rusia 1917 yang tersiar ke pelosok dunia, tokoh-tokoh pergerakan Indonesia dari yang berpandangan nasionalis sampai islam, dari Tjokroaminoto sampai Soekarno, mulai ikut gandrung untuk mempelajari karya-karya Marx dan Engels, khususnya yang berjudul Das Capital (Modal). Dan saat itu dapat dikatakan, tidak ada pemimpin pergerakan yang menolak tujuan-tujuan sosialisme secara umum (yang dianggap sebagai tujuan persamaan antara sesama manusia tanpa penindasan).

Jatuh-bangun, perpecahan dan persebaran

PKI

 

 

 

Pengusungan prinsip dan tujuan sosialisme kedalam sebuah partai politik akhirnya terjadi pada tahun 1920, yaitu hasil dari perubahan ISDV sendiri menjadi Partai Komunis Indonesia. Dalam komposisi ISDV yang sudah banyak memiliki anggota dari kaum buruh dan pribumi, momentum pendirian partai bernama komunis didorong oleh dua hal. Pertama, terbentuknya Internasional Komunis pada 1919, yang sekaligus mematenkan nama ‘komunis’ secara internasional untuk membedakan diri dari sosial-demokrat secara internasional yang berkhianat pada perjuangan kelas—lalu menggusarkan pemimpin ISDV atas nama ‘sosial-demokrasi’ yang disandangnya. Kedua, faksi yang lebih moderat dalam ISDV kemudian membentuk organ terpisah yang bernama ISDP—sehingga ikut melahirkan masalah kemiripan penyebutan ‘v’ dengan ‘p’ di kalangan pribumi. PKI akhirnya bergabung dengan Komunis Internasional (Komintern).

Namun permasalahan prinsip dan karakter Internasional yang menjadi salah satu prinsip sosialisme akhirnya menuai pertentangan tajam dikalanga

n yang mengakui tujuan-tujuan sosialisme, baik yang berada didalam PKI maupun yang kemudian tumbuh diluar PKI (semisal yang berada didalam PSI, PNI, PARI, maupun Murba). Kelompok-kelompok yang tumbuh diluar PKI merasa ada ‘jalan lain’ diluar dari apa yang dikatakan Marx dan diluar dari apa yang terjadi di Rusia pada tahun 1917; yang ‘lebih berkarakter Indonesia’ dalam bentuk-bentuk “sosialisme islam/religius”, “marhaenisme”, ataupun “sosialisme-demokrasi/kerakyatan” yang menolak prinsip perjuangan kelas dan internasionalisme.

Sedangkan didalam PKI sendiri kebijakan Komintern saat itu untuk bekerjasama dengan kalangan nasionalis revolusioner atau borjuis-demokratik (demi kemerdekaan nasional) juga sempat membuat kegagapan. Sebagian besar pemimpin meyakini dukungan terhadap nasionalisme (yang dibawa oleh kelas pedagang) sama saja membiarkan perjuangan kelas berada dibawah perjuangan nasional dan ikut menyudutkan kaum sosialis berkebangsaan Belanda. Mereka meyakini bahwa hanya perjuangan kelas (kaum proletariat dan kaum tani) yang mampu menjadi dasar dari pembebasan/kemerdekaan nasional yang sejati.

Pertentangan-pertentangan lain antara Komintern dengan sebagian pemimpin PKI juga terjadi pada soal keterlibatan didalam Volksraad (semacam Dewan Perwakilan Rakyat) ataupun kerjasama dengan Pan-Islamisme. Ketegangan ini diperparah dengan terlambatnya resolusi khusus Komintern pada persoalan-persoalan di Asia khususnya Indonesia (yang menurut sebagian pemimpin PKI berbeda dengan India maupun Mesir), dan membuat beberapa pemimpin PKI beberapa kali menghiraukan kebijakan Komintern. Demikian pula Komintern sempat menuding PKI sedang bergerak ke ‘ekstrem kiri.’

Baca Juga : Pers Berperan dalam Pergerakan Nasional Indonesia

Tetapi, periode pembangunan perlawanan rakyat (1920-1926) melalui metode aksi massa dan mogok kerja yang dipimpin oleh PKI dan SI ketika itu telah membuat pengaktifan perlawanan massa rakyat mulai sampai pada usaha-usaha (politik) penumbangan pemerintah kolonial. Dan ditahun 1926, beberapa faksi PKI ‘dipaksa’ oleh ancaman pemerintah dan agitasi revolusioner mereka sendiri—yang membuat anggota dari kaum pribumi yang memiliki sentimen anti-kolonial yang tinggi membengkak jumlahnya—untuk melakukan pemberontakan segera. Walau berhasil dipatahkan dengan mudah dan kemudian PKI dilarang, pemberontakan ini ikut memberi inspirasi bagi pejuang-pejuang rakyat yang bertumbuhan di periode selanjutnya untuk mendorong kemerdekaan lebih serius lagi. Dikalangan PKI sendiri terjadi perpecahan besar dalam mengevaluasi peristiwa ini.

Dilarangnya PKI tidak membuat pandangan-pandangan sosialisme sama sekali hilang dari dunia pergerakan. Prinsip-prinsip kesetaraan antar bangsa, ras, agama, maupun kedudukan sosial (yang awalnya diterangi oleh Sosialisme), walau dijalankan dalam praktek politik yang berbeda-beda sekaligus membingungkan, telah juga merasuk kedalam gerakan kemerdekaan nasional hingga terwujudnya di tahun 1945. Saat itu kaum yang menamakan diri sebagai sosialis memang telah berpencar kedalam berbagai organisasi dan menerapkan strategi-taktik yang berbeda-beda pula dalam menyongsong kemerdekaan nasional.

Dengan dibukanya demokrasi setelah kemerdekaan, PKI akhirnya kembali ke permukaan dan berhasil mengkonsolidasi diri dengan cepat, sehingga pada pemilu pertama tahun 1955 mampu menjadi partai ke empat terbesar di Indonesia. Polarisasi kekuatan-kekuatan penggerak kemerdekaan yang dianggap sudah mengakar di Indonesia menggiring Soekarno pada suatu konsep aliansi 3 kekuatan besar di Indonesia: Nasionalis, Agama dan Komunis (NASAKOM). Namun kelompok-kelompok sosialis yang berseberangan dengan kebijakan Soekarno (khususnya soal perjanjian KMB) akhirnya semakin menjauhkan diri dari garis politik PKI di era Soekarno.

Setelah mendapat banyak pelajaran politik dari periode kemerdekaan (kemajuan dan kemunduran, persatuan dan perpecahan), peristiwa G30S tahun 1965 yang dituduhkan pada PKI akhirnya menutup lembar terbuka sosialisme di Indonesia. Tidak begitu jelas alasan yang dialamatkan pada PKI dalam membunuh para Jendral dan menjatuhkan Soekarno saat itu. Banyak buku dan kisah yang memberi analisa ilmiah tentang peristiwa ini. Tapi yang ironis, peristiwa lubang buaya telah dijadikan alasan bagi Soeharto untuk membubarkan PKI dan melakukan pembunuhan massal terhadap jutaan rakyat pendukung PKI (ditaksir mencapai 1,5 juta). Alasan pembantaian ini menjadi lebih jelas setelahnya, ketika Soeharto membawa kembali penjajahan baru ke Indonesia melalui kontrak dengan modal asing.

Menimang masa depan

Begitulah jalannya sejarah kita, bahwa sosialisme telah meninggalkan bekas pada jiwa perlawanan rakyat Indonesia menghadapi penindasan di lapangan apapun. Alasan yang menyebabkan mengapa pandangan sosialis sering dimusuhi oleh berbagai jenis pemerintahan dari kolonial hingga orde baru, dan yang membuatnya harus jatuh-bangun, adalah terutama karena pandangan nya yang tajam dalam melihat ‘masyarakat berkelas’ yang dipertahankan para pemilik modal. Dengan mengambil sudut pandang ‘kelas’ pada aspek perjuangannya, kaum sosialis telah membuat ‘terang’ hakikat dari penindasan yang terjadi dalam diri rakyat Indonesia. Tentu dalam serangkaian ketajaman, sosialisme tetap tidak dapat dijalankan tanpa merebut kekuasaan (politik), hal yang akhirnya menuai banyak perpecahan juga dalam memandang cara-caranya (strategi-taktik politik).

Sejalan dengan ketajamannya, kaum sosialis telah dipupuk untuk menjadi pejuang yang paling militan di setiap arena perlawanan dalam sejarah. Snevliet sampai harus meninggalkan pekerjaannya yang bergaji tinggi untuk turut dalam pembangunan sosialisme di Indonesia. Tan Malaka sampai harus masuk penjara berkali-kali. Sedangkan Semaun, Darsono, Alimin, Pramudya Ananta Toer dan beribu-ribu pejuang lainnya harus melewati penangkapan, pembuangan dan pengasingan untuk mewujudkan kemerdekaan dan pembebasan rakyat.

Sebagai dasar negara, Pancasila yang diilhami oleh Soekarno juga tidak dapat ditolak telah mendapat pengaruh dari pandangan-pandangan sosialis. Soekarno bahkan sudah mengatakan dengan tegas bahwa arah dari kemerdekaan Indonesia adalah sosialisme. Selain butir kelima yang sedikit-banyak mencerminkan ke”sama-rata”an, butir kedua (kemanusiaan yang adil dan beradab) juga telah mendekati karakter internasional yang sebelumnya tidak dikenal dalam Budi Utomo, Indische Partij, Serikat Islam, maupun PNI.

Memang, berbagai pelajaran dan peraturan sedang terus dikeluarkan pemerintah untuk menghempang pandangan dan gerakan sosialis, termasuk dengan menutupi sejarah peran kaum sosialis dalam kemerdekaan. Namun, ideologi sosialisme telah terlanjur menyatu dengan jiwa perlawanan rakyat Indonesia yang kokoh, sehingga semakin memperjelas kepentingan apa yang berada dibalik kekuasaan pemerintah yang melarangnya, yaitu modal.

Saat ini, pemikiran sosialis ditantang untuk terus menajamkan pandangan berikut strategi-taktik politiknya. Laju krisis kapitalisme yang bertubi-tubi dan menimbulkan pergolakan rakyat di seluruh dunia beserta bukti terus-menerus pemerintahan yang berpihak pada kaum modal telah menjadi ‘pintu lebar’ dari gagasan sosialisme untuk menjelaskan pada rakyat Indonesia dan mendaratkan cita-citanya: Pemerintahan rakyat, Kesejahteraan rakyat, dan Kepemilikan sosial/kolektif atas alat produksi.

Pers-Berperan-dalam-Pergerakan-Nasional-Indonesia Pers-Berperan-dalam-Pergerakan-Nasional-Indonesia

pergerakansosialis –  Surat kabar yang oleh sebagian ahli diidentifikasi sebagai surat kabar pertama yang dimiliki dan dierbitkan oleh bangsa Indonesia adalah Medan Priyayi yang diterbitkan oleh R.M. Tirtoadisuryo tahun 1907.3) Dan pendiri Medan Priyayi dianggap dianggap sebagai wartawan pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat untuk membentuk pendapat umum. Seiring dengan meningkatnya kesadaran kebangsaan yang aktualisasinya nampak dari semakin banyaknya organisasi pergerakan, maka pers nasional juga semakin menempatkan kedudukannya sebagai alat perjuangan pergerakan. Biasanya tokoh pergerakan terlibat dalam kegiatan jurnalistik, bahkan banyak di antaranya yang memulai aktivitasnya melalui profesi jurnalis.4)

Hampir semua organisasi pergerakan pada masa itu memiliki dan menggunakan surat kabar atau majalah untuk menyuarakan ide-ide dan aspirasi perjuangannya. Bung Karno ketika memberikan kata sambutan pada hari ulang tahun koran “Sipatahoenan” yang ke-10 di tahun 1933, mengatakan bahwa tiada perjuangan kemerdekaan secara modern yang tidak perlu memakai penyuluhan, propaganda dan agitasi dengan pers.5) Pengakuan semacam ini diungkap pula oleh Muhammad Hatta sewaktu membina koran PNI Baru, “Daulat Rakjat”, yakni:
Memang majalah gunanya untuk menambah pengetahuan, menambah pengertian dan menambah keinsyafan. Dan bertambah insyaf kaum pergerakan akan kewajiban dan makna bergerak, bertambah tahu kita mencari jalan bergerak. Sebab itu majalah menjadi pemimpin pada tempatnya. Dan anggauta-anggauta pergerakan yang mau memenuhi kewajibannya dalam perjuangan tidak dapat terpisah dari majalahnya.6)

Pengakuan yang diungkapkan oleh kedua kampiun pergerakan tersebut memberi gambaran akan pentingnya peranan pers dalam perjuangan pergerakan nasional.
Budi Utomo pada awal pertumbuhannya telah mengambil alih Dharmo Kondo, majalah yang sebelumnya dimiliki dan diterbitkan oleh orang Cina.7) Setelah mengalami masa pasang surut dalam perkembangannya, harian Dharmo Kondo berubah nama menjadi Pewarta Oemoem, dan menjadi pembawa suara Partai Indonesia Raya (Parindra). Selain Dharmo Kondo, Budi Utomo pernah juga menerbitkan Budi Utomo (1920), Adilpalamerta (1929), dan Toentoenan Desa pada tahun 1930.8)
Sementara itu Sarekat Islam setelah mengadakan kongresnya yang pertama pada tahun 1931 di Surabaya, menerbitkan Oetoesan Hindia. SI juga menerbitkan Bendera Islam, Sarotama, Medan Moelimin, Sinar Djawa, Teradjoe.9)

Baca Juga : Sejarah Dari Pergerakan Nasional

Indische Partij di bawah pimpinan Tiga Serangkai menjadikan Het Tijdsichrift dan De Expres sebagai alat propagandanya. Melalui kedua media ini, tulisan-tulisan tokoh Indische Partij dimuat. Di antaranya yang terkenal adalah tulisan Suardi Suryaningrat yang berjudul Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda).10)
Lahirnya PKI (1920) makin menambah jumlah surat kabar partai. Pada akhir tahun 1926, tercatat lebih dari dua puluh penerbitan PKI yang tersebar di berbagai kota.
Di lain tempat, organisasi pergerakan yang ada di negeri Belanda, Perhimpunan Indonesia telah menerbitkan medianya Indonesia Merdeka yang sebelumnya bernama Hindia Putera.11) Tulisan-tulisan tokoh PI dalam majalah tersebut banyak berpengaruh terhadap perjuangan pergerakan di tanah air.
Bukan hanya organisasi politik yang menerbitkan pers, tapi organisasi kedaerahan, organisasi kepemudaan, organisasi yang bersifat sosial keagamaan turut pula menerbitkan surat kabar atau majalah. Para perkumpulan ini telah menyadari pentingnya sebuah media pers untuk menyampaikan aspirasi perjuangan.
Syamsul Basri menjelaskan peranan pers yang menentukan dalam perjuangan pergerakan nasional, yakni:

  • Menyadarkan masyarakat/bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan adalah hak yang harus diperjuangkan
  • Membangkitkan dan mengembangkan rasa percaya diri, sebagai syarat utama memperoleh kemerdekaan
  • Membangkitkan dan mengembangkan rasa persatuan
  • Membuka mata bangsa Indonesia terhadap politik dan praktek kolonial Belanda.12)

Demikianlah peranan pers nasional sebagai alat perjuangan dengan orientasinya yang mendukung perjuangan pergerakan nasional telah mengambil bagian penting dari epsidoe perjuangan dalam upaya mencapai kemerdekaan. Di samping sebagai wadah di mana ide-ide dan aspirasi organisasi disuarakan, juga telah berperan dalam menyadarkan dan membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan yang kemudian menjadi senjata ampuh melawan politik devide et impera Belanda.

Sejarah-Dari-Pergerakan-Nasional Sejarah-Dari-Pergerakan-Nasional

pergerakansosialisMasa penjajahan bangsa Eropa di Indonesia sangat menyedihkan dan menyakitkan. Bangsa Indonesia saat itu hidup bagaikan budak di negeri sendiri. Selain tenaga mereka yang diperas untuk menjadi budak, bangsa Indonesia atau pribumi diwajibkan untuk menyetor pajak atau hasil pertanian. Tidak ada akses pendidikan untuk pribumi. Bahkan, kaum pribumi tidak mendapatkan pelayanan publik yang baik. Kemiskinan merajalela dan musibah kelaparan terjadi di mana-mana.

Sayangnya, tidak ada yang berani melawan penjajah pada saat itu. Kaum pribumi takut jika melawan, mereka akan mendapat hukuman yang kejam dan mengerikan. Sehingga, penjajah semakin semena-mena terhadap kaum pribumi.

Masa penjajahan ini berlangsung sangat lama, hingga ratusan tahun. Selama berabad-abad, kaum pribumi mengalami masa-masa kelam dalam ketidak pastian. Hidup di bawah garis kemiskinan, tanpa akses pendidikan ataupun pelayanan publik yang baik. Hasil panen dan jerih payah mereka pun harus diserahkan sebagian kepada penguasa.

Ketika para penjajah ini dianggap melukai rasa keadilan, mengoyak martabat dan harga diri, serta melahirkan penderitaan, barulah muncul perlawanan. Perlawanan ini awalnya dilakukan oleh pemimpin atau tokoh yang dianggap kharismatik dan memiliki pengaruh di masyarakat. Umumnya, perlawanan ini dipimpin oleh raja, bangsawan, pemuka agama, bahkan rakyat biasa yang diyakini memiliki kesaktian atau kekuatan lebih.

Perlawanan ini bersifat kedaerahan atau lokal. Mereka hanya akan melakukan perlawanan ketika wilayah mereka diganggu. Pun, mereka tidak akan membantu wilayah lain yang bukan menjadi urusan mereka.

LAHIRNYA POLITIK ETIS

Penjajahan yang berlangsung selama berabad-abad ini ternyata mendorong seorang wartawan untuk mengkritik pemerintah Hindia Belanda. Wartawan dari koran De Locomotief bernama Pieter menullis sindiran sikap tak acuh Eropa di Hindia Belanda ketika terjadi wabah kolera yang menimbulkan banyak korban jiwa bagi masyarakat pribumi. Selain itu, C. Th. van Deventer, seorang ahli hukum Belanda mengkritik sistem tanam paksa.

Kritik ini menyatakan bahwa pemerintah Belanda memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemerintah Belanda harus membayar hutang budi dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat di negara jajahan.

Kritik-kritik ini menjadi perhatian serius oleh pemerintah kolonial Belanda dan membuat Ratu Wilhelmina memunculkan kebijakan baru bagi daerah jajahan. Kebijakan ini dikenal dengan politik etis. Kebijakan ini dituangkan dalam program Trias van Deventer. Program ini diterapkan di Indonesia pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Alexander W. F. Idenburg pada tahun 1909 sampai tahun 1916.

Ada tiga program penting dalam politik etis, yaitu irigasi, imigrasi, dan edukasi. Irigasi diperlukan untuk membangun dan memperbaiki pengairan dan bendungan untuk pertanian. Migrasi dilakukan untuk mendorong transmigrasi demi keseimbangan jumlah penduduk di berbagai kota pada masa itu. Sedangkan edukasi dilaksanakan untuk memperluas bidang pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat pribumi di Hindia Belanda.

Meski terlihat seperti sebuah rencana program yang baik, sayangnya pemerintah Hindia Belanda menjalankannya dengan semena-mena. Irigasi justru digunakan untuk mengairi perkebunan milik Belanda dan tidak menyentuh lahan pertanian masyarakat setempat. Program imigrasi dimanfaatkan untuk mengirimkan tenaga kerja murah untuk dipekerjakan di wilayah Sumatera. Sedangkan program edukasi dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang diperlukan oleh pemerintah kolonial. Program politik etis pada akhirnya tidak memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia pada saat itu.

Baca Juga : Pergerakan Sosial Di Tanah Partikelir Pamanukan Dan Ciasem 1913

TUMBUHNYA KESADARAN KEBANGSAAN

Dari tiga program Trias van Deventer, program edukasi menjadi program yang paling berpengaruh bagi masyarakat di Hindia Belanda. Adanya program edukasi ini melahirkan golongan elit baru di Indonesia yang disebut sebagai golongan priyayi.

Golongan priyayi adalah golongan yang mengenyam pendidikan di sekolah yang dibentuk oleh pemerintah kolonial. Sekolah-sekolah yang dibentuk oleh pemerintah kolonial ini menerapkan pendidikan gaya barat. Seusai sekolah, golongan priyayi tersebut banyak yang berprofesi sebagai dokter, guru, jurnalis, dan pegawai pemerintahan.

Selain profesi yang lebih menjanjikan, golongan ini memiliki pemikiran yang lebih maju serta sadar terhadap penindasan-penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Kemunculan golongan priyayi mengubah corak perjuangan masyarakat dalam melawan penindasan pemerintah kolonial, yang tadinya bersifat kedaerahan menjadi bersifat nasional. Inilah titik awal pergerakan nasional dimulai.

PERGERAKAN NASIONAL

Pergerakan nasional dipimpin oleh para kaum terpelajar. Menurut mereka, perlawanan fisik sudah tidak lagi relevan untuk melawan penindasan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, mereka membentuk organisasi-organisasi sebagai motor penggerak perlawanan.

Akhirnya, lahirlah berbagai organisasi kebangsaan untuk pertama kalinya pada kurun waktu 1908 hingga 1920. Terdapat tiga organisasi pergerakan nasional yang lahir pada periode ini, yaitu Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij. Organisasi-organisasi ini lebih mengedepankan diplomasi ketimbang kekerasan. Selain itu, mereka juga memanfaatkan media massa sebagai alat perjuangan. Munculnya organisasi-organisasi kebangsaan ini menjadi tanda dimulainya pergerakan nasional dengan visi yang jelas, yaitu Indonesia merdeka.

Perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan semakin terarah setelah berbagai organisasi ini lahir. Namun, butuh waktu yang cukup panjang hingga Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Kamu bisa membaca penjelasan yang lebih detail mengenai sejarah pergerakan nasional yang tentunya dibahas lebih lengkap dan seru melalui video pembelajaran di aplikasi

Pergerakan-Sosial-Di-Tanah-Partikelir-Pamanukan-Dan-Ciasem-1913 Pergerakan-Sosial-Di-Tanah-Partikelir-Pamanukan-Dan-Ciasem-1913

pergerakansosialisSepanjang abad ke -19 dan awal abad ke – 20 di Indonesia terus- menerus timbul pemberontakan,kerusuhan,kegaduhan,brandalan dan sebagainya.,yang semua itu cukup menggoncangkan masyarakat dan pemerintah waktu itu.Tidak dapat disangkal lagi,bahwa domonasi barat beserta perubahan-perubahan sosial yang mengikutinya telah memungkinkan rakyat untuk berkecenderungan melakukan pemberontakan sosial.Dominasi ekonomi,politik dan kultural yang terjadi pada masa kulural telah menimbulkan disorganaisasi dikalangan masyarakat tradisional beserta lembaganya.Dalam menghadapi pengaruh penetrasi budaya barat yang memiliki kekuatan disintegratif,masyarakat Indonesia memiliki cara-cara untuk membuat reaksi sendiri.Karena didalam sistem kolonial tidak ada lembaga-lembaga untuk menyalurkan perasaan tidak puas atau kekuatan oposisional,maka jalan yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan gerakan sosial sebagai protes sosial.

PEMBAHASAN

A. GERAKAN MELAWAN PEMERASAN

1. Pendahuluan

Agresi kaum petani yang timbul ditanah sepanjang abad ke-19 dan awal abad-20 merupakan suatu gejala historis dari masyarakat petani pribumi.Pada umumnya hamper semua kerusuhan-kerusuhan yang terjadi ditanah partikelir merupakan akibat dari adanya pungutan pajak yang tinggi dan tuntutan pelayanan kerja yang berat terhadap kaum petani di daerah itu.Oleh karena itu kerusuhan-kerusuhan tersebut sering disebut kerusuhan cuke, sesuai dengan nama jenis pungutan pajak di daerah itu.

Berbeda dengan gerakan sosial lainnya pergolakan ditanah partikelir itu lebih terarah secara gerakan khusus karena suatu dendam tertentu Tanah partikelir timbul sebagai akibat dari praktek penjualan tanah yang dilakukan oleh Belanda semenjak permulaan zaman VOC sampai perempat pertama abad ke-19 Pada masa Deandels dan Raffles telah diadakan perbaikan,yaitu dengan adanya larangan kepada para tuan tanah untuk menerima sepersepuluh dari hasil tanah atau memungut pengerahan tenaga kerja yang berat.Dalam peraturan pemerintah tahun 1836 ,pemerintah juga memiliki kekuasaan untuk melindungi para petani dan juga mengatur peradilan ditanah partikelir.Meskipun demikian tindakan sewenang-wenang masih saja berlaku sehingga menimbulkan keresahan dikalangan para petani dan akhirnya meletus kerusuhan-kerusuhan.
Pada tahun 1845,1886,1892 terjadilah kerusuhan yang sengit dicandi Udik,Ciomas dan Campea.

2. Gerakan di Jawa

Tanah partikelir yang terletak di lereng gunung Salak bagian utara terjual oleh Gubernur Jendral Daendels .Daerah ini memiliki sejarah pergolakan yang berulang kali dalam menentang tuan tanah.Kerusuhan di ciomas yang terjadi pada tahun 1886 merupakan suatu pertentangan antara petani,tuan tanah.dan pemerintah.Ketidakpuasan para petani mengambil mengambil pemberontakan secara langsung pada bulan februari 1886,yaitu ketika camat Ciomas yang bernama Haji Andurrakim dibunuh..Pada bulan yang sama Arpan dan kawaan-kwaannya mundur kepasir Paok,dimana mereka menolak untuk menyerah kepada militerSebulan sebelum pecahnya pemberontakan Ciomas itu Mohammad Idris yang lahir Di Ciomas melarikan diri ke gunung Salak dan hidup berpindah-pindah.Makin lama maakin banyak orang yang bergabung dengannya yaitu orang-orang yang melarikan diri dari tanah partikelir.

Mereka menyusun rencana untuk menyerang Ciomas,dan tepat pasaa hari Rabu malam 19 mei 1886,Idris dan kawan-kawannya menduduki daerah Ciomas bagian selatan.Serangan mereka ditujukkan kepad tuan tanah dan bukan kekayaaannya.Kemudian pada tanggal 20 mei di Godok diselenggarakan sedekah bumi yang diakhiri oleh semua pegawaai tuan tanah.Melihat agen-agen tuan tanah yang menjadi agen penindasannya,maka pengikut Idris dengan kemarahannya menyerang mereka dengan membabi buta .Pesta itu diakhiri dengan penyembelihan besar-besaran dengan korban 40 orang terbunuh dan 70 orang lainnya luka-luka.Gerakan petani ini menganggap bahwa yang menjadi musuhnya adalah pegawai pemerintah ,tuan tanah,pedagang-pedagang dan lintah darat.Suatu ciri yang penting dari pemberontakan Ciomas adalah adanya spontanitas waktu.

Pada tahun 1913 tampaklah gelombang kerusuhan-kerusuhan baru yang meluas berturut-turut diberbagai tanah partikelir.Di Campea terdapat huru-hara pada awal tahun itu.Suatu pergantian pemilik tanah diikuti dengan pengangkatan pegawai yang baru.Pemilik yang baru itu dengan tanpa pengetahuan yang cukup tentang keadaan setempat mencoba untuk membuat peraturan-peraturanbaru guna menjamin hak tuan tanah.Pada malam hari tanggal 14 Januari sebuah mobil dihancurkan dan beberapa ekor kuda dilukai.Pada hari berikutnya berkumpulah kira-kira dua ratus orang untuk mengadakan protes terhadap peraturan-peraturan baru.Disebutkan bahwa pertemuan-pertemuan rahasia telah diadakan di Ciomas .Berapa bulan kemudian gerakaan ini merembes ke Pemanukan dan Ciasem dimana Agitasi rakyat menentang pungutan cuke yang meningkat tinggi mendapat tempat yang lebih luas.

Pada bulan mei 1913 kurang lebih 400 orang petani beramai-ramai datang kerumah Bupati Purwakarta untuk mengajukan permintaan keringanan beban pungutan cuke.Gerakan itu tidak berhenti malahan meluas kedesa-desa tanah partikelir.Kemudian peristiwa ditanah partikelir di Surabaya pada tahun 1916 bersifat radikal atau revolusioner.Gerakan ini sifatnya berbeda dari gerakan ditanah partikelir didaerah lainnya.Pergolakan ini bertujuan untuk menghancurkan institusi tanah partikelir termasuk berbagai kewajiban yang dibebankan kepada penduduknya.Secara keseluruhan latar belakang dari agresi petani dalam hal ini sangat penting karena menunjukan gerakan petani ini telah dipengaruhi radikalisme dan gerakan nasionalisme moderen,terutama terpengaruh oleh Serikat Islam.Ciri khas lainnya adalah gerakan ini tampak bersifat sekuler yaitu tidak adanya tanda-tanda ide agama atau upacara keagamaan.
Lebih sensasional dari pemberontakan Surabaya adalah pemberontakan di Condet,sebuah desa partikelir Tanjung Oost Jawa Barat.Dengan berlakunya peraturan baru tantang tanah partikelir tahun 1912,para tuan tanah melakukan pengadilan terhadap petani-petani yang tidak membayar pajak kepadanya.

Akibatnya banyak kaum petaani yang mengalami kebangkrutan karena harta milik mereka terpaksa disita,dijual atau dibakar.Di batu Ampar penduduk memasuki perkumpulan beladiri yang bermaksud untuk digunakan dalam melakukan pencegahan terhadap pegawai-pegawai pemerintah yang akan melaksanakan keputusan-keputusan peradilan distrik.Kemudian di Tangerang terdapat peeistiwa kerusuhan pada tahun 1924.Dalam penggarapan tanah para petani tangerang harus menyerahkan seperlima dari hasil panaen kepada tuan tanahnya.

Selain itu terdapat kompenian rakyat yang digunakan di perusahaan pembuatan genting.Beberapa hari sebelum meletusnya pemberontakan,kaum pemberontak mengadakan pertemuan-pertemuan dan perjalanan ketempat-tempat keramat di Manggadua dan Perungkured ,Rakhmat dari orang-orang keramat disana diharapkan untuk menjamin berhasilnya usaha dalam merebut kembali negeri pulo jawa .Pada tanggal 19 Februari,Kaiin salah seorang tokoh pemimpin pemberontakan di Tangerang,ia memimpin pengikut-pengikutnya menuju tempat tuan tanah di pangkalan dan menyerang penghuninya serta harta miliknya.Kantor tuan tanah Kampong Melayu dirobohkan dan buku-buku dibakar.

Kemudian gerombolan itu menuju rumah assisten Wedana Teluknaga untuk memberitahukan bahwa mereka akan datang ke Jakarta untuk menghancurkannya.Tak lama kemudian polisi digerakkan ke Teluknaga kemudian pada siang harinya gerombolan bergerak kea rah Jakarta .Perjalanan ini berakhir sampai ke Tanah Tinggi dimana mereka dihujani tembakan sehingga 19 pemberontak tewas dan 20 lainnya tertangkap.Kemudian gerakan di Demak pada tahun 1918 dan 1935 tampak adanya tingkatan modernitas yang lebih luas tingkatannya.Gerakan dimulai dengan diadakannya serentetan rapat dicabang-cabang Serikat islam,yang dirumuskan sebagai berikut :

  • Penghapusan pajak kepala (sebagai ganti kerja paksa )
  • Penghapusan lumbung desa dan pembagian padi kepada orang kecil
  • Pengembalian tanah sawah komunal kepada orang kecil
  • Pembelian tanah partikelir oleh pemerintah secepat mungkin .Bila tuntutan ini tidak dipenuhi rakyat akan memberontak.

Kerusuhan lain ialahperistiwa Genuk pda tahun 1935 di daerah Demak .Timbulnya pemberontakan ini terjadi dikalangan para kusir gerobag yang menolak untuk membayar pajak kepada pemerintah kotapaja Semarang.Mereka sebenarnya menolak pajak dua kali yaitu ke kabupaten Demak dan semarang.Kerusuhan di Genuk ini diorganisasi oleh Sukaemi daan Raden Akhmad yang menjadi anggota serekat kusir Indonesia .Gerakan ini juga terdapat unsur-unsur agama .Dari kerusuhan-kerusuhan tersebut maka jelaslah bahwa rakyat masuk dalam arus pemberontakan karena mereka menginginkan berakhirnya kebobrokan ekonomi.

B. GERAKAN RATU ADIL

• Pendahuluan

Secara singkat gerakan ini menghendaki munculnya suatu millennium yaitu harapan terhadap datangnya jaman keemasan yang tidak mengenal penderitaan rakyat dan semua ketegangan serta ketidakadilan telah lenyap.Dalam segi-segi keagamaan gerakan ini selalu menyertakan unsur-unsur nativistis ialah kehidupan kembali mitos-mitos lama atau suatu kerinduan terhadap kembalinya jaman keemasan pada masa lampau.Tujuan pokok dari gerakan ini adalah merubah kehidupan pro-fan dari masyarakat secara mutlak dan radikal,tanpa mengarahkan ke tujuan-tujuan dunia belaka.

Untuk memahami sifat khas daripada gerakan mesianistis di Jawa perlu kiranya diketahui lebih dahulu tentang latar belakang budaya tempat gerakan itu terbentuk.Praktek-praktek islam yang umum dipedesaan jawa selalu dipenuhi dengan unsur-unsur non-islam seperti misti,kekuatan magis, dan pola adat kebiasaan lama yang diserap tetapi semua unsur ini memperlemah sifat keagamaannya.Pesantren dan tarekat mempunyai peranan penting dalam perkembangan gerakan mesianistis.Keduanya memberikan dasar organisasi yang kuat bagi pergerakan social dan memberikan kekuatan yang pokok dalam melakukan tindakan-tindakan politik.Pesantren bukan hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama tetapi juga sebagai tempat penanaman kader-kader pemimpin agama.

Faktor penting yang berlaku umum disebagian besar gerakan mesianistis ialah bahwa gerakan itu tersusun dari kelompok-kelompok keluarga.Ledakan-ledakan mesianisme telah menunjukan didalamnya termuat tuntunan mengenai penyelamatan masyarakat yang menjelma dalam kedatangan ratu adil dan imam mahdi,Tradisi mesianistis islam masuk juga kedalam mesianisme jawa,dan mahdisme dapat dilihat dengan jelas dalam beberapa gerakan aliran agama di Jawa.Mesianisme islam yang masuk kedalam mesianisme jawa itu umumnya tercermin dalam bentuk eskatologinya.Persamaan dan perbedaan mengenai gerakan gerakan mesianistis ini dapat diperjelas melalui beberapa contoh yang muncul didalam budaya jawa.Perlu ditekankan bahwa skala gerakan itu mungkin mencakup lingkungan kecil,namun masalah yang dihadirkan cukup luas.

1. Milenarianisme dan Ratu Adil

Konsep ratu adil akan diikuti dengan konsep berikutnya, yakni Milenarianisme. Milenarianisme atau milenialisme adalah suatu keyakinan oleh suatu kelompok atau gerakan keagamaan, sosial, atau politik tentang suatu transformasi besar dalam masyarakat dan setelah itu segala sesuatu akan berubah kearah yang positif (atau kadang-kadang negatif atau tidak jelas). Milenialisme adalah suatu bentuk Milenarianisme spesifik berdasarkan suatu siklus seribu tahunan. Kelompok-kelompok milenarian biasanya mengklaim bahwa masyarakat masa kini dan para penguasanya korup, tidak adil, atau menyimpang. Karena itu mereka percaya bahwa mereka akan segera dihancurkan oleh suatu kekuatan yang dahsyat. Sifat yang berbahaya dari status quo ini selalu dianggap tidak dapat diubah tanpa adanya perubahan dramatis yang telah diharapkan. Ditemukan bahwa Dalam alam pikiran Jawa terdapat mitos Ratu Adil. Mayarakat Jawa sering kali mengaitkan mitos Ratu Adil ini dengan Ramalan Prabu Jayabaya.

Dalam ramalan itu banyak menyebutkan bahwa penderitaan yang dialami, seperti peningkatan beban pajak, harga hasil bumi merosot tajam, hukum dan pengadilan tidak berjalan semestinya, syariat Tuhan tidak lagi dijalankan, banyak orang akan tersingkir dan orang jahat akan berkuasa, pemerintahan tidak berjalan dengan baik dan rakyat semakin sengsara, banyak terjadi bencana alam, dan krisis-krisis sosial lainnya, akan hilang dengan datangnya Ratu Adil. Dengan demikian, Ratu Adil, dalam tradisi Jawa lebih bersifat politis, meskipun ada sedikit sebagai gerakan mistis (kebatinan).

Mitos Ratu Adil ini terwujud dalam bentuk tampilnya seorang pemimpin, yang dianggap dapat menjadi tokoh yang menyelesaikan permasalahan atau krisis yang melanda. Zaman edan tidak mungkin diubah dengan cara lain kecuali menanti tokoh Ratu Adil tersebut. Untuk merealisasikan perubahan zaman tersebut diperlukan suatu gerakan, yang ditopang oleh seorang pemimpin, yang dianggap sebagai Ratu Adil, yang mampu mewujudkan penentian tersebut. Adapun pengaruh dari mitos Ratu Adil misalnya ditemukan dalam perang Jawa dapat dilihat dari munculnya tokoh kharismatis, yang dianggap sebagai ‘wali Tuhan’ yaitu Pangeran Diponegoro yang mampu menangkap seluruh penderitaan dan kesengsaraan rakyat, sehingga melalui kharismanya ia mampu berfungsi sebagai pemikat massa dan katalisator atas keluhan dan penderitaan tersebut, sekaligus sebagai sentral penampung ide, harapan bagi terciptanya kehidupan yang adil dan makmur sejahtera.

Baca Juga : Soe Hok Gie Berperan Sebagai Pergerakan Mahasiswa

• Gerakan di Jawa

Pada tahun 1903 seprang kyai dari desa samentara di kabupaten sidoharjo bernama kasan mukmin.Ia lahir di sebuah desa dekat muntilan,kira-kira tahun 1854.Kasan mukmin mulai bertindak sebagai orang yang menerima wahyu dan mengaku sebagai jelmaan imam mahdi yang akan mendirikan sebuah kerajaan baru di Jawa.Ia berkhotbah bahwa perang jihad akan diumumkan untuk melawan pemerintahan belanda.Sebelum memproklamirkan dirinya sebagai juru selamat,ia membagikan jimat kepada pengikutnya dan menyatakan bahwa ia dapat menyembuhkan penyakit.Kasan mukmin berencana melakukan pemberontakan melawan belanda.

Mendengar adanya gerakan pemberontakan bupati sidoharjo pergi ke gedangan dengan dikawal polisi bersenjata.Pertempuran pun terjadi,dan dalam pertempuran tersebut residen menderita luka-luka dan meninggalkan korban sejumlah 40 orang meninggal dan 20 orang luka-luka.Kasan mukmin sendiri terbunuh karena menolak untuk ditawan ,pada saat itu jumlah orang yang ditawan mencapai 83 orang.Didalam peristiwa gedangan ini terdapat sumber-sumber yang menunjukan bahwa terdapat beberapa agitasi yang secara khusus berhubungan dengan rasa dendam dan ketidakpuasan rakyat.Hal ini terjadi akibat perselisihan petani dengan perkebunan tebu karena penyewaan tanah yang tidak wajar, pengerahan tenaga buruh, system pengairan, dan pungutan pajak.Terdapat pula rasa dendam dalam agitasi yang tajam seperti :

Gerakan mesianisme muncul kembali pada masa-masa berikutnya.Pada dasarnya pengikut gerakan ratu adil terdiri dari anggota bangsawan rendah, dan sejumlah pengikutnya berasal dari golongan masyarakat rendah atau orang kebanyakan.Ini terjadi akibat factor social ekonomi yang melatarbelakanginya.Dari gambaran munculnya gerakan mesianistis tersebut dapat dikatakan bahwa didalam budaya jawa,kepemimpinan didalam gerakan mesianistis bersumber pada wahyu suci, wisik ataupun wangsit dimana semua itu dinyatakan sebagai kekuatan yang bersifat gaib, misalnya memiliki kekuatan magis, dapat menyembuhkan orang sakit, dan sebagainya.Selain itu dapat ditunjukan pula bahwa pemimpin mesianistis tersebut pada dasarnya memiliki pribadi yang dinamis, memiliki jarinagn komunikasi yang luas yang dapat melewati batas-batas daerahnya. Tetapi ide dan sikap sebenarnya besifat tradisional.

C.GERAKAN SAMIN

Diantara pergolakan sosial dipedesaan, pergerakan samin dapat dianggap sebagai gerakansosial tradisional yang pasif. Gerakan ini memiliki ciri-ciri gerakan pedesaan yang lai, seperti pelakunya adalah para petani, daerah gerakannya tidak luas dalam arti hanya meliputi beberapa desa saja dan sering terpisah-pisa: artinya tidak ada dukungan atau konsulidasi diantara gerakan-gerakan tersebut. Gerakan Samin dimulai kira-kira akhir abad 19. Gerakan ini berhasil mencapai puncaknya yaitu dengan berhasil membuat kecemasan pada pemerintah Hindia Belanda,akan tetapi pengaruhnya terhadap tatanan masyarakat pada waktu itu ataupun pada susunan pemerintah tidaklah begitu besar.Pemerintah Hindia Belanda menganggap gerakan samin adalah gerakan mesianistis,pendapat tersebutsejalan dengan pandangan Snouck Hurgronje,penasehat Pemerintah Urusan bumiputra dan Ahli Islam paa waktu itu yang berpendapat bahwa gerakan Samin adalah gerakan mesianistis yang non islam. Gerakan ini tidaklah begitu berbahaya karena gerakan ini bisa ditumpas dengan menumpas pemimpinnya.Itulah sebabnya Surontiko Samin, pengajar ajaran Saminisme,dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda ke sumatra,meskipun tidak cukup bukti bahwa dia memberontak. Pada umumnya gerakan sosialis dipedesaan daantaranya Yang dilakukan Oleh orang-orang Samin karena didorong oleh tekanan-tekanan ekonomi karena kebijakan-kebijakan yang merugikan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintahan hindia Belanda dalam menjalankan politik kolonialnya.

• Gerakan di Jawa

Pada bulan Februari tahun 1903 Residen Rembang melaporkan kepada pemerintah Hindia Belanda bahwa didaerah Blora selatan dan daerah yang berdekatan dengan Bojonegoro terdapat lebih dari 7000 orang Samin. Empat tahun kemudian jumlah mereka diperkirakan berjumlah 3000 orang.pada tahun 1905 pemerintah mulai menaruh perhatian pada orang-orang Samin. Salah satu sebabnya ialah sikap orang-orang Samin itu yang mulai menarik diri dari kehidupan masyarakat sekitarnya. Misalnya mereka menolak menjalankan kewajibannya untuk menyerahkan padinya pada lumbung desa, selain itu mereka juga tidak menaati peraturan pemerintah dengan mengambil kayu di hutan-hutan yang dikuasai pemerintah karena orang samin menganggap daerah hutan itu adalah wilayahnya dan bebas memanfaatkan dan mengambil hasil dari hutan tersebut karena sejak dahulu pada jaman kerajaan majapahit daerah hutan yang dikuasai oleh kerajaan majapahit(penguasa terdahulu) hanya bersifat teoritis saja sehingga rakyat masih bebas memanfaatkan hutan.akan tetapi hal itu sangatlah terbanding terbalik karena pada saat itu tahun 1897 pemerintah Hindia Belanda (penguasa saat itu)sedang meningkatkan penguasaan dan pengelolaan hutan.

Karena pemerintah Hindia belanda benar-benar menguasai dan mengeksploitasinya secara efektif karena hutan jati merupakan salah satu sumber keuangan negara, maka pemerintah akan melarang bahkan memberi hukuman bagi masyarakat yang mengeksploitasi daerah kekuasaannya.Orang Samin adalah mereka yang mengangggap dirinya sebagai penganut ajaran Surontiko Samin, seorang petni yang berasal Randublatung, Blora Selatan.didalm ajarannya menganggap bahwa mereka tidak percaya dengan adanya tuhan, karena orang Samin mempunyai kepercayaan “Tuhan itu ada di dalam diri sendiri”dan penyelamat dari siksaan adalah dirinya sendiri. Selain itu ajaran samin juga diartikan sebagai sami-sami,yang bersumber pada dasar persamaan manusia.mereka menganggap semuanya itu saudara dan harus saling tolong menolong. Pada tahun 1890 samin mulai menarik pengikutnya, yaitu para petani didesanya dan desa-desa sekitarnya. Setelah ajarannya meluas sampai ke Rembang, Blora utara dan sampai Ngawi, pemerintah mulai menaruh perhatiaannya pada orang Samin karena mereka melakukan tindakan-tindakan yang melanggar peraturan pemerintah. Dalam penyebarannya Samin dibantu oleh dua menantunya yaitu surohidin dan Karsiyah

Pada tahun 1907 timbul desas-desus bahwa orang Samin akan melakukan pemberontakan terhadap Pemerintah, yang kemudian membuat surontiko samin dan 8 pengikutnya ditangkap dan dibuang di Padang dan meninggal disana, hal itu dilakukan karena banyak sumber-sumber resmi menuduh bahwa Samin dan para pengikutnya merencanakan akan menjatuhkan Pemerintahan Hindia Belanda dengan tujuan membentuk pemerintahn baru sesuai dengan pergantiaan jaman.karena kebetulan bahwa tahun baru Jawa yang diawali oleh bulan Suro jatuh pada tanggal 14 Februari 1907 dan orang Jawa percaya bahwa biasanya pada pergantian tahun atau jaman terjadi perubahan-perubahan dalam kehidupan umat manusia. Sehingga Pemerintah Hindia Belanda segera bertindak untuk mencegah semakin meluasnya gerakan meianistis ini.

Dengan kepergian Surontiko, gerakan Samin mengalami kemunduran dalam peyebaran ajarannya.pada tahun 1908 seorang yang bernama Wongsorejo menyebarkan ajaran Samin di Jiwan dekat madiun, ia mengakui dengan mengajak para pengikutnya untuk tidak membayar pajak, karena pengikutnya masih sedikit maka gerakn ini mudah di tumpas dengan menangkap Wongsorejo dan 2 pengikutnya. Akan tetapi pada abad ke 20 Gerakan Samin semakin meningkat,sifatnya pun berubah. Tanda-tanda bahwa merekan akan bertindak dengan cara keraspun mulai nampa. Di Grobogan Orang Samin dibawah pimpinan Surohidin dan Pak Engkrak tidak mau menaati peraturan-peraturan pemerintah, sedngkan pak Kasriyah menantu Samin, mengajak rakyat Kajen di pati untuk menentang pemerintah dan menamakan dirinya Pangeran Sendang Janur. Di Desa Larangan orang-orang Samin menolak membayar pajak, menyerang Kepala desa, dan menantang pasukan polisi. Menurut laporan J.E Jasper,asisten Residen Tuban pada tahun 1917 terbukti bahwa daerah pemukiman orang samin semakin luas, walaupun tampak jumlah pengikutnya menurun jumlahnya.

D.GERAKAN SEKTE KEAGAMAAN

• pendahuluan

Di luar arus perkembangan mesianisme yang berlangsung selama abad ke-19 dan 20,terdapat pula pertumbuhan sekte-sekte keagamaan yang baru,yang memuat berbagai tingkatan kepercayaan dan pandangan,baik dari tingkat kepercayaan islam yang orthodox maupun tingkat ide-ide yang mecerminkan sikap yang bertentangan dengan islam. Dalam pertumbuhannya gerakan milenaristis sangat menarik seklai bagi golongan petani pada khususnya dan lapisan bawah pada umumnya.Lahirnya gerakan milenaristis ataupun gerakan sekte menampilkan pemimpin-pemimpin karismatis,seperti yang diduduki oleh para guru,haji atau kyai dan memberikan tempat bagi rakyat untuk bersatu dalam ikatan keagamaan. Anggota-anggota gerakan sekte merasakan dirinya tenggelam dalam situasi masyarakat yang tampak tengah mengalami demoralisasi,oleh karena itu berusaha untuk menarik dari dari lingkungan tersebut.perkembangan arus sekte dijawa hanya harus difahami didalam kerangka perubahan-perubahan sosial serta kekacauan dan demoralisasi yang muncul sebagai akibat daripada proses westernisasi yang mendalam.gerakan sekte mengandung unsur pertentangan yang bersifat ganda.

Di satu pihak sekte-sekte bertentangan dengan golongan elite agama,di lain pihak sekte-sekte juga harus bertentangan dengan pemerintahkolonial dan elite birokratis. Ciri-ciri umum yang berhubungan dengan gerakan sekte dan mesianisme terdapat dalam masalah peranan pemimpin dan ajaran-ajarannya.pemimpin agama adalam orang yang pertama bertanggung jawab terhadap lahirnya gerakan-gerakan sekte yang benih-beninya telah ada didalam susunan sosial masyarakat jawa. Pemimpin-pemimpin sekte tidak menerima peranannya sebagai juru selamat,lagi pula mereka tidak menyatakan akan datanganya tokoh-tokoh suci. Dari segi ideologinya dapat diketahui ada persamaan antara gerakan mesianistis dan gerakan sekte. Gerakan keagamaan pada umumnya dan gerakan sekte khususnya merupakan gerakan protes yang menempatkan dirinya sebagai lawan masyarakat. Tujuan gerakan sekte adalah untuk menjawab persoalan kebendaan yang dihadapi anggota-anggotanya. Apa yang mereka cari sebenarnya adalah suatu kehidupan duniawi yang penuh kebahagiaan dan ketentraman.

Pada umumnya disalam gerakan keagamaan selama periode abad ke-19 dan 20 terdapat petunjuk adanya suatu variasi yang luas dalam bentuk dan arah pertentangan dengan pranata-pranata yang telah lama berlaku. Gerakan sekte tidak hanya menyalurkan perasaan kebencian atau dendam yang disebabkan oleh kebobrokan,tetapi juga sanggup memberikan jalan bagi anggota-anggotanya untuk memperoleh identitasnya di dalam suasanan perubahan sosial dan demoralisasi. Perbedaan sikap moral antara satu sekte dengan sekte lain memperjelas adanya bermacam-macam sektarianisme. Di satu pihak terdapat sekte yang secara keras melancarkan progapanda menentang kekendoran dalam menjalankan kehidupan agama dan sekaligus menganjurkan untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama secara ketat dalam kehidupan sehari-hari.

Percampuran unsur-unsur islam dan anasir-anasir pra-islam jawa yang banyak terdapat dilingkungan penduduk pedesaan merupak gejala gerakan sekte pula. Semetara anggota sekte ada yang sangat tebal kesadaran budaya tradisional sehingga lebih memperkuat warisan budaya jawa kuno mereka daripada budaya islam. Salah satu ciri lain gerakan sekte ialah adanya pengawasan yang ketat terhadap anggota-anggotanya. Sebagai syarat mutlak setiap calon anggota yang hendak masuk dalam tarekat harus mengucapkan sumpah setia terlebih dahulu secara khidmat. Dengan melalui sumpah tersebut, msks sekte dapat mengawasi ketaatan anggota-anggotanya secara ketat. Berbeda sekali dengan gerakan mesianistis yang hanya mengundang hak dari pihak pimpinan untuk mengeluarkan anggotanya bila melakukan penghianatan.

• Gerakan di jawa

Gerakan sekte yang sampai sekarang masih dapat dikenal antara lain ialan sekte budiah yang di dirikan oleh haji mohammad rifangi dari kalisalak pada pertengahan abad ke-19. Sekte budiah merupakan jenis sekte pemurnian islam yang menurut pendirinya diadakan untuk melawan kebobrokan agama yang dirasakan telah merayap kedalam masyarakat islam dijawa pada abad ke-19. Tujuannya ialah untuk mengadakan pembaharuan islam dengan cara kembali kepada ajaran yang murni.untuk mengetahui apa yang diajarkan oleh haji rifangi maka perlu dipelajari karya-karya antara lain ilmu hukum islam,asas-asa kepercayaan,dan mistisisme yang semuanya ditulis dalam bahasa jawa dan dalam bentuk puisi. Kumpulan karyanya-karyanya disebut kitab tardjumah dan pada dasarnya berisi terjemahan ke dalam bahasa jawa dari apa yang terdapat di dalam kitab suci yang berbahasa arab.

Menurut Haji Rifangi kehidupan agama dari rakyat dan pemimpin-pemimpinnya telah menyimpang dari petnjuk-petunjuk tuhan. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa penguasa negara,bupati-bupati,kepala-kepala distrik dan kepala-kepala desa semuanya berdosa. Sebagian besar dari guru-guru agama mengabaikan tugasnya mengajar murid-muridnya,dan takluk terhadapadat-adat kebiasaan orang-orang kafir. Dalam salah satu kitabnya Haji Rifangi juga membahas masalah perang sabil secara luas. Tetapi anehnya ia tidak memperinci perjuangan melawan pemerintah kafir. Berbeda dengan gerakan sekte budiah yang merupakan contoh dari jenis gerakan pemurnian islam, ada pula gerakan yang bersifat seni atau bertentangan dengan islam.

Gerakan igama jawa pasundan bermaksud memperbaiki keaslian daripada tradisi jawa. Gerakan ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap islam orthodox dan dianggap sebagai kepercayaan yang diimport dari luar. Sejumlah pengikut dari sekte ini terdapat di cirebon dan priayangan. Gerakan iagama jawa-pasundan didirikan oleh sadewa,atau lebih terkenal dengan nama madrais. Ia menuntut supaya diakui sebagai pangeran cirebon. Gerakan igama jawa-pasundan tidak mendapat tekanan dari pihak pemerintah karena gerakan itu tidak mengancam ketertiban umum. Lebih-lebih dalam salah satu ajarannya yang menyebutkan bersetia kepada seri. Selain itu ajarannya menyebutkan bahwa orang harus percaya kepada tuhan dan patuh kepada negara. Gerakan ini dapat dikatakan berbentuk atara suatu sekte mistik dan suatu gerombolan penjahat. Gerakan ini memiliki upacar-upacara sendiri,organisasi dan sumpah-sumpah rahasia sendiri, dan pergaulannya juga terbatas pada kalangan anggotanya sendiri. Sebagai salah satu contoh dari tipe gerakan itu dapat ditunjukkan gerakan sekte oah yang muncul disukabumi dan cianjur.

• Gerakan di tanah batak

Kepercayaan parmalim adalah kesaktian si singa mangaraja dan ibunya nan tika.demikian pula para pengikut parmalim percaya bahwa orang suci yang bernama ompu raja uti tidak dapat mati. Gerakan parsihudamdam diduga merupakan kelanjutan dari gerakan parmalim. Dugaan itu didasari oleh adanya berbagai persamaan ciri dari kedua gerakan ini. Pengikut parsihudamdam itu meneriakkan ucapan-ucapan yang tidak jelas artinya. Timbulnya gerakan parsihudamdam mempunyai berbagai kaitan dengan terjadinya berbagai perubahan ketika itu,yang telah melahirkan goncangan dalam kehidupan masyarakat batak,baik yang menyangkut ekonomi meupun politik,sosial dan budaya.

Sistem pajak yang merupakan beban berat rakyat,pemungutan pajak yang dilakukan secara sewwenang-wenang,dan kerja rodi merupakan beban pula yang sangat dirasakan memberatkan rakyat pada waktu itu. Akhirnya gezaghebeber W.C.M muller diperintahkan untuk mengakhiri gerakan-gerakan parsihudamdam itu. Ia memerintahkan untuk menghentikan upacara keagamaan itu. Tetapi perintahnya tidak dihiraukan oleh pengikut parsihudamdam.lalu muller mengeluarkan ancaman tetapi ancamannya mengakibatkan kemarahan orang parsihudamdam. Mereka menangkap muller dan secara beramai-ramai,badannya ditusuk-tusuk dengan senjata tajam sampai mati. Terbunuhnya muller mempertebal kenyakinan orang-orang parsihudamdam.

Dalam diri gerakan parsihudamdam telah ditemukan berbagai faktor yang menyebabkan kita cukup sulit menentukan jenis gerakannya. Gerakan ini jelas merupakan suatu sekte keagamaan tetapi tidak dapat disangkal bahwa gejala ini pun merupakan suatu gerakan yang menentang pemerasan karena adanya sistem pajak dan kerja rodi.Di luar arus perkembangan mesianisme yang berlangsung selama abad ke 19 dan 20, terdapatlah pertumbuhan sekte-sekte keagamaan yang baru, yang memuat berbagai tingkatan kepercayaan dan pandangan, baik dari tingkatan kepercayaan Islam yang orthodox maupun tingkat ide-ide yang mencerminkan sikap yang bertentangan dengan Islam. Sekte tidak lain adalah merupakan ekspresi keagamaan dari perasaan tidak puas suatu masyarakat dan perasaan-perasaan untuk memberontak, hasil perjuangan kelas organisasi dari kelas bawah dan peralatan dari sifat agresif mereka.Mengenai ciri umum yang berhubungan dengan sektarianisme dan mesianisme dapat dilihat di dalam masalah peranan pemimpin agama dan ajarannya. Dari segi isi ideologinya, ada kemiripan yang terkandung di dalam gerakan mesianistis dan gerakan sektaris. Salah satu ciri lain dari gerakan sekte ialah adanya pengawasan yang ketat terhadap anggota-anggotanya.

• Gerakan-Gerakan Sarekat Islam di Daerah Pedesaan

Gerakan protes dari kaum petani tidak hanya merupakan pernyataan tidak puas terhadap mereka yang berkuasa, tetapi juga merupakan cerminan dari jawaban mereka terhadap suatu masalah komunikasi yang mereka hadapi. Kaum petani tidak memiliki saluran-saluran untuk menyatakan keluhan-keluhannya mengenai apa yang menimpa mereka. Munculnya Sarekat Islam dalam situasi yang demikian itu dapat memberikan peralatan yang berarti sekali dalam mewujudkan keinginan dan kekuatan yang ada di lingkungan kaum petani melalui saluran ideologi, kepemimpinan, organisasi dan lambang-lambang dari organisasi tersebut. Sarekat Islam telah mendorong ke arah proses mobilisasi politik secara modern dari kalangan penduduk pedesaan.
Beberapa sifat penting dari gerakan Sarekat Islam ialah :

  • bersifat anti-Cina
  • sikapnya yang agresif terhadap penguasa pemerintah
  • sifat menyendirinya dan bermusuhnya terhadap orang-orang ”luar”
  • sifatnya revivalistis yang penting.

Selama dua tahun, tahun 1913 dan 1914, pertentangan komunal menjadi suatu corak yang umum di berbagai tempat di Jawa. Tahun-tahun itu boleh dikatakan merupakan periode memuncaknya agitasi anti-Cina.
Berdampingan dengan perluasan Sarekat Islam, gelombang revivalisme melanda juga daerah Jawa. Gerakan Sarekat Islam dan gerakan revivalisme dalam kenyataannya memang saling memperkuat. Agitasi Sarekat Islam sebagian memang ditujukan juga untuk memperkuat pelaksanaan keagamaan dan memperkuat semangat keagamaan.

Soe-Hok-Gie-Berperan-Sebagai-Pergerakan-Mahasiswa Soe-Hok-Gie-Berperan-Sebagai-Pergerakan-Mahasiswa

pergerakansosialis – Soe Hok Gie memiliki peranan penting dalam dinamika pergerakan mahasiswa tahun 1966-1969. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan biografi Soe Hok Gie dan aktivitasnya sebagai mahasiswa; (2) Menganalisa kondisi sosial politik ekonomi bangsa Indonesia dan dinamika dalam pergerakan mahasiswa tahun 1966-1969; (3) Menganalisa peranan Soe Hok Gie dalam dinamika pergerakan mahasiswa Indonesia tahun 1966-1969.

Penelitian skripsi ini menggunakan metode penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo. Tahap pertama adalah pemilihan topik sebagai kegiatan awal untuk menentukan permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian. Tahap kedua adalah pengumpulan sumber yang didapat dari sumber tertulis sebagai sumber primer, sekunder dan sumber pendukung. Sumber tertulis didapatkan dari catatan harian Soe Hok Gie yang telah dibukukan, kumpulan tulisan dan artikel yang ditulis Soe Hok Gie di surat kabar, dan berbagai karya tulis lainnya.

Tahap ketiga adalah verifikasi yaitu kritik sumber atau keabsahan sumber. Tahap keempat adalah interpretasi yang merupakan tahap penafsiran untuk mengkorelasikan data dari berbagai sumber. Tahap kelima adalah penulisan sejarah hasil dari penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa Soe Hok Gie memiliki peran dalam pergerakan mahasiswa Indonesia tahun 1966-1969. Aksi demonstrasi mahasiswa tahun 1966 merupakan imbas dari bergejolaknya kondisi ekonomi dan politik pasca peristiwa G30S 1965. Kondisi politik yang tidak stabil, membuat kondisi perekonomian juga tidak stabil. Harga-harga kebutuhan pokok, tarif angkutan umum, harga bensin dan jasa pengiriman, semua naik.

Baca Juga : Hubungan Partai Buruh Belanda Dengan Kaum Pergerakan Indonesia

Kondisi sulit ini dirasakan oleh hampir semua lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa. Mahasiswa mulai bergerak untuk menuntut perbaikan kondisi ekonomi. Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan mencetuskan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura). Perkembangan pergerakan mahasiswa tidak terlepas dari adanya dinamika.

Aksi demonstrasi mahasiswa tahun 1966 dihadapkan pada situasi pertentangan. Pertentangan antara kelompok militan yang bertekad terus melakukan aksi demonstrasi dan kelompok yang berkompromi pada keadaan dengan mengendurkan aksi demosntrasi. Dinamika juga terjadi di aktivitas KAMI sebagai induk organisasi mahasiswa yang tidak memiliki skap tegas antara bergerak untuk tujuan moral atau tujuan politik. Dinamika juga terjadi dalam aktivitas kegiatan kemahasiswaan, dengan adanya persaingan antara mahasiswa yang memegang prinsip independen dan organisasi ekstra universitas. Kata Kunci: Peranan Soe Hok Gie, Pergerakan Mahasiswa, Dinamika, Aktivis Mahasiswa, Awal Orde Baru, Tahun 1966-1969.

MATERI UH KLS 8 Kualitas Penduduk Dan Pergerakan Nasional MATERI UH KLS 8 Kualitas Penduduk Dan Pergerakan Nasional
Pergerakansosialis.com – Politik etis adalah program peningkatan kesejahteraan rakyat di wilayah jajahan Belanda. Bidang politik: politik adu domba, kedudukan Bupati dijadikan sebagai pegawai negeri. Bidang ekonomi: Sistem tanam paksa (cultuurstelsel), politik pintu terbuka (liberal). Bidang Sosial: Diskriminasi ras, intimidasi. Bidang Budaya: masuknya budaya barat ke Indonesia, masyarakat Indonesia dapat menyaring buda barat yang masuk. Apa yang dimaksud dengan perjuangan kooperatif dan nonkooperatif? Perjuangan kooperatif (moderat) adalah perjuangan bangsa Indonesia yang masih mau bekerjasama dengan pihak Belanda, contohnya Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij. Perjuangan nonkooperatif (radikal) adalah perjuangan bangsa Indonesia yang tidak mau bekerjasama dengan pihak Belanda, contohnya peperangan, PI, PNI. 5 faktor pendorong pergerakan nasional dari dalam negeri! 7. Sebutkan 5 faktor pendorong pergerakan nasional dari luar negeri! Berkembangnya organisasi etnik, kedaerahan dan keagamaan. • Pada awal abad XX sudah banyak mahasiswa di kota-kota besar terutama di Pulau Jawa. • Sekolah kedokteran bernama STOVIA (School tot Opleideing van Inlandsche Aartsen) terdapat di Jakarta.

• tonggak berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Kongres I Budi Utomo dilaksanakan Oktober 1928 di Jogjakarta. Perbedaan perjuangan sebelum tahun 1908 dan sesudah tahun 1908! 1911 didirikan Serikat Dagang Islam (SDI), oleh KH Samanhudi dan RM Tirtoadisuryo di Solo. Tujuan utama pada awalnya adalah melindungi kepentingan pedagang pribumi dari ancaman pedagang Cina. Pada tahun 1913 Sarekat Islam dipimpin oleh Haji Umar Said Cokroaminoto. • Indische Partij adalah partai politik pertama di Indonesia. • pendiri Indische Partij yang terkenal dengan sebutan tiga serangkai E.F.E. Douwes Dekker (Danudirjo Setiabudi), R.M. Suwardi Suryaningrat, dan dr. • mengembangkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia. 1922 Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging dengan kegiatan utama politik. Tahun 1925 berubah menjadi Perhimpinan Indonesia (PI). Abdulmajid Joyoadiningrat, Iwa Kusumasumantri, Sastro Mulyono, Sartono, Gunawan Mangunkusumo, dan Nazir Datuk Pamuncak. Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung, dipimpin Ir Soekarno. Tujuan Partai Nasional Indonesia adalah Indonesia Merdeka, dengan ideologi nasionalisme. Partai Nasional Indonesia mengadakan kegiatan konkrit baik politik, sosial maupun ekonomi. 1) Menerima lagu ‘Indonesia Raya’ ciptaan WR. Tokoh: KH.Hasyim ashari, KH.

Aceh sendiri menerima Islam dari Pasai pada pertengahan abad 14. Kerajaan Aceh bermula dari penggabungan dua negara kecil (Lamuri dan Aceh Dar al-kamal) abad 10 H/16 M. Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, Aceh merupakan bagian dari kerajaan Pidie. · Persatuan Lembaga-lembaga sosial keagamaan islam di Indonesia sangat besar peranannya seperti Pengusaha dan lain-lainnya. Selain itu ada juga yang disebut NU, lembaga ini bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah, terutama dalam bidang pembinaan pesantren di berbagai daerah di Indonesia. Begitu juga dengan Muhamadiyah, lembaga ini bergerak dalam bidang pendidikan, kemasyarakatan. Banyak sekolah didirikan baik sekolah agama maupun sekolah umum diberbagai tempat di Indonesia. Selain itu juga terdapat lembaga-lembaga lainnya yang bersifat kemasyarakatan yang berada di daerah-daerah yang lebih rendah seperti desa, RT, RW. Negara (penguasa) tampaknya dalam hal ini dapat pula dikatakan sebagai subyek dominan yang tanpa sadar menerjemahkan praktik-praktik kolonialisme dalam kebijakannya. Dalam konteks politik keagamaan, dapat disebutkan misalnya, pendisiplinan terhadap ajaran agama yang benar dan yang dianggap salah, termasuk melakukan kontrol terhadap keyakinan keagamaan yang dianggap sesat.

Otoritas penghakiman oleh negara (kuasa) dalam konteks politik keagamaan merupakan bagian politik kolonial, yang tanpa disadari memiliki pengaruh besar terhadap karakter dan mental bangsa ini. Sejarah mencatat, kolonialisme pernah ratusan tahun mencengkram negeri ini. Kurang lebih tiga setengah abad. Dari kedatangan sebagai pedagang kemudian menjadi imperialis, dilakukan kolonial untuk menguasai teritorial nusantara. Letupan perlawanan oleh bangsa ini pun terjadi ketika kekerasan imperialisme mulai menindas dan berkeinginan menguras dan menindas rakyanya. Diantara tokoh kolonial Belanda yang memiliki peran besar terhadap sejarah imperialisme di negeri ini adalah Christiaan Snouck Hurgronje. Tokoh politik Belanda ini merupakan politisi kolonial yang dalam pemikiran politiknya untuk menguasai masyarakat nusantara lebih banyak mempresentasikan strategi perang dengan pendekatan keyakinan (agama) dan tidak perlu menekan perlawanan penduduk jajahan secara terus menerus dengan senjata. Dialah tokoh yang merekomendasikan pemetaan politik kepada Pemerintah Belanda untuk meredam perlawanan masyarakat. Baginya, Pemerintah Belanda harus memisahkan (pemecahan) masyarakat dari gerakan-gerakan perlawanan yang mengusung spirit IslamPolitik.

Baca Juga : Sejarah Latar Belakang Pergerakan Nasional

Pada pandangan politik Belanda, mereka tidak melihat bahaya apa pun dari perlawanan masyarakat yang terjajah, selain kefanatikan beragama (Islam). Sehingga mereka berkeyakinan gerakan-gerakan perlawanan paling berbahaya dan mengancam kekuasaan kolonial adalah umat Islam (nusantara) yang fanatik. Pasa saat itu muncul politik perjanjian, politik ini memfokuskan pada pemisahan praktik keagaman umat Islam sangat berpengaruh terhadap mentalitas keyakinan umat Islam kemudian. Materi pengkatagorian dari urusan ubudiayah (ibadah), muamalat (hubungan sosial), hingga gerakan Islam politik (perang sabil), menjadi stategi baru pemerintah kolonial menguasai negeri ini. Belanda berkeyakinan bahwa persoalan ubudiyah dan muamalat umat Islam sangat sensitif untuk ditekan. Karena itu, Pemerintah Belanda mengawasi dan mengontrol aktivitas umat Islam yang mengarah pada kegiatan politik. Namun sebaliknya, membebaskan umat dalam melaksanakan kegiatan ubudiyah dan muamalat. Untuk menyukseskan proyeknya, Snouck merumuskan strategi perang, yang dalam sejarah disebut-sebut dengan gaya politik belah bambu (tipudaya), yakni siasat pemisahan (pemecahan) aktivitas umat Islam dari urusan ibadah, muamalat, dan politik.

Sejarah Latar Belakang Pergerakan Nasional Sejarah Latar Belakang Pergerakan Nasional

Pergerakansosialis.com – Pergerakan nasional ditandai oleh bermunculannya organisasi-organisasi kebangsaart, yang berciri sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Bagaimanakah pergerakan nasional lahir? Pergerakan nasional ini berawal dari keprihatinan kalangan terpelajar tertentu akan banyaknya anak bumiputera yang tidak beroleh kesempatan menempuh pendidikan. Keadaan ekonomi rakyat Indonesia saat itu menyedihkan, padahal pendidikan menuntut biaya yang tidak sedikit. Bagaimana caranya agar martabat rakyat Indonesia berkembang berkat pendidikan? Salah seorang kalangan terpelajar yang peka terhadap kondisi saat itu adalah Dr. Dokter Wahidin menginginkan sebanyak mungkin anak bumiputera terdidik. Namun, ia menyadari harus ada dana untuk pendidikan mereka. Lalu, ia memi1iki gagasan untuk menggalang suatu gerakan pengumpulkan dana bea siswa. Sudah tentu ia tidak bisa sendirian. Maka, antara tahun 1906-1907, ia pun berkeliling ke seluruh Pulau Jawa mengajak para bupati dan kalangan terpelajar agar mendukung gagasannya. Gagasan Dokter Wahidin itu tidak bertepuk sebelah tangan. Ada sekelompok mahasiswa sekolah kedokteran Stovia, Jakarta, membentuk suatu organisasi sebagai tanggapan terhadap gagasan Dr. Wahidin. Organisasi inilah yang merupakan cikal bakal pergerakan nasional, yang diisi oleh rentetan munculnya berbagai organisasi kebangsaan lainnya. Dalam suatu rapat yang sederhana, beberapa mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA, di Kwitang Jakarta, bersepakat mendirikan organisasi kebangsaan bernama Boedi Oetomo (baca: budi utomo), atau disingkat BO.

Rapat itu berlangsung pada tanggal 20 Mei 1908. Para tokoh organisasi ini antara lain Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Cipto Mangunkusumo, R.T. Dapat dikatakan, BO merupakan organisasi kebangsaan yang pertama. Berdirinya organisasi ini menandai bentuk perjuangan baru melawan penjajah. Dahulu rakyat Indonesia berjuang secara fisik serta dengan organisasi yang berciri tradisional (kedaerahan). Sejak BO berdiri, perjuangan Indonesia menempuh cara organisasi modern demi kepentingan seluruh bangsa (nasional). Itulah sebabnya, hari jadi BO kita peringati sekarang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. BO bertekad meningkatkan martabat bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Agar tekad itu tercapai, organisasi tersebut memusatkan kegiatannya dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Adapun program yang dijalankannya antara lain memperhatikan kepentingan pengajaran umum, memajukan pertanian, peternakan, dan perdagangan, memajukan teknologi dalam industri kecil, mengenalkan kem.bali warisan kebudayaan dan ilmu pengetahuan nenek moyang, mempertinggi cita-cita kemanusiaan pada umumnya, serta memperhatikan segala hal yang perlu untuk menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat. Pada akhir tahun 1909, BO telah mempunyai cabang di 40 tempat dengan jumlah anggota sekitar 10.000 orang.

Dukungan terhadap organisasi ini terutama datang dari kalangan pelajar (kebanyakan bangsawan) dan para pejabat bumiputera (bupati dan sejawat). Pada tahun-tahun berikutnya, organisasi ini memperluas orientasi perjuangannya, tidak hanya di bidang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial, melainkan juga melangkah ke bidang politik. Pada tahun 1909, Kyai Haji Saman-hudi, seorang saudagar batik dari Laweyan, Solo, mendirikan suatu organisasi bernama Sarekat Dagang Istam. Tujuan semula dari organisasi ini adalah melindungi sekaligus memajukan usaha para pedagang bumiputera dalam rangka menanggulangi monopoli para pedagang besar Tionghoa. Selain itu, organisasi ini bertuj uan j uga meningkatkan pengamalan agama Islam di kalangan anggotanya. Tampak bagi kita, organisasi tersebut menempatkan ekonomi dan agama sebagai landasan organisasi. Sarekat Dagang Islam memperoleh sambutan luas di kalangan pedagang Islarn. Kemudian, pada tahun 1911, Sarekat Dagang Islam beralih nama menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama tersebut menandai perluasan ruang lingkup gerakan. Organisasi ini tidak lagi membatasi dirinya pada urusan perlindungan perdagangan saja, melainkan j uga melawan segala bentuk penindasan dan kesombongan rasial.

Baca Juga : Dukung Pergerakan Sosial Gabungan Scooterist Peduli

Perluasan gerakan tersebut merupakan desakan seorang anggota dari suatu kantor dagang di Surabaya, bemama Haji UmarSaid Cokroaminoto. Ia kemudian menjabat Ketua SI sejak tahun 1912. Adapun tokoh SI lainnya adalah Haji Agus Salim, Abdul Muis, dan Suryopranoto. Dalam Anggaran Dasarnya, tertanggal 10 September 1912, SI menggariskan program organisasinya sebagai berikut, yaitu mengembangkan jiwa berdagang, memberi bantuan kepada para anggota yang tertimpa kesukaran (semacam koperasi), memajukan. Kalau kita bandingkan dengan BO, akan kita jumpai keunikan tersendiri pada SI. BO amat kentara dipelopori oleh kalangan intelektual dan kalangan atas (bupati dan sejawat). Sedangkan SI mencakup semua lapisan masyarakat, sampai pada lapisan bawah. Dengan demikian, organisasi itu menempatkan dirinya sebagai gerakan rakyat. Itulah sebabnya, pemerintah kolonial merasa was-was dengan gerak-gerik SI. Gubernur Jenderal Idenburg berupaya mempersulit kegiatan organisasi tersebut. Misalnya, SI tidak diperbolehkan mempunyai pengurus besar, sehingga ijin menjadi badan hukum ditolak. Terhadap tindakan pemerintah kolonial itu, SI membentuk badan pusat yang mengatur SI di daerah-daerah. Pada bulan Juni 1916, organisasi ini menyelenggarakan sidang yang disebut Kongres Nasional SI.

Dukung Pergerakan Sosial Gabungan Scooterist Peduli Dukung Pergerakan Sosial Gabungan Scooterist Peduli
Pergerakansosialis.com – Tiada hari libur untuk sebuah pergerakan sosial di Sukabumi, kami para relawan kemanusiaan yang dihina ketika kami salah. Kami tidak pernah di puji ketika berhasil,namun semua itu bukan barometer bagi kami. Hal yang kami dan rekan rekan lakukan hanyalah sedikit pergerakan dan untuk memanusiakan manusia sebagai manusia. Hari ini Minggu 02-02-2020, gabungan scooterist peduli (GSP) posko Sukabumi menyampaikan amanah yang begitu besar dari para dermawan yang telah mengorbankan sebagian harta nya untuk kelangsungan hidup ibu Murah. Alamatnya berlokasi di Kampung Cikate, Desa Cikembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Tindakan yang telah dilakukan merupakan bukti tulus dari hati bahwa di sekitar kita masih ada yang perlu dibantu dan masih memerlukan apa yang dibutuhkan. Mudah mudahan pergerakan ini bukan hanya ajang kompetisi pegiat sosial yang ada kami ingin bersinergi agar pergerakan kemanusia an ini tetap berjalan dan panjang umur selalu. Untuk donasi dan bantuan bisa menghubungi Sekre Forum Komunikasi Vespa Independent Sukabumi Bersatu (FK – VISB). Jalan raya cibolang Cisaat Sukabumi depan pom bensin.

Perhimpunan Indonesia menjadi organisasi politik bersifat radikal setelah mendapat banyak pengaruh dari tokoh pergerakan nasional, Mohammad Hatta. Ia berhasil merangsang inteletual rekan-rekannya dan menumbuhkan semangat nasionalisme menentang penjajahan Belanda. Kegiatn politik Perhimpunan Indonesia yang utama adalah menyebarkan semangat persatuan untuk mmenentang penjajahan Belanda. Penyebarluasan itu dilakukan lewat majalah Indonesia Merdeka. Perjuangan politik tidak hanya terbatas di negara Belanda dan Indonesia, melainkan di forum internasional. Partai Nasional Indonesia didirikan di Bandung pada 4 juli 1927 oleh Ir. Soekarno. Tujuan PNI yaitu mencapai Indonesia merdeka yang dilakukan atas usaha sendiri. Asas PKI bersandarpada 3 tiga pokok perjuangan,sebagai berikut. Nonkoorperasi memiliki makna tidak bersedia bekerja sama dengan pemerintah kolonial dan hanya mengakui pemerinah yang lahir dari rakyat sendiri. Marhaenisme,yakni ajaran yang berkeinginan mengangkat rakyat yang melarat. Keanggotan PNI bersifat terbuka, semangat nasionalisme yang dikobarkan PNI telah mengkhawatirkan posisi penjajah Belanda. Hal ini dikarenakan semangat tersebut memungkinkan timbulnya gerakan radikalisme. Pemerinah Hindia Belanda mengawasi secara ketat perkembangan PNI.Propaganda-propaganda Bung Karno yang menarik mendapat dukungan dari masyarakat.

Hal iniyang menyebabkan PNI berkembang pesat. Melihat keadaanini, Gubernur Jenderal dalam pembukaan Sidang Dewan Rakyat (15 Mei 1928) memandang perlu memberi peringatan kepada pemimpin PNI. Akan tetapi, para pemimpin PNI tidak menghiraukan peringatan itu. Pada bulan Juli 1929 tersiar kabar yang bersifat provokasi,bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan pada awal tahun1930. Berdasarkan berita tersebut, pemerintah melakukan penangkapan terhadap pemimpim-pemimpin PNI, yaitu Ir. Soekarno, Maskun, Gatot Mangkupraja, dan Supriadinata. Penangkapan itu dilakukan pada tanggal 24 Desember 1929. Ir. Soekarno ditangkap sepulang dari menghadiri kongres PPPKI di Surabaya (pada waktu itu ia masih ada di Yogyakarta). Perkara Ir. Soekarno dan kawan-kawannya baru sembilan bulan kemudian diajukan ke Pengadilan Landraad Bandung. Dalam persidanganyang digelar di Pengadilan Bandung,Ir. Soekarno menyampaikan pembelaan melalui tulisan yang berjudul Indonesia Menggugat. Pengadilan tidak dapat membuktikan kesalahan Ir. Soekarno. Meskipun demikan, pemerintah kolonial Belanda tetap menjatuhkan hukuman penjara terhadap dirinya. PNI pada tahun 1931 bubar, kemudian berdirilah partai baru Partai Indonesia (Partindo) pimpinan Mr. Sartono dan PNI Baru pimpinan Moh. Ia mendirikan organisasi dengan nama Indischa Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) pada bulan Mei 1914. Anggota ISDV kebanyakan terdiri atas orang-orang Belanda dan beberapa orang Indonesia seperti Semaun, Alimin,dan Darsono. Tahun 1925 Indische Vereeniging berubah menjadi Perhimpunan Indonesia dengan tujuannya Indonesia merdeka.

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh aktivis PI Belanda maupun di luar negeri, diantaranya ikut serta dalam kongres Liaga Demikrasi Perdamaian Internasional tahun 1926 di Paris, dalam kongres itu Mohammad Hatta dengan tegas menyatakan tuntutan akan kemerdekaan Indonesia. Aksi-aksi yang dilakukan menyebabkan Hatta dkk. Belanda. Karena dituduh menghasut untuk pemberontakan terhjadap Bealnada maka tahun 1927 tokoh-tokoh PI diantaranya M. Hatta, Nasir Pamuncak, Abdul Majid Djojonegoro dan Ali Sastroamijoyo ditangkap dan diadili. Tindakan-tindakan PI dapat dikatakan radikal. Radikal adalah suatu paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan secara keras. Pada 23 Mei 1920 PKI berdiri di Semarang. Tujuan PKI adalah melaksanakan garis politik yang ditetapkan komunisme internasional (komintern) ddengan cara mengusir penjajah Belanda dan mendirikan negara komunis Indonesia. Untuk memperbanyak anggota dan menyebarkan komunisme, PKI melakukan penyusupan kedalam tubuh Sarikat Islam (SI). Setelah merasa memperoleh kemajuan yang pesat PKI segera merencanakan suatu pemberontakan terhadap Belanda. Pada 13 November 1926 PKI menyerang keduduknan Belanda di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur. Belanda dapat menumpas pemberontakan PKI.

Baca Juga : Sejarah Pergerakan Nasional Pada Masa Pendudukan Jepang

Strategi perjuangan moderat dengan taktik koorperasi (bekerja sama) mulai dilaksanakan tahun 1930. Pada masa itu partai-partai berupaya menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah Belanda. Kedekatan partai-partai politik dengan pemerintah kolonial Belanda hanyalah sebuah taktik perjuangan, sebab tujuan dari taktik ini tidak berubah,yakni tetapa berusaha mencapai Indonesia merdeka. Pemerintah Belanda melakukan tindakan keras dengan cara menangkap tokoh-tokoh kaum pergerakan. Anggota-anggota polisi rahasi banyak mematai gerak-gerik setiap tokoh pergerakan. Mereka melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap seorang atau kelompok yang dicurigainya. Belanda secara terbuka menyatakan bahwa keberadaan suatu partai politik tidak mempunyai arti lagi. Selainitu sekolah swasta nasional yang dapat melahirkan pemimpin nasionalis berbahaya ditutup Belanda, dengan dikeluarkannya Wilde Scholen Ordonantie (Ordonansi Sekolah Liar). Media komunikasi massa yang menyuarakan semangat bangsa pun dibredel. Tindakan-tindakan pemerintah kolonial Belanda tersebut amat merugikan kelangsungan dan kegiatan organisasi-organisasi pergerakan nasional. Partai-partai politik jadi kehilangan kontak dengan rakyat,begitu pula sebaliknya rakyat yang membutuhkan koordinasi gerakan melalui partai politik. Kelompok organisasi yang perjuangannya bersifat moderat antara lain Budi Utomo, Persatuan Bangsa Indonesia, Parindra, Gerindra. Kemoderatan organisasi tersebut tercemin dari ikut sertanya dalam Dewan Rakyat (Volksraad).

Sejarah Pergerakan Nasional Pada Masa Pendudukan Jepang Sejarah Pergerakan Nasional Pada Masa Pendudukan Jepang
  • Pergerakansosialis.com – Kerja paksa pada masa kependudukan Jepang dikenal dengan istilah romusha. Romusha merupakan salah satu bukti penderitaan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Kapan Jepang mulai menguasai Indonesia? Bagaimana Jepang menguasai Indonesia? Bagaimana kondisi bangsa Indonesia pada masa penjajahan Jepang? Awal mula tujuan Jepang menguasai Indonesia ialah untuk kepentingan ekonomi dan politik. Jepang merupakan negara industri yang sangat maju dan sangat besar. Jepang sangat menginginkan bahan baku industri yang tersedia banyak di Indonesia untuk kepentingan ekonominya. Indonesia juga merupakan daerah pemasaran industry yang strategis bagi Jepang untuk menghadapi persaingan dengan tentara bangsabangsa Barat. Untuk menyamakan jalur pelayaran bagi bahan-bahan mentah dan bahan baku dari ancaman Sekutu serta memuluskan ambisinya menguasai wilayahwilayah baru, Jepang menggalang kekuatan pasukannya serta mencari dukungan dari bangsa-bangsa Asia. Perhatikan gambar peta di atas! Peta tersebut menggambarkan gerakan tentara Jepang ketika masuk ke Indonesia. Terdapat tiga tempat penting pendaratan Jepang ketika masuk ke Indonesia, yakni Tarakan (Kalimantan), Palembang (Sumatra), dan Jakarta (Jawa). Berdasarkan tiga lokasi tersebut, lokasi manakah yang paling dekat dengan tempat tinggal kalian?
  • Dapatkah kalian temukan alasan mengapa Jepang memilih menduduki tempat tersebut? Tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang strategis untuk menguasai Indonesia. Selain itu, tiga lokasi tersebut merupakan pusat perkembangan politik dan ekonomi pada masa kependudukan Belanda. Pada tanggal 8 Desember 1941, Jepang melakukan penyerangan terhadap pangkalan militer AS di Pearl Harbour. Setelah memborbardir Pearl Harbour, Jepang masuk ke negara-negara Asia dari berbagai pintu. Pada tanggal 11 Januari 1942, Jepang mendaratkan pasukannya di Tarakan, Kalimantan Timur. Jepang menduduki kota minyak Balikpapan pada tanggal 24 Januari. Selanjutnya, Jepang menduduki kota-kota lainya di Kalimantan. Jepang berhasil menguasai Palembang pada tanggal 16 Februari 1942. Setelah menguasai Palembang, Jepang menyerang Pulau Jawa. Pulau Jawa merupakan pusat pemerintahan Belanda. Batavia (Jakarta) sebagai pusat perkembangan Pulau Jawa berhasil dikuasai Jepang pada tanggal 1 Maret 1942. Setelah melakukan berbagai pertempuran, Belanda akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang-Jawa Barat. Surat perjanjian serah terima kedua belah pihak ditandatangani oleh Letnan Jenderal Ter Poorten (Panglima Angkatan Perang Belanda) dan diserahkan kepada Letnan Jenderal Imamura (pimpinan pasukan Jepang).

    Sejak saat itu seluruh Indonesia berada di bawah kekuasan Jepang. 1) Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XXV) untuk Sumatra, dengan pusat di Bukittinggi. 2) Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XVI) untuk Jawa dan Madura dengan pusat di Jakarta. 3) Pemerintahan Angkatan Laut (Armada Selatan II) untuk daerah Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku dengan pusat di Makassar. Jepang menggunakan sistem pemerintahan berdikari dalam menjalankan pemerintahan di daerah kependudukannya. Berdikari berarti “berdiri sendiri”. Maksudnya, pemerintah pusat tidak banyak berperan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasukan di daerah kependudukannya. Dengan demikian, pemerintahan militer Jepang di Indonesia lebih leluasa untuk menerapkan sistem penjajahan. Jepang melakukan propaganda dengan semboyan “Tiga A” (Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia) untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Selain itu, Jepang menjanjikan kemudahan bagi bangsa Indonesia dalam melakukan ibadah, mengibarkan bendera merah putih yang berdampingan dengan bendera Jepang, menggunakan bahasa Indonesia, dan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” bersama lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”.

    Baca Juga :Hubungan Partai Buruh Belanda Dengan Kaum Pergerakan Indonesia

    Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh Jepang hanyalah janji manis saja. Sebagai penjajah, Jepang justru lebih kejam dalam menjajah bangsa Indonesia. Jepang melakukan beberapa kebijakan terhadap negara jajahan Indonesia. Program yang paling mendesak bagi Jepang adalah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada di Indonesia untuk tujuan perang. Beberapa kebijakan tersebut antara lain sebagai berikut. Organisasi-organisasi sosial yang dibentuk oleh Jepang di antaranya Gerakan 3A, Pusat Tenaga Rakyat, Jawa Hokokai, dan Masyumi. Gerakan 3A Dipimpin oleh Mr. Syamsudin, dengan tujuan meraih simpati penduduk dan tokoh masyarakat sekitar. Dalam perkembangannya, gerakan ini kurang berhasil sehingga Jepang membentuk organisasi yang lebih menarik. Sebagai ganti Gerakan Tiga A, Jepang mendirikan gerakan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pada tanggal 1 Maret 1943. Gerakan Putera dipimpin tokoh-tokoh nasional yang sering disebut Empat Serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, K.H. Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara. Gerakan Putera cukup diminati oleh kalangan tokoh pergerakan Indonesia. Pemerintah Jepang kurang puas dengan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan Putera karena para tokoh gerakan Putera memanfaatkan organisasi ini untuk melakukan konsolidasi dengan tokoh-tokoh perjuangan.

Hubungan Partai Buruh Belanda Dengan Kaum Pergerakan Indonesia Hubungan Partai Buruh Belanda Dengan Kaum Pergerakan Indonesia

Pergerakansosialis.com – Seorang petinggi dari negeri Belanda akan segera turun dari kapal diiringi sambutan para wartawan surat kabar Belanda. Orang itu bernama Henri Hubertus Van Kol, anggota Parlemen Kerajaan Belanda sekaligus salah seorang pemimpin Partai Buruh Sosialis-Demokrat Belanda. Dalam perjalanan dinasnya mengelilingi Hindia Belanda, Van Kol sempat singgah di Jepara untuk menemui Kartini. Berdasarkan penuturan Sitisoemandari dalam Kartini Sebuah Biografi (1979: hlm. 254), keinginan untuk berjumpa dengan putri Bupati Jepara itu timbul atas dorongan dari Stella H. Zeehandelaar, aktivis sosialis perempuan sekaligus sahabat pena Kartini di Belanda. Sitisoemandari mendeskripsikan Van Kol sebagai sosok besar dan tegap. Mengutip pengarang W.H. Vliegen, ia menyebut Van Kol memiliki pengaruh “magis” dalam kepribadiannya sebagai pemimpin. Pengaruhnya ini terutama sangat dirasakan di kalangan kaum buruh. Selain mereka, para bupati termasuk Ayah Kartini pun disebutkan sangat menaruh hormat pada sosok tersebut. Van Kol bukan orang baru di Hindia Belanda. Pada tahun 1876, ia pernah bekerja di Tegal, Jawa Tengah, sebagai tenaga ahli pemerintah kolonial Belanda. Kala itu, ia menyaksikan diskriminasi yang mewarnai kehidupan kelas menengah ke bawah di negara koloni. Namun, ia tidak mengkritik pemerintah kolonial dan tetap bertahan melakoni pekerjaannya selama hampir 16 tahun. Pada 1892, Van Kol akhirnya memutuskan pulang ke Belanda.

Setelah kembali ke negerinya, Van Kol tak berdiam diri lagi. Pada 1894 ia mendirikan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau Partai Buruh Sosial-Demokrat bersama 11 orang cendekiawan lainnya. Salah satu tujuan pembentukannya ialah meningkatkan kesejahteraan penduduk pribumi di negara-negara koloni. 104), Van Kol melalui SDAP berulang kali melancarkan kritik terhadap kebijakan Pemerintah Belanda terkait tanah Hindia Belanda. Dalam tuntutannya, SDAP meminta agar Pemerintah Belanda menghentikan Perang Aceh dan menghapus kerja paksa. Mereka juga menunjukkan dukungannya kepada pergerakan yang menuntut perubahan harkat kehidupan masyarakat kecil di Hindia Belanda. Bukan hanya orang-orang Belanda dan kelompok Indo yang menerima dukungan ini, tapi juga orang-orang Jawa yang tergabung dalam Indische Partij, Budi Utomo, dan Sarekat Islam. Menurut Van Kol, pembentukan kelompok diskusi atau organisasi sosialis di negara-negara koloni sudah sepatutnya dilakukan. Menurut Preben Kaarsholm dalam antologi Internationalism in the Labour Movement: 1830-1940 (hlm. Namun, menurut Tichelman, SDAP selalu bersikap ragu-ragu menanggapi usulan Van Kol.

Mereka masih menganggap Hindia Belanda sebagai teritori yang tertutup dan kurang memiliki manfaat bagi kepentingan politik negara induk. Empat tahun setelah pidato di Paris, Van Kol kembali mempertegas resolusinya. Awal abad ke-20, pengaruh SDAP sudah mulai terasa di Hindia Belanda. Perkumpulan sosialis di Hindia Belanda disebutkan sudah mulai berkegiatan sejak tahun 1902. Lingkaran ini bahkan sempat membentuk Kontributie Vereeniging (perkumpulan penyumbang) yang ditujukan untuk menggalang dana bagi SDAP yang akan mengikuti pemilu pada 16 Juni 1905 di Belanda. Meskipun tidak berhasil memenangkan Pemilu 1905, SDAP tidak lantas kehilangan pamor. Sebaliknya, memasuki 1910-an partai ini semakin besar. Di saat yang bersamaan, SDAP juga mulai bersentuhan dengan kelompok Indo dan orang-orang pribumi terpelajar yang merantau ke Belanda. Berdasarkan catatan Pradipto Niwandhono dalam Yang Ter(di)lupakan: Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia (2011: hlm. 136), dunia pergerakan di Hindia Belanda mulai mengarah radikalisme saat memasuki tahun 1912. Di tahun itu, Douwes Dekker muncul mewakili golongan Indo miskin dan pribumi melalui kampanye politik yang diadakan dewan kotapraja Bandung. Ia kemudian membentuk Indische Partij (IP) bersama kawan-kawan Indonya. Namun, karena Politik Etis telah menempatkan orang Indo dan pribumi dalam posisi bersaing, IP tidak berhasil meraih dukungan dari orang-orang pribumi.

Untuk mengatasi hal itu, IP lantas mengajak beberapa orang pribumi dari kalangan terpelajar. Menjelang tutup tahun 1912, Douwes Dekker berhasil mengajak Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat untuk turut dalam kegiatan politik IP. Maka lahirlah Tiga Serangkai. Menurut Pradipto, IP banyak berafiliasi dengan serikat buruh pekerja. Keanggotaannya bersifat campuran antara orang Indo dan pribumi. Sebagian besar basis massa proletar ini datang dari wilayah keanggotaan di sekitar Semarang. Sebanyak 90 persen keanggotaan IP Semarang diisi oleh orang-orang dari serikat buruh kereta api. “Konsultasi yang luas pun diadakan dengan anggota Parlemen dari SDAP sebagai persiapan menghadapi perdebatan di Parlemen mengenai pengasingan itu. Namun, hanya SDAP yang tampil membela tiga serangkai itu,” tulis Poeze. Kedatangan Tiga Serangkai di Belanda diterima dengan penuh rasa hormat oleh orang-orang SDAP. Bahkan menurut temuan Poeze, sehari setelah menginjakkan kaki di Belanda, organ SDAP Het Volk, langsung mendedikasikan satu halaman penuh untuk memuat cerita perlakuan tidak adil pemerintah kolonial terhadap ketiganya. Pada tahun 1917, Soewardi memutuskan bergabung dengan harian Het Volk. Di sana, ia berkesempatan melaporkan jalannya rapat-rapat SDAP dan melakukan tinjauan panjang mengenai masalah Hindia Belanda. Poeze menyebut hubungan Soewardi dan SDAP semakin akrab berkat tulisan berjudul “Suara Seorang Hindia” yang didedikasikan untuk memperingati hari ulang tahun SDAP yang ke-25. “Banyaklah kita kaum nasionalis Hindia berhutang budi kepada partai ini. Bukankah kaum sosial-demokrat yang di bawah pimpinan Van Kol di Parlemen Belanda selalu bersikap jelas membela kepentingan kita terhadap borjuasi Belanda? ” tulis Soewardi seperti dikutip oleh Poeze. Tulisannya itu mengundang beragam reaksi. Banyak yang menegurnya karena melayangkan simpati kepada SDAP secara terbuka. Kebetulan di saat yang bersamaan, SDAP tengah terguncang akibat perseturuan dengan Sociaal-Democratische Partij (SDP) atau Partai Sosial Demokrat, kelompok sosialis revolusioner cikal bakal partai komunis Belanda. Namun, tampaknya Soewardi tidak terganggu dengan perseturuan orang-orang sosialis Belanda.

Baca Juga :Gaya Baru Pergerakan Politik Mahasiswa Masa Kini

Hegemoni ini terjadi melalui media massa, sekolah-sekolah, bahkan melalui khotbah atau dakwah kaum religius, yang melakukan indoktrinasi sehingga menimbulkan kesadaran baru bagi kaum buruh. Daripada melakukan revolusi, kaum buruh malah berpikir untuk meningkatkan statusnya ke kelas menengah, mampu mengikuti budaya populer, dan meniru perilaku atau gaya hidup kelas borjuis. Ini semua adalah ilusi yang diciptakan kaum penguasa agar kaum yang didominasi kehilangan ideologi serta jatidiri sebagai manusia merdeka. 2. “war of movement” (perang pergerakan). Perang posisi dilakukan dengan cara memperoleh dukungan melalui propaganda media massa, membangun aliansi strategis dengan barisan sakit hati, pendidikan pembebasan melalui sekolah-sekolah yang meningkatkan kesadaran diri dan sosial. Karakteristiknya: Perjuangan panjang. Mengutamakan perjuangan dalam system. Perjuangan diarahkan kepada dominasi budaya dan ideology. Perang pergerakan dilakukan dengan serangan langsung(frontal), tentunya dengan dukungan massa. Perang pergerakan bisa dilakukan setelah perang posisi dilakukan, bisa juga tidak. Meskipun analisa Gramsci berkisar pada perang kelas ekonomi, konsep hegemoni dapat diperluas ke wilayah sosial dan regional.