Sejarah Latar Belakang Pergerakan Nasional Sejarah Latar Belakang Pergerakan Nasional

Pergerakansosialis.com – Pergerakan nasional ditandai oleh bermunculannya organisasi-organisasi kebangsaart, yang berciri sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Bagaimanakah pergerakan nasional lahir? Pergerakan nasional ini berawal dari keprihatinan kalangan terpelajar tertentu akan banyaknya anak bumiputera yang tidak beroleh kesempatan menempuh pendidikan. Keadaan ekonomi rakyat Indonesia saat itu menyedihkan, padahal pendidikan menuntut biaya yang tidak sedikit. Bagaimana caranya agar martabat rakyat Indonesia berkembang berkat pendidikan? Salah seorang kalangan terpelajar yang peka terhadap kondisi saat itu adalah Dr. Dokter Wahidin menginginkan sebanyak mungkin anak bumiputera terdidik. Namun, ia menyadari harus ada dana untuk pendidikan mereka. Lalu, ia memi1iki gagasan untuk menggalang suatu gerakan pengumpulkan dana bea siswa. Sudah tentu ia tidak bisa sendirian. Maka, antara tahun 1906-1907, ia pun berkeliling ke seluruh Pulau Jawa mengajak para bupati dan kalangan terpelajar agar mendukung gagasannya. Gagasan Dokter Wahidin itu tidak bertepuk sebelah tangan. Ada sekelompok mahasiswa sekolah kedokteran Stovia, Jakarta, membentuk suatu organisasi sebagai tanggapan terhadap gagasan Dr. Wahidin. Organisasi inilah yang merupakan cikal bakal pergerakan nasional, yang diisi oleh rentetan munculnya berbagai organisasi kebangsaan lainnya. Dalam suatu rapat yang sederhana, beberapa mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA, di Kwitang Jakarta, bersepakat mendirikan organisasi kebangsaan bernama Boedi Oetomo (baca: budi utomo), atau disingkat BO.

Rapat itu berlangsung pada tanggal 20 Mei 1908. Para tokoh organisasi ini antara lain Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Cipto Mangunkusumo, R.T. Dapat dikatakan, BO merupakan organisasi kebangsaan yang pertama. Berdirinya organisasi ini menandai bentuk perjuangan baru melawan penjajah. Dahulu rakyat Indonesia berjuang secara fisik serta dengan organisasi yang berciri tradisional (kedaerahan). Sejak BO berdiri, perjuangan Indonesia menempuh cara organisasi modern demi kepentingan seluruh bangsa (nasional). Itulah sebabnya, hari jadi BO kita peringati sekarang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. BO bertekad meningkatkan martabat bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Agar tekad itu tercapai, organisasi tersebut memusatkan kegiatannya dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Adapun program yang dijalankannya antara lain memperhatikan kepentingan pengajaran umum, memajukan pertanian, peternakan, dan perdagangan, memajukan teknologi dalam industri kecil, mengenalkan kem.bali warisan kebudayaan dan ilmu pengetahuan nenek moyang, mempertinggi cita-cita kemanusiaan pada umumnya, serta memperhatikan segala hal yang perlu untuk menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat. Pada akhir tahun 1909, BO telah mempunyai cabang di 40 tempat dengan jumlah anggota sekitar 10.000 orang.

Dukungan terhadap organisasi ini terutama datang dari kalangan pelajar (kebanyakan bangsawan) dan para pejabat bumiputera (bupati dan sejawat). Pada tahun-tahun berikutnya, organisasi ini memperluas orientasi perjuangannya, tidak hanya di bidang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial, melainkan juga melangkah ke bidang politik. Pada tahun 1909, Kyai Haji Saman-hudi, seorang saudagar batik dari Laweyan, Solo, mendirikan suatu organisasi bernama Sarekat Dagang Istam. Tujuan semula dari organisasi ini adalah melindungi sekaligus memajukan usaha para pedagang bumiputera dalam rangka menanggulangi monopoli para pedagang besar Tionghoa. Selain itu, organisasi ini bertuj uan j uga meningkatkan pengamalan agama Islam di kalangan anggotanya. Tampak bagi kita, organisasi tersebut menempatkan ekonomi dan agama sebagai landasan organisasi. Sarekat Dagang Islam memperoleh sambutan luas di kalangan pedagang Islarn. Kemudian, pada tahun 1911, Sarekat Dagang Islam beralih nama menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama tersebut menandai perluasan ruang lingkup gerakan. Organisasi ini tidak lagi membatasi dirinya pada urusan perlindungan perdagangan saja, melainkan j uga melawan segala bentuk penindasan dan kesombongan rasial.

Baca Juga : Dukung Pergerakan Sosial Gabungan Scooterist Peduli

Perluasan gerakan tersebut merupakan desakan seorang anggota dari suatu kantor dagang di Surabaya, bemama Haji UmarSaid Cokroaminoto. Ia kemudian menjabat Ketua SI sejak tahun 1912. Adapun tokoh SI lainnya adalah Haji Agus Salim, Abdul Muis, dan Suryopranoto. Dalam Anggaran Dasarnya, tertanggal 10 September 1912, SI menggariskan program organisasinya sebagai berikut, yaitu mengembangkan jiwa berdagang, memberi bantuan kepada para anggota yang tertimpa kesukaran (semacam koperasi), memajukan. Kalau kita bandingkan dengan BO, akan kita jumpai keunikan tersendiri pada SI. BO amat kentara dipelopori oleh kalangan intelektual dan kalangan atas (bupati dan sejawat). Sedangkan SI mencakup semua lapisan masyarakat, sampai pada lapisan bawah. Dengan demikian, organisasi itu menempatkan dirinya sebagai gerakan rakyat. Itulah sebabnya, pemerintah kolonial merasa was-was dengan gerak-gerik SI. Gubernur Jenderal Idenburg berupaya mempersulit kegiatan organisasi tersebut. Misalnya, SI tidak diperbolehkan mempunyai pengurus besar, sehingga ijin menjadi badan hukum ditolak. Terhadap tindakan pemerintah kolonial itu, SI membentuk badan pusat yang mengatur SI di daerah-daerah. Pada bulan Juni 1916, organisasi ini menyelenggarakan sidang yang disebut Kongres Nasional SI.

Dukung Pergerakan Sosial Gabungan Scooterist Peduli Dukung Pergerakan Sosial Gabungan Scooterist Peduli
Pergerakansosialis.com – Tiada hari libur untuk sebuah pergerakan sosial di Sukabumi, kami para relawan kemanusiaan yang dihina ketika kami salah. Kami tidak pernah di puji ketika berhasil,namun semua itu bukan barometer bagi kami. Hal yang kami dan rekan rekan lakukan hanyalah sedikit pergerakan dan untuk memanusiakan manusia sebagai manusia. Hari ini Minggu 02-02-2020, gabungan scooterist peduli (GSP) posko Sukabumi menyampaikan amanah yang begitu besar dari para dermawan yang telah mengorbankan sebagian harta nya untuk kelangsungan hidup ibu Murah. Alamatnya berlokasi di Kampung Cikate, Desa Cikembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Tindakan yang telah dilakukan merupakan bukti tulus dari hati bahwa di sekitar kita masih ada yang perlu dibantu dan masih memerlukan apa yang dibutuhkan. Mudah mudahan pergerakan ini bukan hanya ajang kompetisi pegiat sosial yang ada kami ingin bersinergi agar pergerakan kemanusia an ini tetap berjalan dan panjang umur selalu. Untuk donasi dan bantuan bisa menghubungi Sekre Forum Komunikasi Vespa Independent Sukabumi Bersatu (FK – VISB). Jalan raya cibolang Cisaat Sukabumi depan pom bensin.

Perhimpunan Indonesia menjadi organisasi politik bersifat radikal setelah mendapat banyak pengaruh dari tokoh pergerakan nasional, Mohammad Hatta. Ia berhasil merangsang inteletual rekan-rekannya dan menumbuhkan semangat nasionalisme menentang penjajahan Belanda. Kegiatn politik Perhimpunan Indonesia yang utama adalah menyebarkan semangat persatuan untuk mmenentang penjajahan Belanda. Penyebarluasan itu dilakukan lewat majalah Indonesia Merdeka. Perjuangan politik tidak hanya terbatas di negara Belanda dan Indonesia, melainkan di forum internasional. Partai Nasional Indonesia didirikan di Bandung pada 4 juli 1927 oleh Ir. Soekarno. Tujuan PNI yaitu mencapai Indonesia merdeka yang dilakukan atas usaha sendiri. Asas PKI bersandarpada 3 tiga pokok perjuangan,sebagai berikut. Nonkoorperasi memiliki makna tidak bersedia bekerja sama dengan pemerintah kolonial dan hanya mengakui pemerinah yang lahir dari rakyat sendiri. Marhaenisme,yakni ajaran yang berkeinginan mengangkat rakyat yang melarat. Keanggotan PNI bersifat terbuka, semangat nasionalisme yang dikobarkan PNI telah mengkhawatirkan posisi penjajah Belanda. Hal ini dikarenakan semangat tersebut memungkinkan timbulnya gerakan radikalisme. Pemerinah Hindia Belanda mengawasi secara ketat perkembangan PNI.Propaganda-propaganda Bung Karno yang menarik mendapat dukungan dari masyarakat.

Hal iniyang menyebabkan PNI berkembang pesat. Melihat keadaanini, Gubernur Jenderal dalam pembukaan Sidang Dewan Rakyat (15 Mei 1928) memandang perlu memberi peringatan kepada pemimpin PNI. Akan tetapi, para pemimpin PNI tidak menghiraukan peringatan itu. Pada bulan Juli 1929 tersiar kabar yang bersifat provokasi,bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan pada awal tahun1930. Berdasarkan berita tersebut, pemerintah melakukan penangkapan terhadap pemimpim-pemimpin PNI, yaitu Ir. Soekarno, Maskun, Gatot Mangkupraja, dan Supriadinata. Penangkapan itu dilakukan pada tanggal 24 Desember 1929. Ir. Soekarno ditangkap sepulang dari menghadiri kongres PPPKI di Surabaya (pada waktu itu ia masih ada di Yogyakarta). Perkara Ir. Soekarno dan kawan-kawannya baru sembilan bulan kemudian diajukan ke Pengadilan Landraad Bandung. Dalam persidanganyang digelar di Pengadilan Bandung,Ir. Soekarno menyampaikan pembelaan melalui tulisan yang berjudul Indonesia Menggugat. Pengadilan tidak dapat membuktikan kesalahan Ir. Soekarno. Meskipun demikan, pemerintah kolonial Belanda tetap menjatuhkan hukuman penjara terhadap dirinya. PNI pada tahun 1931 bubar, kemudian berdirilah partai baru Partai Indonesia (Partindo) pimpinan Mr. Sartono dan PNI Baru pimpinan Moh. Ia mendirikan organisasi dengan nama Indischa Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) pada bulan Mei 1914. Anggota ISDV kebanyakan terdiri atas orang-orang Belanda dan beberapa orang Indonesia seperti Semaun, Alimin,dan Darsono. Tahun 1925 Indische Vereeniging berubah menjadi Perhimpunan Indonesia dengan tujuannya Indonesia merdeka.

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh aktivis PI Belanda maupun di luar negeri, diantaranya ikut serta dalam kongres Liaga Demikrasi Perdamaian Internasional tahun 1926 di Paris, dalam kongres itu Mohammad Hatta dengan tegas menyatakan tuntutan akan kemerdekaan Indonesia. Aksi-aksi yang dilakukan menyebabkan Hatta dkk. Belanda. Karena dituduh menghasut untuk pemberontakan terhjadap Bealnada maka tahun 1927 tokoh-tokoh PI diantaranya M. Hatta, Nasir Pamuncak, Abdul Majid Djojonegoro dan Ali Sastroamijoyo ditangkap dan diadili. Tindakan-tindakan PI dapat dikatakan radikal. Radikal adalah suatu paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan secara keras. Pada 23 Mei 1920 PKI berdiri di Semarang. Tujuan PKI adalah melaksanakan garis politik yang ditetapkan komunisme internasional (komintern) ddengan cara mengusir penjajah Belanda dan mendirikan negara komunis Indonesia. Untuk memperbanyak anggota dan menyebarkan komunisme, PKI melakukan penyusupan kedalam tubuh Sarikat Islam (SI). Setelah merasa memperoleh kemajuan yang pesat PKI segera merencanakan suatu pemberontakan terhadap Belanda. Pada 13 November 1926 PKI menyerang keduduknan Belanda di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur. Belanda dapat menumpas pemberontakan PKI.

Baca Juga : Sejarah Pergerakan Nasional Pada Masa Pendudukan Jepang

Strategi perjuangan moderat dengan taktik koorperasi (bekerja sama) mulai dilaksanakan tahun 1930. Pada masa itu partai-partai berupaya menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah Belanda. Kedekatan partai-partai politik dengan pemerintah kolonial Belanda hanyalah sebuah taktik perjuangan, sebab tujuan dari taktik ini tidak berubah,yakni tetapa berusaha mencapai Indonesia merdeka. Pemerintah Belanda melakukan tindakan keras dengan cara menangkap tokoh-tokoh kaum pergerakan. Anggota-anggota polisi rahasi banyak mematai gerak-gerik setiap tokoh pergerakan. Mereka melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap seorang atau kelompok yang dicurigainya. Belanda secara terbuka menyatakan bahwa keberadaan suatu partai politik tidak mempunyai arti lagi. Selainitu sekolah swasta nasional yang dapat melahirkan pemimpin nasionalis berbahaya ditutup Belanda, dengan dikeluarkannya Wilde Scholen Ordonantie (Ordonansi Sekolah Liar). Media komunikasi massa yang menyuarakan semangat bangsa pun dibredel. Tindakan-tindakan pemerintah kolonial Belanda tersebut amat merugikan kelangsungan dan kegiatan organisasi-organisasi pergerakan nasional. Partai-partai politik jadi kehilangan kontak dengan rakyat,begitu pula sebaliknya rakyat yang membutuhkan koordinasi gerakan melalui partai politik. Kelompok organisasi yang perjuangannya bersifat moderat antara lain Budi Utomo, Persatuan Bangsa Indonesia, Parindra, Gerindra. Kemoderatan organisasi tersebut tercemin dari ikut sertanya dalam Dewan Rakyat (Volksraad).

Sejarah Pergerakan Nasional Pada Masa Pendudukan Jepang Sejarah Pergerakan Nasional Pada Masa Pendudukan Jepang
  • Pergerakansosialis.com – Kerja paksa pada masa kependudukan Jepang dikenal dengan istilah romusha. Romusha merupakan salah satu bukti penderitaan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Kapan Jepang mulai menguasai Indonesia? Bagaimana Jepang menguasai Indonesia? Bagaimana kondisi bangsa Indonesia pada masa penjajahan Jepang? Awal mula tujuan Jepang menguasai Indonesia ialah untuk kepentingan ekonomi dan politik. Jepang merupakan negara industri yang sangat maju dan sangat besar. Jepang sangat menginginkan bahan baku industri yang tersedia banyak di Indonesia untuk kepentingan ekonominya. Indonesia juga merupakan daerah pemasaran industry yang strategis bagi Jepang untuk menghadapi persaingan dengan tentara bangsabangsa Barat. Untuk menyamakan jalur pelayaran bagi bahan-bahan mentah dan bahan baku dari ancaman Sekutu serta memuluskan ambisinya menguasai wilayahwilayah baru, Jepang menggalang kekuatan pasukannya serta mencari dukungan dari bangsa-bangsa Asia. Perhatikan gambar peta di atas! Peta tersebut menggambarkan gerakan tentara Jepang ketika masuk ke Indonesia. Terdapat tiga tempat penting pendaratan Jepang ketika masuk ke Indonesia, yakni Tarakan (Kalimantan), Palembang (Sumatra), dan Jakarta (Jawa). Berdasarkan tiga lokasi tersebut, lokasi manakah yang paling dekat dengan tempat tinggal kalian?
  • Dapatkah kalian temukan alasan mengapa Jepang memilih menduduki tempat tersebut? Tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang strategis untuk menguasai Indonesia. Selain itu, tiga lokasi tersebut merupakan pusat perkembangan politik dan ekonomi pada masa kependudukan Belanda. Pada tanggal 8 Desember 1941, Jepang melakukan penyerangan terhadap pangkalan militer AS di Pearl Harbour. Setelah memborbardir Pearl Harbour, Jepang masuk ke negara-negara Asia dari berbagai pintu. Pada tanggal 11 Januari 1942, Jepang mendaratkan pasukannya di Tarakan, Kalimantan Timur. Jepang menduduki kota minyak Balikpapan pada tanggal 24 Januari. Selanjutnya, Jepang menduduki kota-kota lainya di Kalimantan. Jepang berhasil menguasai Palembang pada tanggal 16 Februari 1942. Setelah menguasai Palembang, Jepang menyerang Pulau Jawa. Pulau Jawa merupakan pusat pemerintahan Belanda. Batavia (Jakarta) sebagai pusat perkembangan Pulau Jawa berhasil dikuasai Jepang pada tanggal 1 Maret 1942. Setelah melakukan berbagai pertempuran, Belanda akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang-Jawa Barat. Surat perjanjian serah terima kedua belah pihak ditandatangani oleh Letnan Jenderal Ter Poorten (Panglima Angkatan Perang Belanda) dan diserahkan kepada Letnan Jenderal Imamura (pimpinan pasukan Jepang).

    Sejak saat itu seluruh Indonesia berada di bawah kekuasan Jepang. 1) Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XXV) untuk Sumatra, dengan pusat di Bukittinggi. 2) Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XVI) untuk Jawa dan Madura dengan pusat di Jakarta. 3) Pemerintahan Angkatan Laut (Armada Selatan II) untuk daerah Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku dengan pusat di Makassar. Jepang menggunakan sistem pemerintahan berdikari dalam menjalankan pemerintahan di daerah kependudukannya. Berdikari berarti “berdiri sendiri”. Maksudnya, pemerintah pusat tidak banyak berperan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasukan di daerah kependudukannya. Dengan demikian, pemerintahan militer Jepang di Indonesia lebih leluasa untuk menerapkan sistem penjajahan. Jepang melakukan propaganda dengan semboyan “Tiga A” (Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia) untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Selain itu, Jepang menjanjikan kemudahan bagi bangsa Indonesia dalam melakukan ibadah, mengibarkan bendera merah putih yang berdampingan dengan bendera Jepang, menggunakan bahasa Indonesia, dan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” bersama lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”.

    Baca Juga :Hubungan Partai Buruh Belanda Dengan Kaum Pergerakan Indonesia

    Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh Jepang hanyalah janji manis saja. Sebagai penjajah, Jepang justru lebih kejam dalam menjajah bangsa Indonesia. Jepang melakukan beberapa kebijakan terhadap negara jajahan Indonesia. Program yang paling mendesak bagi Jepang adalah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada di Indonesia untuk tujuan perang. Beberapa kebijakan tersebut antara lain sebagai berikut. Organisasi-organisasi sosial yang dibentuk oleh Jepang di antaranya Gerakan 3A, Pusat Tenaga Rakyat, Jawa Hokokai, dan Masyumi. Gerakan 3A Dipimpin oleh Mr. Syamsudin, dengan tujuan meraih simpati penduduk dan tokoh masyarakat sekitar. Dalam perkembangannya, gerakan ini kurang berhasil sehingga Jepang membentuk organisasi yang lebih menarik. Sebagai ganti Gerakan Tiga A, Jepang mendirikan gerakan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pada tanggal 1 Maret 1943. Gerakan Putera dipimpin tokoh-tokoh nasional yang sering disebut Empat Serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, K.H. Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara. Gerakan Putera cukup diminati oleh kalangan tokoh pergerakan Indonesia. Pemerintah Jepang kurang puas dengan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan Putera karena para tokoh gerakan Putera memanfaatkan organisasi ini untuk melakukan konsolidasi dengan tokoh-tokoh perjuangan.

Hubungan Partai Buruh Belanda Dengan Kaum Pergerakan Indonesia Hubungan Partai Buruh Belanda Dengan Kaum Pergerakan Indonesia

Pergerakansosialis.com – Seorang petinggi dari negeri Belanda akan segera turun dari kapal diiringi sambutan para wartawan surat kabar Belanda. Orang itu bernama Henri Hubertus Van Kol, anggota Parlemen Kerajaan Belanda sekaligus salah seorang pemimpin Partai Buruh Sosialis-Demokrat Belanda. Dalam perjalanan dinasnya mengelilingi Hindia Belanda, Van Kol sempat singgah di Jepara untuk menemui Kartini. Berdasarkan penuturan Sitisoemandari dalam Kartini Sebuah Biografi (1979: hlm. 254), keinginan untuk berjumpa dengan putri Bupati Jepara itu timbul atas dorongan dari Stella H. Zeehandelaar, aktivis sosialis perempuan sekaligus sahabat pena Kartini di Belanda. Sitisoemandari mendeskripsikan Van Kol sebagai sosok besar dan tegap. Mengutip pengarang W.H. Vliegen, ia menyebut Van Kol memiliki pengaruh “magis” dalam kepribadiannya sebagai pemimpin. Pengaruhnya ini terutama sangat dirasakan di kalangan kaum buruh. Selain mereka, para bupati termasuk Ayah Kartini pun disebutkan sangat menaruh hormat pada sosok tersebut. Van Kol bukan orang baru di Hindia Belanda. Pada tahun 1876, ia pernah bekerja di Tegal, Jawa Tengah, sebagai tenaga ahli pemerintah kolonial Belanda. Kala itu, ia menyaksikan diskriminasi yang mewarnai kehidupan kelas menengah ke bawah di negara koloni. Namun, ia tidak mengkritik pemerintah kolonial dan tetap bertahan melakoni pekerjaannya selama hampir 16 tahun. Pada 1892, Van Kol akhirnya memutuskan pulang ke Belanda.

Setelah kembali ke negerinya, Van Kol tak berdiam diri lagi. Pada 1894 ia mendirikan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau Partai Buruh Sosial-Demokrat bersama 11 orang cendekiawan lainnya. Salah satu tujuan pembentukannya ialah meningkatkan kesejahteraan penduduk pribumi di negara-negara koloni. 104), Van Kol melalui SDAP berulang kali melancarkan kritik terhadap kebijakan Pemerintah Belanda terkait tanah Hindia Belanda. Dalam tuntutannya, SDAP meminta agar Pemerintah Belanda menghentikan Perang Aceh dan menghapus kerja paksa. Mereka juga menunjukkan dukungannya kepada pergerakan yang menuntut perubahan harkat kehidupan masyarakat kecil di Hindia Belanda. Bukan hanya orang-orang Belanda dan kelompok Indo yang menerima dukungan ini, tapi juga orang-orang Jawa yang tergabung dalam Indische Partij, Budi Utomo, dan Sarekat Islam. Menurut Van Kol, pembentukan kelompok diskusi atau organisasi sosialis di negara-negara koloni sudah sepatutnya dilakukan. Menurut Preben Kaarsholm dalam antologi Internationalism in the Labour Movement: 1830-1940 (hlm. Namun, menurut Tichelman, SDAP selalu bersikap ragu-ragu menanggapi usulan Van Kol.

Mereka masih menganggap Hindia Belanda sebagai teritori yang tertutup dan kurang memiliki manfaat bagi kepentingan politik negara induk. Empat tahun setelah pidato di Paris, Van Kol kembali mempertegas resolusinya. Awal abad ke-20, pengaruh SDAP sudah mulai terasa di Hindia Belanda. Perkumpulan sosialis di Hindia Belanda disebutkan sudah mulai berkegiatan sejak tahun 1902. Lingkaran ini bahkan sempat membentuk Kontributie Vereeniging (perkumpulan penyumbang) yang ditujukan untuk menggalang dana bagi SDAP yang akan mengikuti pemilu pada 16 Juni 1905 di Belanda. Meskipun tidak berhasil memenangkan Pemilu 1905, SDAP tidak lantas kehilangan pamor. Sebaliknya, memasuki 1910-an partai ini semakin besar. Di saat yang bersamaan, SDAP juga mulai bersentuhan dengan kelompok Indo dan orang-orang pribumi terpelajar yang merantau ke Belanda. Berdasarkan catatan Pradipto Niwandhono dalam Yang Ter(di)lupakan: Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia (2011: hlm. 136), dunia pergerakan di Hindia Belanda mulai mengarah radikalisme saat memasuki tahun 1912. Di tahun itu, Douwes Dekker muncul mewakili golongan Indo miskin dan pribumi melalui kampanye politik yang diadakan dewan kotapraja Bandung. Ia kemudian membentuk Indische Partij (IP) bersama kawan-kawan Indonya. Namun, karena Politik Etis telah menempatkan orang Indo dan pribumi dalam posisi bersaing, IP tidak berhasil meraih dukungan dari orang-orang pribumi.

Untuk mengatasi hal itu, IP lantas mengajak beberapa orang pribumi dari kalangan terpelajar. Menjelang tutup tahun 1912, Douwes Dekker berhasil mengajak Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat untuk turut dalam kegiatan politik IP. Maka lahirlah Tiga Serangkai. Menurut Pradipto, IP banyak berafiliasi dengan serikat buruh pekerja. Keanggotaannya bersifat campuran antara orang Indo dan pribumi. Sebagian besar basis massa proletar ini datang dari wilayah keanggotaan di sekitar Semarang. Sebanyak 90 persen keanggotaan IP Semarang diisi oleh orang-orang dari serikat buruh kereta api. “Konsultasi yang luas pun diadakan dengan anggota Parlemen dari SDAP sebagai persiapan menghadapi perdebatan di Parlemen mengenai pengasingan itu. Namun, hanya SDAP yang tampil membela tiga serangkai itu,” tulis Poeze. Kedatangan Tiga Serangkai di Belanda diterima dengan penuh rasa hormat oleh orang-orang SDAP. Bahkan menurut temuan Poeze, sehari setelah menginjakkan kaki di Belanda, organ SDAP Het Volk, langsung mendedikasikan satu halaman penuh untuk memuat cerita perlakuan tidak adil pemerintah kolonial terhadap ketiganya. Pada tahun 1917, Soewardi memutuskan bergabung dengan harian Het Volk. Di sana, ia berkesempatan melaporkan jalannya rapat-rapat SDAP dan melakukan tinjauan panjang mengenai masalah Hindia Belanda. Poeze menyebut hubungan Soewardi dan SDAP semakin akrab berkat tulisan berjudul “Suara Seorang Hindia” yang didedikasikan untuk memperingati hari ulang tahun SDAP yang ke-25. “Banyaklah kita kaum nasionalis Hindia berhutang budi kepada partai ini. Bukankah kaum sosial-demokrat yang di bawah pimpinan Van Kol di Parlemen Belanda selalu bersikap jelas membela kepentingan kita terhadap borjuasi Belanda? ” tulis Soewardi seperti dikutip oleh Poeze. Tulisannya itu mengundang beragam reaksi. Banyak yang menegurnya karena melayangkan simpati kepada SDAP secara terbuka. Kebetulan di saat yang bersamaan, SDAP tengah terguncang akibat perseturuan dengan Sociaal-Democratische Partij (SDP) atau Partai Sosial Demokrat, kelompok sosialis revolusioner cikal bakal partai komunis Belanda. Namun, tampaknya Soewardi tidak terganggu dengan perseturuan orang-orang sosialis Belanda.

Baca Juga :Gaya Baru Pergerakan Politik Mahasiswa Masa Kini

Hegemoni ini terjadi melalui media massa, sekolah-sekolah, bahkan melalui khotbah atau dakwah kaum religius, yang melakukan indoktrinasi sehingga menimbulkan kesadaran baru bagi kaum buruh. Daripada melakukan revolusi, kaum buruh malah berpikir untuk meningkatkan statusnya ke kelas menengah, mampu mengikuti budaya populer, dan meniru perilaku atau gaya hidup kelas borjuis. Ini semua adalah ilusi yang diciptakan kaum penguasa agar kaum yang didominasi kehilangan ideologi serta jatidiri sebagai manusia merdeka. 2. “war of movement” (perang pergerakan). Perang posisi dilakukan dengan cara memperoleh dukungan melalui propaganda media massa, membangun aliansi strategis dengan barisan sakit hati, pendidikan pembebasan melalui sekolah-sekolah yang meningkatkan kesadaran diri dan sosial. Karakteristiknya: Perjuangan panjang. Mengutamakan perjuangan dalam system. Perjuangan diarahkan kepada dominasi budaya dan ideology. Perang pergerakan dilakukan dengan serangan langsung(frontal), tentunya dengan dukungan massa. Perang pergerakan bisa dilakukan setelah perang posisi dilakukan, bisa juga tidak. Meskipun analisa Gramsci berkisar pada perang kelas ekonomi, konsep hegemoni dapat diperluas ke wilayah sosial dan regional.

Gaya Baru Pergerakan Politik Mahasiswa Masa Kini Gaya Baru Pergerakan Politik Mahasiswa Masa Kini

Pergerakansosialis.com – Dalam sejarah perjuangan bangsa indonesia, mahasiswa kerap terlibat dan memainkan peran yang penting khususnya dalam pergolakan politik. Tidak dipungkiri, pemerintahan kita saat ini merupakan sumbangsih dari perjuangan mahasiswa pada masa itu dalam upaya membawa perubahan terhadap pemerintahan orde baru yang dianggap gagal dalam memimpin bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Untuk memperjuangkan tujuan tersebut memerlukan usaha serta pengorbanan yang besar, sehingga pada masa itu tidak jarang para aktivis mahasiswa sampai mendekam di jeruji besi bahkan gugur di tengah perjuangannya menggalakan reformasi dalam tatanan pemerintahan. Namun semua terbayarkan dengan lengsernya Soeharto beserta rezimnya yang menandai lahirnya era baru. Salah satu perubahan yang nyata dari adanya reformasi tersebut adalah hidupnya keterbukaan dan kebebasan sebagai syarat negara demokrasi yang pada masa orde baru seakan mati suri. Hal tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa adalah agent of change (agen perubahan) dan merupakan aset penting dari bangsa Ini dalam menentukan masa depan bumi pertiwi. Berbicara mengenai perkembangan mahasiswa, tentu banyak perbedaan antara mahasiswa dulu dan sekarang begitu pula gaya pergerakan mereka dalam dunia politik.

Mahasiswa dulu dikenal sangat kritis dan berani dalam pergerakannya sedangkan mahasiswa masa kini sering dianggap apolitis dan tidak kritis. Hal tersebut ditengarai salah satunya perbedaan yang banyak mengubah kehidupan antara mahasiswa dulu dan sekarang yaitu perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang membawa serta globalisasi tersebut membawa berbagai macam dampak salah satunya masuknya budaya-budaya baru di kalangan mahasiswa seperti individualis, hedonisme dan konsumtif yang dengan mudah menjangkiti mahasiswa. Disamping itu, mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial dan disibukkan dengan mengikuti tren-tren yang tidak pernah usai yang membuat mereka kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Jika sudah begini, bagaimana mahasiswa masa kini bisa disebut agent of change jika mereka tidak mengenali masyarakatnya sendiri? Tidak peduli akan lingkungannya, dan tidak paham dengan realitas sosial yang ada di depan mata? Apabila ditelisik, mahasiswa masa kini merupakan generasi Z yang menurut Hellen Chou P. adalah generasi muda yang tumbuh dalam ketergantungan besar terhadap teknologi digital.

Menilik dari data google consumer behaviour, dari total 265,4 juta populasi penduduk di Indonesia, 50% adalah pengguna internet dan dari 50% tersebut didominasi oleh generasi Z. Hal tersebut seharusnya menjadi suatu kelebihan bagi mahasiswa jaman sekarang dan menjadi modal besar dalam pergerakannya di bidang politik. Di era digital kini, pergerakan mahasiswa tidak hanya terbatas dilakukan dengan cara konvensional seperti turun ke jalan dan berdemo, namun juga dengan menggunakan media sosial dimana seluruh masyarakat dari berbagai kelas sosial terkoneksi sehingga cakupannya lebih luas dan global. Gerakan digital sebagai gaya baru pergerakan politik Indonesia membutuhkan mahasiswa yang peka terhadap adanya permasalahan politik di sekitarnya dan memiliki kemauan untuk mengadakan perubahan, tidak hanya sebatas ketikan jempol di gawai saja namun juga dibarengi aksi nyata, selain itu menurut saya mahasiswa harus mempunyai komitmen dan fokus yang tinggi dalam pergerakannya agar pergerakan tersebut tetap independen (tidak ditunggangi kepentingan politik lain), substantif, dan tetap memihak untuk kepentingan rakyat. Dengan hal tersebut mahasiswa masa kini dapat membuktikan bahwa pergerakan politik mereka yang baru adalah pergerakan politik yang transormatif progresif untuk membangun Indonesia yang lebih baik lagi.

Baca Juga :Kondisi Sosial Politik Indonesia Masa Jepang Dan Belanda

Selain Tjokroaminoto, terdapat beberapa tokoh penting SI yang juga melakukan hal serupa, seperti Raden Gunawan, Abdul Moeis, dan Haji Agus Salim. Raden Gunawan melakuakan propaganda di Jawa Barat hingga Sumaera Selatan. Abdul Moeis, melakukan propaganda di Sumatera Barat. Haji Agus Salim, melakukan propaganda ke berbagai daerah di Indonesia, selain melakukan propaganda Haji Agus Salim juga memperkuat basis ideologis kelembagaan SI. Seiring berkembangnya Sarekat Islam, ideologi Sosialis-Komunis juga mengalami perkembangan di Indonesia. Sosialisme Komunis di Indonesia yang disebarkan oleh propagandis Belanda seperti: Sneevliet, Barandesteder, Ir. Baars, Brigsma, dan Van Burink. Mereka membentuk organisasi pergerakan sosialis Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang. Untuk memperjuangkan kepentingan buruh, ISDV kemudian membentuk Vereeniging voor Spoor en Tramweg Personeel (VSTP). Pergerakan yang dilakukan kaum sosialis ini, ternyata menarik simpati para anggota SI, sehingga beberapa anggota SI turut serta menjadi anggota ISDV dan VSTP. Dimulai dengan munculnya Semaoen yang merupakan anggota VSTP sebagai ketua SI Semarang, diikuti masuknya para anggota SI yang lain ke dalam organisasi-organisasi tersebut, hal ini tentu saja memperkuat posisi kaum sosialis. Sosialis-Komunis menjadi wacana baru bagi para anggota Sarekat Islam, selain Pan Islamisme.

Kondisi Sosial Politik Indonesia Masa Jepang Dan Belanda Kondisi Sosial Politik Indonesia Masa Jepang Dan Belanda

Pergerakansosialis.com – Sebelum Indonesia merdeka masyarakat Indonesia belum mengenal ajaran agam Islam seperti saat ini, karena rakyatnya dikuasai oleh negara lain. Pada masa penjajahan Jepang keadaan bangsa Indonesia mulai berubah karena kedatangan Jepang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat Indonesia. Jepang memberi kesempatan sebagan rakyat Indonesia untuk sekolah sehingga sedikit banyak rakyat Indonesia mulai berusaha untuk mewujudkan cita-cita Indonesia untuk merdeka secara mutlak tanpa bantuan dari Jepang. Namun, untuk mewujudkan cita-cita tersebut tidak semudah membalikkan tangan. Banyak halangan yang harus dilewati, terutama dalam peyebaran agama Islam. Untuk itu pemakalah memaparkan bagaimana peradaban Islam pada masa penjajahan Jepang. 1. Bagaimana Kondisi Sosial Politik Keagamaan Masyarakat Pada Masa Penjajahan Belanda dan Jepang? 3. Bagaimana Usaha-Usaha Tokoh Islam Membangun Peradaban Islam di Indonesia Masa Penjajahan? 1. Untuk mengetahui Kondisi Sosial Politik Keagamaan Masyarakat Pada Masa Penjajahan Belanda dan Jepang. 3. Untuk mengetahui Usaha-Usaha Tokoh Islam Membangun Peradaban Islam di Indonesia Masa Penjajahan. Pada masa kedudukan Jepang ajaran yang marak yaitu Shinthoisme tentang Hakko Ichiu yang berarti kesatuan keluarga umat manusia. Ajaran tersebut memotivasi bangsa dan pemerintah Jepang untuk membangun masyarakat di bawah kendali Jepang.

Semangat tersebut diaktualisasikan dalam bentuk imperialisme dan ekspansi. Pada tanggal 8 Maret 1942 panglima tentara Hindia Belanda menandatangani piagam penyerahan tanpa syarat di Kalijati kepada angkatan perang Jepang di bawah pimpinan Letjen Hitoshi Imamura. Sejak saat itu Indonesia resmi berada di bawah kekuasaan Jepang dan Belanda kehilangan atas hak Indonesia. Kebijakan pertama Jepang pada Indonesia diberlakukan Dai Nippon yaitu melarang semua rapat dan kegiatan politik. Pada tanggal 20 Maret 1942, dikeluarkan peraturan yang membubarkan semua organisasi politik dan semua bentuk perkumpulan. Pada tanggal 8 September 1942 dikeluarkan UU no. 2 Jepang mengendalikan seluruh organisasi nasional. Keluarnya UU tersebut menjadikan organisasi nasional saat itu sedang giat-giatnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia harus dilumpuhkan. Dalam rangka menancapkan kekuasaan di Indonesia, pemerintah militer Jepang melancarkan strategi politisnya dengan membentuk gerakan tiga A. Gerakan ini merupakan upaya untuk merekrut dan mengerahkan tenaga rakyat yang dimanfaatkan dalam perang Asia Timur Raya. Gerakan tiga A dalam realisasinya tidak mampu bertahan lama karena rakyat Indonesia tidak sanggup menghadapi kekejaman militer Jepang dan berbagai bentuk eksploitasi.

Ketidak suksesan gerakan tiga A membuat Jepang mencari bentuk lain untuk dapat menarik simpati rakyat dengan cara menawarkan kerjasama dengan para pemimpin Indonesia untuk membentuk “Putera”. Jepang berharap Putera dapat menjadi wadah untuk menggalang persatuan dan menjadi kekuatan tersembunyi. Keberhasilan organisasi Putera tidak terlepas dari kemampuan para pemimpin serta tingginya kepercayaan rakyat Indonesia pada para tokoh nasional. Langkah Jepang selanjutnya yaitu membentuk Dinas Polisi Rahasia yang disebut Kemtai yang bertugas mengawasi dan menghukum pelanggaran terhadap pemerintah Jepang Kemtai ini menyebabkan tokoh pergerakan nasional Indonesia bersikap kooperatif karena untuk menghindari kekejaman Kemtai yang sangat terkenal. Selain kebijakan politik di atas pemerintah militer Jepang juga melakukan perubahan dalam melakukan birokrasi pemerintahan diantaranya menbentuk organisasi pemerintah ditingkat pusat (Departemen) dan membentuk couw sang in (Dewan Penasehat). Berdirinya beberapa negara Islam di kepulauan Indonesia-Melayu merupakan salah satu bukti kuatnya pengaruh Islam. Selain itu, Islam berhasil mempersatukan kelompok etnis yang terdiri atas ratusan suku yang ada dikepulauan ini.

Baca Juga :Orang Konservatif Di Tengah Radikalisasi Pergerakan

Islam Indonesia telah membentuk institui politik sejak abad ke-13. Namun, institusi politik Islam di beberapa daerah tidak sama. Adab ke-16 merupakan saksi munculnya kerajaan Islam terutama di Jawa. Namun, beberapa daerah pedalaman masih bersifat Hindu-Budha. Kerajaan-kerajaan Islam pada umumnya berdiri setelah kerajaan lama bercorak Budha atau Hindu mengalami kemunduran. Wilayah kerajaan itu pada umumnya Samudra Pasai, Aceh, Malaka, Demak, dan beberapa kerajaan yanng bersifat tribal lainnya. Kota Samudera yang didirikan oleh Sultan Malik Al-Shalih sangat berpengaruh dalam islamisasi di wlayah sekitarnya seperti Malaka, Pidie, dan Aceh. Kerajaan Samudera Pasai mulai berkembang sebagai pusat pedagangan dan pusat perkembangan Islam di Selat Malaka sejak akhir abad 13-16. Sebagai pusat perdagangan, kerajaan Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas beridentitas ketuhanan yang dinamakan dirham yang sistem penempaannya berpengaruh didunia Melayu. Mata uang tersebut sampai sekarang dianggap sebagai mata uang emas tertua yang pernah dikeluarkan oleh sebuah kerajaan Islam di Asia Tenggara. Samudera Pasai merupakan bagian dari wilayah kerajaan Aceh.

Orang Konservatif Di Tengah Radikalisasi Pergerakan Orang Konservatif Di Tengah Radikalisasi Pergerakan

Pergerakansosialis.com – Ayahnya bernama Raden Soewadji, seorang wedana. Dengan kepala keluarga bekerja sebagai birokrat kolonial, sudah barang tentu keluarga Raden Soewadji hidup serba cukup dan terpandang. Terbiasa hidup mewah dan dimanja kakek-neneknya, Soebroto kecil tumbuh sebagai bocah nakal. Malas belajar dan suka kelahi adalah bagian dari kesehariannya. Bukan Soebroto namanya jika tak pulang dengan wajah bengkak dan pakaian koyak. Kendati diajari tirakat dan sedikit olah batin oleh pamannya, kelakuannya tak banyak berubah. Tabiat macam itu ia bawa hingga merantau ke Batavia di umur 15. Remaja Soebroto diterima sekolah di STOVIA, sekolah elite para calon dokter Jawa. Meski begitu, Soebroto ternyata lebih gemar mengejar kesenangan hidup daripada ilmu. Untuk menunjang gaya hidupnya yang mewah, tak jarang ia terjerat utang atau membohongi keluarga agar dapat uang saku ekstra. Tapi dunia pemuda Soebroto runtuh seketika kala ayahnya meninggal secara mendadak pada Juli 1907. Secara tiba-tiba ia kehilangan penopang. Baru kali itu ia ingat posisinya sebagai putra sulung, yang artinya beban penghidupan keluarga kini berpindah ke pundaknya. Beban tersebut kian berat kala Soebroto menyadari bahwa tanpa ayahnya ia bukanlah siapa-siapa.

Dalam sebuah memoar ia menulis, “Saya merasa, bahwa orang-orang telah merobah sikapnya pada diri saya dan keluarga saya. Keterpurukan adalah awal dari perubahan besar, demikian filsuf Tiongkok kuno Lao Tze pernah berkata. Kemalangan itu mengubah jalan hidup pemuda Soebroto. Kini ia punya pandangan lebih jernih tentang karier dan masa depannya. Ia juga kian menyadari posisinya sebagai kaum terdidik di alam kolonial. Beberapa lama setelah sang ayah mangkat, Soebroto menarik diri dari pergaulan. Tapi ketika ia kembali, ia muncul sebagai pribadi yang berbeda. Permenungannya di masa-masa sulit itu tak hanya membuatnya sadar akan tanggung jawab kepada keluarga, tapi juga membawanya lebih aktif dalam urusan-urusan sosial dan politik. Hingga kemudian ia ikut dalam arus pertama pergerakan nasional, bahkan jadi salah satu pelopornya. Banyak orang tak akan mengenal Soebroto sebagai pionir pergerakan nasional. Tapi jika menyebut Soetomo, mereka pasti akan langsung mafhum. Soebroto adalah nama kecil Soetomo, inisiator di balik berdirinya Budi Utomo. Lelaki kelahiran Nganjuk, 30 Juli 1888 ini mengganti namanya jadi Soetomo saat masuk ke sekolah menengah.

Beberapa bulan setelah sang ayah meninggal, Soetomo bertemu Dokter Wahidin Soedirohoesodo di Batavia. Kala itu ia sedang berkampanye keliling untuk menggalang beasiswa bagi pelajar bumiputra. Soetomo amat tertarik dengan ide itu lantas menjajaki kemungkinan merealisasikannya. “Ia memperluas gagasannya itu dengan mencakup masalah-masalah politik dan sosial yang ia dan para mahasiswa anggap penting dalam pembangunan masyarakat. Tapi barangkali kebanyakan orang hanya mengenalnya sebatas itu, sebagaimana buku pelajaran sekolah mengabarkannya. Padahal aktivitasnya tak hanya berhenti di Budi Utomo. Namanya kemudian memang tak setenar Sukarno-Hatta-Sjahrir, tapi perannya merentang panjang. Usai lulus dari STOVIA pada 1911, Soetomo berpindah-pindah tempat dinas sebagai dokter. Pada 1919 ia dapat beasiswa untuk menempuh ujian dokter di Universitas Amsterdam. Di sana, selain kuliah, tentu saja Soetomo ikut berkegiatan di Indische Vereeniging. Di antara para mahasiswa Indonesia di Belanda, Soetomo dianggap senior dan dihormati. Usai menempuh pendidikan spesialis penyakit kulit di Jerman, Dokter Soetomo mudik ke Indonesia pada 1923. Ia kini menetap di Surabaya dan berdinas lagi di Rumah Sakit Simpang. Suratmin dalam biografi Dr.

Soetomo (1982) menyebut sang dokter juga bertugas sebagai pengajar di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Saat ia kembali, pergerakan nasional sudah makin semarak. Selain Budi Utomo, kini telah berdiri pula Sarekat Islam dan PKI. Tapi ia tak lantas bergabung dengan salah satu dari ketiganya. Ia tak sreg dengan SI dan PKI yang dikotomis dan cenderung radikal, sementara Budi Utomo dirasanya semakin kolot. Pada 1924 ia lantas bikin sendiri gerakan yang lebih cair dan berbasis pendidikan: Indonesische Studieclub. “Persatuan ini, yang berusaha untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat Pribumi dengan memberitahukan kepada mereka tentang situasi politik dalam dan luar negeri ketika itu, merupakan persatuan pertama yang pernah didirikan di Hindia Belanda,” tulis Savitri (hlm. Kegiatan utama Indonesische Studieclub adalah diskusi politik dan pembahasan persoalan publik. Kebanyakan anggotanya adalah pelajar. Model ini lalu diikuti Sukarno di Bandung dengan Algemeene Studieclub. Setelah jalan sekira enam tahun, Soetomo mengembangkan Indonesische Studieclub jadi organisasi politik. Per 16 Oktober 1930 namanya berganti jadi Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Lalu pada akhir 1935 PBI dan Budi Utomo berfusi jadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Tak hanya berpolitik, Parindra pimpinan Soetomo juga bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi melalui bank, koperasi, dan organisasi tani.

Baca Juga : Nasionalisme – Sejarah, Tujuan, Sebab, Jenis, Upaya, Faktor

Lain itu, ia juga menginisiasi pendirian beberapa panti asuhan dan rumah sakit. “Setelah Parindra terbentuk kemudian masuk di dalamnya beberapa perkumpulan lain, ialah Sarekat Selebes, Sarekat Sumatra, Sarekat Ambon, Perkumpulan Kaum Tani dan Tirtayasa. Tentang azas Partai Indonesia Raya adalah untuk mencapai cita-cita yang terakhir mencapai Indonesia Mulia,” tulis Suratmin (hlm. Ketika organisasi lain sudah demikian berani memacak cita-cita Indonesia merdeka, cita-cita Parindra itu tentu dianggap aneh oleh aktivis pergerakan lain. Menurut Savitri, hal ini agaknya harus dikembalikan pada pribadi dan pemikiran Soetomo yang sejak awal berbeda dari aktivis pergerakan, baik seangkatannya maupun yang lebih muda dan radikal. Tak seperti Tjipto Mangoenkoesoemo atau Soewardi Soerjaningrat yang vokal, Soetomo cenderung moderat dan sangat percaya pada harmoni. Ia juga termasuk orang yang masih percaya bahwa perubahan sosial dan politik dimulai dari atas, dari para priayi seperti dirinya yang bertindak sebagai penuntun. Dalam banyak hal, Soetomo adalah seorang konservatif. Karenanya di kalangan aktivis pergerakan ia lebih dikenal sebagai “pembangun”, bukan “pendobrak” laiknya Tjipto atau Sukarno. Jadi, tak heran jika ia amat berhati-hati dalam langkah politiknya. Latar belakang macam itulah yang mendasari pemilihan diksi “Indonesia Mulia” itu. Dalam artikelnya, “Kompetisi ora Konkurensi”, yang terbit dalam bunga rampai Puspa Rinontje (1932), Soetomo menjelaskan bahwa sebenarnya kemerdekaan itu sudah tercakup dalam diksi mulia itu. Baginya, merdeka masih lah satu tahapan saja menuju cita-cita yang lebih besar. Kemerdekaan saja tak menjamin apa pun selain kebebasan.

Nasionalisme - Sejarah, Tujuan, Sebab, Jenis, Upaya, Faktor Nasionalisme - Sejarah, Tujuan, Sebab, Jenis, Upaya, Faktor

Pergerakansosialis.com – “Lahirnya Reformasi Di Indonesia“. 2.5 5. Menurut Dr. Nasionalisme adalah bentuk pengkultusan kepada suatu bangsa (tanah air) yang diaplikasikan dengan memberikan kecintaan dan kebencian kepada seseorang berdasarkan pengkultusan tersebut, ia berperang dan mengorbankan hartanya demi membela tanah air belaka ( walaupun dalam posisi salah ), yang secara otomatis akan menyebabkan lemahnya loyalitas kepada agama yang dianutnya, bahkan menjadi loyalitas tersebut bisa hilang sama sekali”. Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri,sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme. Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain. Sedangkan menurut Hans Kohn, Nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya National Counciousness. Dengan perkataan lain nasionalisme adalah formalisasi (bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri. Dan kesadaran nasional inilah yang membentuk nation dalam arti politik, yaitu negara nasional.

Nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara. Nasionalisme adalah suatu persatuan perangai atau karakter yang timbul karena perasaan senasib. Nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya National Counciousness. Dengan perkataan lain nasionalisme adalah formalisasi (bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri. Dan kesadaran nasional inilah yang membentuk nation dalam arti politik, yaitu negara nasional. Nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa. 1. Hasrat untuk mencapai kesatuan. 2. Hasrat untuk mencapai kemerdekaan. 3. Hasrat untuk mencapai keaslian. 4. Hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa. Teroganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat sehingga mereka terikat dalam suatu masyarakat hukum. Nasionalisme adalah hasil dari perpaduan faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, dan intelektual. Kebanyakan teori menyebutkan bahwa nasionalisme dan nilai-nilainya berasal dari Eropa. Sebelum abad ke-17, belum terbentuk satu negara nasional pun di Eropa. Yang ada pada periode itu adalah kekuasaan kekaisaran-kekaisaran yang meliputi wilayah yang luas, misalnya kekuasaan kekaisaran Romawi Kuno atau Kekaisaran Jerman di bawah pimpinan Karolus Agung.

Yang jelas, kekuasaan bergandengan tangan dengan gereja Katolik, sehingga masyarakat menerima dan menaati penguasa yang mereka anggap sebagai titisan Tuhan di dunia.Karena itu, kesadaran akan suatu wilayah (territory) sebagai milik suku atau etnis tertentu belum terbentuk di Eropa sebelum abad ke-17. Di awal abad ke-17 terjadi perang besar-besaran selama kurang lebih tiga puluh tahun antara suku bangsa-suku bangsa di Eropa.Misalnya, perang Perancis melawan Spanyol, Prancis melawan Belanda, Swiss melawan Jerman,dan Spanyol melawan Belanda, dan sebagainya. Untuk mengakhiri perang ini suku bangsa yang terlibat dalam perang akhirnya sepakat untuk duduk bersama dalam sebuah perjanjian yang diadakan di kota Westphalia di sebelah barat daya Jerman. Pada tahun 1648 disepakati PerjanjianWestphalia yang mengatur pembagian teritori dan daerah-daerah kekuasaan negara-negara Eropa yang umumnya masih dipertahankan sampai sekarang. Meskipun demikian, negara-bangsa(nation-states) baru lahir pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Negara bangsa adalah negara-negara yang lahir karena semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme yang pertama muncul di Eropa adalah nasionalisme romantis (romantic nationalism) yang kemudian dipercepat oleh munculnya revolusi Prancis dan penaklukan daerah-daerah selama era NapoleonBonaparte. Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai jawaban atas kolonialisme.Pengalaman penderitaan bersama sebagai kaum terjajah melahirkan semangat solidaritas sebagai satu komunitas yang mesti bangkit dan hidup menjadi bangsa merdeka.

Baca Juga : Pergerakan Nasional Terbentuknya Bangsa Indonesia

Semangat tersebut oleh para pejuang kemerdekaan dihidupi tidak hanya dalam batas waktu tertentu, tetapi terus-menerus hingga kini dan masa mendatang. Salah satu perwujudan nasionalisme adalah dibentuknya Boedi Oetomo pada tahun 1908, yang menjadi awal kebangkitan nasionalisme bangsa Indonesia oleh kaum cendekiawan. Selain berdirinya Boedi Oetomo, yang menjadi tonggak perwujudan rasa nasionalisme bangsa Indonesia adalah semangat Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme yang bertekad kuat tanpa memandang perbedaan agama, ras, etnik, atau bahasa. Masa perintis adalah masa di mana semangat kebangsaan melalui pembentukan organisasi-organisasi pergerakan mulai dirintis. Masa ini ditandai dengan munculnya pergerakan Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Hari kelahiran Budi Utomo kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Masyarakat Indonesia yang beraneka ragam, melalui Sumpah Pemuda tersebut menyatakan diri sebagai satu bangsa yang memiliki satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Melalui organisasi pergerakan, bangsa Indonesia mencoba meminta kemerdekaan dari Belanda. Organisasi-organisasi pergerakan yang tergabung dalam GAPI (Gabungan Politik Indonesia) tahun 1938 mengusulkan Indonesia bahwa bangsa kami.

Pergerakan Nasional Terbentuknya Bangsa Indonesia Pergerakan Nasional Terbentuknya Bangsa Indonesia

Pergerakansosialis.com – Perasaan akan timbulnya nasionalisme bangsa Indonesia telah tumbuh sejak lama, bukan secara tiba-tiba. Nasionalisme tersebut masih bersifat kedaerahan, belum bersifat nasional.Nasionalisme yang bersifat menyeluruh dan meliputi semua wilayah Nusantara baru muncul sekitar awal abad XX.Lahirnya nasionalisme bangsa Indonesia didorong oleh dua faktor, baik faktor intern maupun faktor ekstern. Sejarah Masa Lampau yang GemilangIndonesia sebagai bangsa telah mengalami zaman nasional pada masa kebesaran Majapahit dan Sriwijaya. Kedua kerajaan tersebut, terutama Majapahit memainkan peranan sebagai negara nasional yang wilayahnya meliputi hampir seluruh Nusantara. Penderitaan Rakyat Akibat Penjajah. Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang dan menyakitkan sejak masa Portugis. Politik devide et impera, monopoli perdagangan, sistem tanam paksa, dan kerja rodi merupakan bencana bagi rakyat Indonesia. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia. Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia Belanda tidak dapat dipisahkan dari politik etis. Ini berarti bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan (Indonesia) banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri Belanda.

Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia. Perkembangan pendidikan di Indonesia juga banyak diwarnai oleh pendidikan yang dikelola umat Islam. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Kebangsaan di Indonesia. Berkembangnya sistem pendidikan Barat melahirkan golongan terpelajar. Adanya diskriminasi dalam pendidikan kolonial dan tidak adanya kesempatan bagi penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan, mendorong kaum terpelajar untuk mendirikan sekolah untuk kaum pribumi. Peranan Bahasa Melayu. Di samping mayoritas beragama Islam, bangsa Indonesia juga memiliki bahasa pergaulan umum (Lingua Franca) yakni bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu berubah menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia. Kemenangan Jepang atas Rusia. Selama ini sudah menjadi suatu anggapan umum jika keperkasaan Eropa (bangsa kulit putih) menjadi simbol superioritas atas bangsa-bangsa lain dari kelompok kulit berwarna. Hal itu ternyata bukan suatu kenyataan sejarah. Perjalanan sejarah dunia menunjukkan bahwa ketika pada tahun 1904-1905 terjadi peperangan antara Jepang melawan Rusia. Partai Kongres India. Dalam melawan Inggris di India, kaum pergerakan nasional di India membentuk All India National Congress (Partai Kongres India), atas inisiatif seorang Inggris Allan Octavian Hume pada tahun 1885. Di bawah kepemimpinan Mahatma Gandhi, partai ini kemudian menetapkan garis perjuangan yang meliputi Swadesi, Ahimsa, Satyagraha, dan Hartal. Keempat ajaran Ghandi ini, terutama Satyagraha mengandung makna yang memberi banyak inspirasi terhadap perjuangan di Indonesia.

Filiphina dibawah Jose Rizal. Filipina merupakan jajahan Spanyol yang berlangsung sejak 1571 – 1898. Dalam perjalanan sejarah Filipina muncul sosok tokoh yang bernama Jose Rizal yang merintis pergerakan nasional dengan mendirikan Liga Filipina. Sikap patriotisme dan nasionalisme yang ditunjukkan Jose Rizal membangkitkan semangat rela berkorban dan cinta tanah air bagi para cendekiawan di Indonesia. Hal-hal yang kiranya dianggap perlu dalam mencapai sebuah tujuan adalah pergerakan nasional Indonesia dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Dalam makalah ini, penulis akan berusaha membahas atau memaparkan berbagai masalah yang berkaitan dengan pergerakan nasional Indonesia yang dimulai dengan berdirinya organisasi-organisasi hingga perjuangan organisasi tersebut dalam memperjuangkan kemerdekaan sehingga terbentuknya bangsa indonesia. Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan.Masa pergerakan nasional (1908 – 1942), dibagi dalam tiga tahap berikut. 1) Masa pembentukan (1908 – 1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij. 2) Masa radikal/nonkooperasi (1920 – 1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI). 3) Masa moderat/kooperasi (1930 – 1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.

Pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo dengan ketuanya Dr. Sutomo.Organisasi Budi Utomo artinya usaha mulia.Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah partai politik.Tujuan utamanya adalah kemajuan bagi Hindia Belanda. Hal ini terlihat dari tujuan yang hendak dicapai yaitu perbaikan pelajaran di sekolah-sekolah, mendirikan badan wakaf yang mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan belanja anak-anak bersekolah, membuka sekolah pertanian, memajukan teknik dan industri, menghidupkan kembali seni dan kebudayaan bumi putera, dan menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan dalam rangka mencapai kehidupan rakyat yang layak. Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI adalah kooperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam.Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak memiliki anggota yang cukup banyak.Oleh karena itu agar memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam).Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh beberapa tokoh SDI seperti H.O.S Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim.

Baca Juga : Latar Belakang Munculnya Pergerakan Nasional

Sarekat Islam berkembang pesat karena bermotivasi agama Islam. 3.membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera. IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung oleh tokoh Tiga Serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Pendirian IP ini dimaksudkan untuk mengganti Indische Bond yang merupakan organisasi orang-orang Indo dan Eropa di Indonesia.Hal ini disebabkan adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda totok dengan orang Belanda campuran (Indo). IP sebagai organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama orang Indo dan bumi putera. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat sedikit, maka diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat. Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan politik rasial yang dilakukan pemerintah kolonial.Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte (Prancis).

Latar Belakang Munculnya Pergerakan Nasional Latar Belakang Munculnya Pergerakan Nasional

Pergerakansosialis.com – Perjuangan yang awalnya selalu menggunakan senjata, diubah menjadi menggunakan strategi politik dan semangat kebangsaan. Liberalisme diartikan kebebasan. Perjuangan ekonomi liberal dengan mengecam pemerintah yang ikut campur tangan dalam masalah perekonomian. Ekonomi Liberal menginginkan kekuatan ekonomi dibiarkan dan berkembang secara bebas. Liberalisme juga mempengaruhi bidang politik. Dalam hal ini Liberalisme bertujuan untuk mendapatkan pengakuan adanya kebebasan yang dimiliki oleh individu. Perkembangan paham Liberalisme juga mempengaruhi bidang agama. Hal ini ditandai dengan adanya kebebasan masing-masing individu untuk memilih suatu agama tanpa paksaan atau campur tangan dri pemerintah. Nasionalisme adalah suatu paham yang dapat memberi ilham kepada sebagian penduduk untuk bersatu dan dengan rasa kesetiaan yang mendalam megabdi kepentinganbangsa dan negara. Nasionalisme dapat terbentuk karena adanya perasaan senasib, persamaan budaya, persamaan karakter, dan persamaan keinginan untuk hidip bersama dalam suatu kelompok. Nasionalisme lahir di Inggris pada mulanya merupakan sikap bersatu untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya agar jangan sampai melepaskan diri. Nasionalisme Jerman pada awalnya muncul untuk melepaskan diri dari kekuasaan Austria.

Sosialisme muncul akibat adanya perkembangan industrialisasi yang ada di Eropa. Industrialisasi merupakan dampak dari adanya kebebasan individu dalam bidang ekonomi yang akhirnya melahirkan golongan kapitalisme atau pemilik modal. Golongan kapitalis menjadi golongan yang menguasai bidang perekonomian dan mengadakan penindasan terhadap golongan buruh. Dalam masyarakat berkembang adanya suatu kelompok yang mementingkan kedudukan dan status golongan buruh. Inilah yang disebut golongan sosialis. Adalah suatu sistem pemerintahan yang berasal dari rakyat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Paham demokrasi pertama kali dilaksanakan di Yunani yaitu Polis Athena yang berupa demokrasi langsung. Kekuasaan raja-raja di Eropa yang sifatnya absolut mulai ditumbangkan dan ditentang oleh rakyat sehingga memunculkan pemerintahan yang demokratis. Paham demokrasi pada intinya membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengakuan hak asasi manusia.  Demokrasi parlementer yang menempatkan kedudukan parlemen (badan legislatif) lebih tinggi dari pada badan eksekutif.  Demokrasi sistem pemisahan kekuasaan, dalam sistem ini kekuasaan legislatif dipegang oleh konggres, kekuasaan eksekutif dipegang oleh presiden, sedangkan kekuasaan yudikatif dipegang oleh Mahkamah Agung. Sistem seperti ini dianut oleh negara Amerika Serikat.  Sistem demokrasi melalui referendum, dalam sistem ini setiap negara bagian memiliki lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Sistem ini rakyat berperan sebagai badan pengawas melalui sistem referendum. Contoh negara yang melaksanakan sistem ini ialah Swiss. B. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DAN AWAL MUNCULNYA KESADARAN NASIONALISME DI INDONESIA. Pada akhir abad ke 19 sistem pendidikan yang berkembang di indonesia semakin banyak. Sistem pendidikan ini diselenggarakan oleh kelompok agama ataupun oleh poemerintah kolonial Belanda. Sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh kelompok agama lebih menitikberatkan pada pendidikan agama. Sementara pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda menekankan sistem pendidikan barat yang memiliki kurikulum yang jelas. Pendidikan yang diselenggarakan oleh Belanda pada awalnya hanyalah sebagai usaha Belanda untuk memenuhi tenaga kerja yang bisa mebaca dan menulis, yang nantinya akan disalurkan pada perkebunan-perkebunan atau kantor-kantor milik Belanda. Belanda menggunakan sistem deskriminatif, anak-anak bumi putera, sekolah yang dimasuki ialah sekolah khusus yang menggunakan kurikulum yang berbeda dengan anak-anak Eropa.Anak-anak yang boleh memasuki sekolah Eropa hanyalah anak-anak keturunan bangsawan atau yang orang tuanya bekerja di pmerintahan Belanda.

Perkembangan pendidikan yang ada di Indonesia ternyata dalam jangka waktu yang panjang dapat mengubah kedudukan sosial di masyarakat dan melahirkan satu golongan baru dalam masyarakat yaitu golongan cendekiawan. Golongan inilah yang nantinya mengadakan perubahan mengenai sistem perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. 1. Perjuangan bangsa Indonesia mulai menonjolkan persatuan. 2. Perjuangan tidk menggunakan senjata tradisional, melainkan menggunakan organisasi modern. 3. Pemimpin perjuangan ialah golongan cerdik pandai. Pergerakan nasional ditandai dengan munculnya perubahan perjuangan bangsa Indonesia untuk mengusir bangsa barat dari bumi nusantara. Budi Utomo didirikan oleh pelajar STOVIA di bawah pimpinan dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Organisasi ini merupakan organisasi pergerakan nasional pertama sehingga tanggal itu ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tujuan Budi Utomo ialah untuk mencapai kemajuan yang harmonis bagi nusa dan bangsa. Memajukan pertanian, peternakan,dan perdagangan. Perkembangannya Budi Utomo tidak lagi bersifat lokal tetapi nasional. Sarekat Dagang Islam (1911) didirikan oleh seorang saudagar kaya raya H. Samanhudi di Laweyan (Surakarta). Latar belakang didirikannya SDI adalah terjadinya persaingan perdagangan antara pedagang pribumi dan pedagang asing, terutama yang berasal dari Cina atau Tionghoa.

Baca Juga : Makalah Perubahan Sosial

Pada masa HOS Tjokroaminoto, Sarekat Dagang Islam namanya diubah menjadi Sarekat Islam (SI), tahun 1912, pusat kedudukannya di Surabaya. Memajukan kepentingan rohani dn jasmani penduduk asli. Belanda khawatir SI akan menjadi besar sehingga Belanda mengadakan devide et impera antar anggota SI dengan cara menyusupkan idiologi komunis sehingga SI pecah menjadi SI Putih berhaluan Islam dan SI Merah berhaluan komunis. SI yang mendapat pengaruh komunis ialah SI cabang Semarang pimpinan Semaun. Dalam perkembangannya SI Putih menjadi Partsi Sarekat Islam dan SI Merah menjadi Partai Komunis Indonesia. Organisasi ini didirikan oleh Tiga Serangkai yang terdiri dari Suwardi Suryaningrat/Ki Hajar Dewantoro, dr. Cipto Mangunkusumo, dan dr.EFE Douwes Dekker/Danur Dirjo Setiabudi, pada tahun 1912. Anggotanya terbuak untuk semua lapisan masyarakat. Cita-cita perjuangan IP disebarluaskan melalui surat kabar De Express. Karena IP merupakan partai yang tegas dan menyatakan ingin memerdekakan Indonesia, maka Belanda melarang IP beroperasi. Walaupun demikian tokoh-tokoh IP tetap berjuang seperti Ki Hajar Dewantoro yang mengkritik Belanda dengan tulisannya berjudul Seandainya Saya Seorang Belanda. Organisasi ini didirikan oleh K.H.Ahmad dahlan pada tahun 1912 di Yogyakarta.