ada 3 teori sosial budaya di indonesia yaitu

Perjalanan TEORI SOSIAL INDONESIA Perjalanan TEORI SOSIAL INDONESIA

Pergerakansosialis.com – Suku Primitif berkembang melalui peningkatan jumlah anggotanya, perkembangan itu mencapai suatu titik di mana suatu suku terpisah menjadi beberapa suku yang secara bertahap timbul beberapa perbedaan satu sama lain. Perkembangan ini dapat terjadi, seperti pengulangan maupun terbentuk dalam proses yang lebih luas dalam penyatuan beberapa suku. Pernyatuan itu terjadi tanpa melenyapkan pembagian yang sebelumnya disebabkan oleh pemisahan. Pertumbuhan masyarakat tidak sekedar menyebabkan perbanyakan san penyatuan kelompok, tetapi juga meningkatkan kepadatan penduduk atau meningkatkan solidaritas, bahkan memajukan massa yang lebih akrab. Dalam tahapan masyarakat yang belum beradab (uncivilized) itu bersifat homogeny karena mereka terdiri dari kumpulan masnusia yang memiliki kewengan, kekuasaan dan fungsi yang relative sama, terkecuali masalah jenis kelamin. Suku nomanden memiliki ikatan karena dipersatukan oleh ketundukkan kepada pemimpin suku. Ikatan ini mengikat hingga mencapai masyarakat beradab yang cukup untuk diintegrasikan bersama “selama 1000 tahun lebih”. Jenis kelamin pria, diindentikan dengan symbol-simbol yang menuntut kekuatan fisik, seperti keprajuritan, pemburu, nelayan dan lain-lain. Kepemimpinan muncul sebagai konsekuensi munculnya keluarga yang sifatnya tidak tetqap atau nomenden. Wewenang dan kekuasaan seseorang ditentukan oleh kekuatan fisik san kecerdikan seseorang, selanjutnya kewenangan dan kekuasaan tersebut memiliki sifat yang diwariskan dalam keluarga tertentu.

Peningaktan kapasitas pun menandai proses pertumbuhan masyarakat. Organisasi-organisasi sosial yang mulanya masih samar-samar, pertumbuhannya mulai mantap secara perlahan-lahan, kemudian adat menjadi hukum, hukum menjadi semakin khusus dan institusi sosial semakin terpisah berbeda-beda. Jadi, dalam berbagai hal memenuhi formula evolusi. Perkembanngan pun ditandai oleh adanya pemisahan unsur-unsur religious dan sekuler. Begitu pun system pemerintahan bertambah kompleks, diferensiasi pun timbul dalam organisasi sosial termasuk tumbuhnya kelas kelas sosial dalam masyarakat yang ditandai oleh siuatu pembagian kerja. Teori Dramatugi dari Erving Goffman tersebut tertuang dalam bukunya yang berjudul The Presentation of Self in everyday Life (1959) dan Encounters; Two Studies of Sociology of Interaction(1961). Goffman tidak berupaya menitikberatkan pada stuktur sosial, melainkan pada interaksi tatap muka atau kehadiran bersama (Co-presence). Menurutnya interaksi tatap muka itu dibatasi (1959:15) sebagai individu yang saling memengaruhi tindakan-tindakan mereka satu sama lain ketika masing-masing berhadapan secara fisik. Dalam suatu situasi sosial, seluruh kegiatan dari partisipan tertentu disebut sebagai suatu penampilan (performance), sedangkan orang-orang lain yang terlibat di dalam situasi itu disebut sebagai pengamat atau partisipan lainnya.

Para actor adalah mereka yang melakukan tindakan-tindakan atau penampilan ritun. Yang dimaksud tindakan rutin (Routine) disini Goffman (1974:16) membatasi sebagai pola tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya, terungkap pada saat melakukan pertunjukkan dan yang juga dapat dilakukan maupun di ungkapkan dalam kesempatan lain. Individu dapat menyajikan suatu show (pertunjukan) bagi orang lain, tetapi kesan (impression) pelaku terhadap pertunjukkan tersebut dapat berbeda-beda. Seseorang dapat bertindak sangat menyakinkan atas tindakan yang diperlihatkannya, walaupun sesungguhnya perilaku sehari-harinya tidaklah mencerminkan tindakan yang demikian. Panggung depan adalah bagian penampilan individu yang secraa teratur berfungsi sebagai metode umum untuk tampil di depan public sebagai sosok ideal. Sedangkan pada panggung belakang, terdapat sejenis “masyarakat rahasia” yang tidak sepenuhnya dapat dilihat di atas permukaan (1959:105). Dalam hal ini tidak mustahil bahwa tradisi dan karakter pelaku sangat berbeda dengan apa yang dipentaskan di depan. Dengan demikian, ada kesenjangan peranan mauoun keterikatan peranan ataupun role embracement (Goffman. Lewis H.Morgan (1818-1881) adalah seorang perintis antropolog Amerika terdahulu, pada awal kariernya adalah seorang ahli hukum yang banyak melakukan penelitian suku Indian di hulu Sungai St. Lawrwnce deket kota New York. Karya terpentingnya berjudul Ancient Society (1987) yangn memuat delapan tahapan tentang evolusi kebudayaan secara universal.

Baca Juga : Organisasi Pergerakan Nasional Tujuan Dan Tokoh

Zaman Kiar Tua, merupakan zaman sejak adanya manusia sampai manemukan api, kemudian manusia menemukan kepandaian meramu dan mencari akar-akar tumbuhan liar. Zaman Liar Madya, merupakan zaman di mana manusia menemukan senjata busur dan panah. Pada zaman ini pula manusia mulai mengubah mata pencahariannya dari meramu menjadi pencari ikan di sungai-sungai sebagai pemburu. Zaman Liar Muda, pada zaman ini manusia dari persenjataan busur dan panah sampai mendapatkan barang-barang tembikar, namun kehidupannya masih berburu. 2. Teori Evolusi Keluarga J.J. J.J. Bachoven adalah seorang ahli hukum Jerman yang banyak mempelajari etnografi berbagai bangsa (Yunani, Romawi, Indian termasuk juga Asia Afrika). Tahap Promiskuitas, manusia hidup serupa binatang berkelompok, laki laki dan perempuan berhubungan dengan bebas dan melahirkan keturunannya tanpa ikatan. Kelompok-kelompok keluarga inti belum ada pada waktu itu. Keadaan tersebut merupakan tingkat pertama dalam proses perkembangan masyarakat manusia. Lambat laun manusia sadar akan hubungan anatar ibu dengan anaknya sebagai suatu kelompok keluarga inti dalam masyarakat. Oleh karena itu, pada masa ini anak-anak mulai mengenal ibunya, belum mengenal ayahnya. Di situlah peran ibu merangkap sebagai kepala keluarga atau rumah tangga.