contoh gerakan sosial

1 1

Macam-Macam dan Penjelasan Teori Gerakan Sosial – Di Indonesia sebuah perbedaan pendapat sudah menjadi hal yang sangat wajar, karena setiap orang pasti memiliki pendapatnya masing-masing. Dalam perbedaan pendapat, pasti beberapa orang ada yang tidak senang, sehingga melakukan demo ataupun unjuk rasa. Gerakan sosial adalah sebuah kegiatan terencana yang dilakukan oleh sejumlah orang yang memiliki tujuan tertentu dengan untuk mencapai kepentingan bersama. Terdapat beberapa teori dalam memandang sebuah gerakan sosial. Berikut adalah beberapa teori dalam pergerakan sosial yang ada di Indonesia.

1. Resource Mobilization Theory

Dalam teori ini, istilah mobilization merujuk pada proses kontekstual yang terdiri atas proses pembentukan massa untuk mencapai tujuan tertentu sehingga dalam teori ini proses kontekstual dianalisis untuk dapat meraih misi gerakan sosial. Sebagai teori yang menekankan pada proses pembentukan massa, maka terdapat beberapa hal yang aktor penentu keberhasilan gerakan sosial, yakni: Organisasi Gerakan sosial. Pemimpin dan kepemimpinan. Sumberdaya dan mobilisasi sumberdaya. Jaringan dan partisipasi. Peluang dan kapasitas masyarakat.

2. Value-Added Theory

Teori ini menyatakan bahwa gerakan sosial adalah sesuatu yang kompleks dimana terdapat beberapa syarat agar hal tersebut dapat terjadi, yakni adanya kondusifitas dan ketegangan struktural. Kondusifitas struktural adalah kesadaran masyarakat atas suatu fenomena tertentu, sedangkan ketegangan struktural, yakni kondisi masyarakat yang mengalami ketegangan akibat tidak terpenuhinya harapan masyarakat atas suatu fenomena. Value-Added Theory berargumen bahwa gerakan sosial ada untuk mengurangi ketegangan struktural. Upaya penghilangan ketegangan ini dilakukan melalui penyebaran informasi terkait permasalahan tertentu dan tindakan massa yang ditempuh oleh mobilisasi aksi.

Baca Juga : Gerakan Sosial Tanpa Asap Rokok 

3. Emergent-Norm Perspective

Emergent-Norm Perspective adalah teori yang dikemukakan oleh Turner dan Killian pada 1972. Teori ini berargumen bahwa latar belakang terjadinya gerakan sosial adalah adanya norma baru yang muncul akibat perubahan tertentu. Teori ini berdasar pada perspektif bahwa norma adalah sesuatu yang terus berubah sehingga diperlukan gerakan sosial yang rasional sebagai respons atas perubahan baru yang bersifat ambigu. Emergent-Norm Perspective terjadi dalam beberapa tahap, yakni sebagai berikut: Individu menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam situasi yang tidak diatur dalam norma yang telah ada sebelumnya. Sekumpulan individu dengan kesadaran bahwa tengah mengalami sebuah norma baru melakukan interaksi dan mengembangkan pedoman norma baru untuk merespon kejadian tersebut.

4. Assembling Perspective

Teori ini dipaparkan pertama kali oleh McPhail dan Miller pada 1973. Assembling Perspective memandang individu dalam sebuah kelompok gerakan sosial sebagai individu rasional yang berdiri sendiri, sedangkan kerumunan adalah kelompok yang secara aktif melakukan tindakan untuk tujuan kolektif. Terdapat sejumlah tahap dalam gerakan sosial dalam Emergent-Norm Perspective, yaitu: Assembling Processes, adalah tahap berkumpulnya tiap individu dalam sebuah kelompok. Gathering, adalah proses berkumpulnya kelompok-kelompok kecil agar dapat tergabung dalam sebuah kerumunan yang lebih besar. Masing-masing anggota kelompok tidak melakukan kegiatan yang sama persis dan tetap menjadi bagian atas diri individu. Dispersal Processes, adalah kondisi dimana kelompok mengalami membubarkan diri karena adanya perintah pihak lain atau persaingan antarkelompok.

5. New Social Movement Theory

New Social Movement Theory adalah teori yang berkembang di Eropa pada 1950-an dan 1960-an pada masa pasca-industri. Teori ini hadir saat isu-isu mengenai aspek humanis, kultural, dan nonmaterial sedang berkembang di Eropa. New Social Movement Theory lebih berfokus pada permasalahan mengenai hak asasi manusia. Contoh dari gerakan ini adalah gerakan legalisasi ganja, hak-hak transgender, dan feminisme. Terdapat beberapa karakteristik dalam New Social Movement Theory, yaitu : Gerakan sosial bersifat transnasional dimana isu dalam negara tertentu menjadi permasalahan global. Fokus pada perubahan kultural dan perbaikan lingkungan sosial dan fisik. Gerakan ini mendapat dukungan dari individu dengan latar belakang yang beragam tanpa adanya perbedaan kelas tertentu.