gerakan sosial menurut kornblum

Perlunya Gerakan Sosial dalam Pandemi Covid-19 Perlunya Gerakan Sosial dalam Pandemi Covid-19

Perlunya Gerakan Sosial dalam Pandemi Covid-19 – Gerakan sosial merupakan aktivitas sebuah kelompok atau oraganisasi yang secara spesifik berfokus pada isu-isu dan masalah sosial. Indonesia baru mengkonfirmasi secara resmi kasus pertama Covid-19 atau yang dikenal dengan virus korona pada 2 Maret 2020 lalu. Setelah itu angka kasus positif Covid-19 terus bertumbuh secara eksponensial. Per 8 April yang positif sudah 2.956 orangf.

Tidak hanya Indonesia, hampir 200 negara lebih di dunia berperang melawan Covid-19. Data dari global yang dikeluarkan Pusat Studi Virus Corona Universitas John Hopkins menunjukkan korban meninggal akibat Covid-19 di dunia menembus angka 60.000, Sekarang sekurangnya 1,4 juta penduduk di planet ini terinfeksi virus mematikan ini.

Terkait kasus Covid-19 di Indonesia, berbagai prediksi kemudian dibuat oleh para peneliti. Salah satunya Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang memprediksi bahwa pendemi Covid-19 akan berakhir di Indonesia pada akhir Mei hingga awal Juni 2020. Artinya, Covid-19 itu belum berakhir saat memasuki mudik Lebaran 2020. Hal yang sama juga dilakukan oleh peneliti Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Menular (CMMID) London, Inggris. Mereka mengembangkan pemodelan Matematika untuk memprediksi secara kasar kemungkinan jumlah kasus penyebaran Covid-19 di suatu negara berdasarkan jumlah kematian. Mereka mengatakan bahwa ratusan ribu kasus Covid-19 di Indonesia tidak terdeteksi.

Berdasarkan data, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dengan persentase mencapai 8,7 persen. Namun, angka pengetesan Covid-19 di Indonesia termasuk yang terendah di dunia. Kemudian kemungkinan ada 1 juta kasus di Indonesia, hal itu mungkin akan terjadi. Kemungkinan ini berkaca dari tingginya populasi di Indonesia dengan 270 juta penduduk.

Tentu kita tidak ingin menghendaki skenario itu akan terjadi. Tetapi kita layak untuk khawatir dan sekaligus waspada terhadap penyebaran pendemi Covid-19 ini, karena seperti yang diketahui bahwa layanan kesehatan rumah sakit di Indonesia tidak lebih baik dengan negara-negara lainnya, Amerika Serikat misalnya yang merupakan negara yang maju dalam hal kesehatan pun sudah babak belur dengan angka kematian tertinggi di dunia yang diakibatkan oleh Covid-19.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita sering mendengar dan membaca berita layanan kesehatan kita sudah kewalahan, hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya berita tentang kurangnya APD (Alat Pelindung Diri), respirator, ataupun ruang perawatan hanyalah sedikit bukti bahwa layanan kesehatan Indonesia tidak siap menghadapi wabah. Jika seandainya kita hubungkan dengan penelitian dari Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Menular (CMMID) London, Inggris. Tentu hal ini sungguh amat mengerikan, runtunhya layananan kesehatan publik, dan juga tentunya akan berdampak secara sosial, ekonomi, dan politik. Maka perlunya gerakan sosial untuk menghadapi Covid-19 ini.

Gerakan Sosial

Diani dan Bison mendefinisikannya sebagai sebentuk aksi kolektif dengan orientasi konfliktual yang jelas terhadap lawan sosial dan politik tertentu, dilakukan dalam konteks jejaring lintas kelembagaan yang erat oleh aktor-aktor yang diikat rasa solidaritas dan identitas kolektif yang kuat maelebihi bentuk-bentuk ikatan dalam koalisi dan kampanye bersama. Secara singkat, gerakan sosial adalah aksi organisasi atau kelompok masyarakat sipil mendukung atau menentang perubahan sosial.

Baca Juga: Sosialisme di Indonesia Dari Sneevliet Hingga Soekarno

Salah satu pendekatan dalam gerakan sosial yakni mobilisasi sumber daya (Resource Mobilization), yaitu terdapat distribusi yang tidak merata atau ketimpangan terhadap sumber daya yang ada di masyarakat. Ia dapat dibagi kedalam dua jenis, yaitu sumber daya material seperti uang, organisasi, tenaga kerja, teknologi, sarana komunikasi, dan media massa. Di sisi lainnya terdapat sumber daya non-material meliputi legitimasi, loyalitas, hubungan sosial, jaringan, hubungan pribadi, perhatian publik, otoritas, komitmen moral, dan solidaritas

Berdasarkan dari pejelasan tersebut, maka diperlukan gerakan sosial di dalam masyarakat untuk bekerja sama melawan Covid-19 ini. Karena sudah ribuan yang positif terkena virus ini dan angka korban akan terus bertambah jika kita lalai dan tidak mempunyai persatuan dalam menghadapi pandemi ini. Kita tetap harus waspada sampai angka kasus ini berhenti dengan mentaati imbauan dari pihak seperti pemerintah, dokter, atau pihak kesehatan. Hal ini betujuan memberhentikan laju penyebaran Covid-19. Imbauan seperti mencuci tangan dengan hand sanitizer atau sabun, memakai masker, dan imbauan social distancing atau physical distancing harus dimasifkan sosialisasinya kepada masyarakat. Terutama pada masyakarat yang tempat tinggalnya jauh dari akses informasi. Sosialisasi ini amat perlu dilakukan khususnya seorang yang memiliki kemampuan persuasi dengan kerja sama tim yang kuat. begitupun ormas (organisasi masyarakat) harus saling bekerja sama untuk membantu masyarakat lainnya, seperti melakukan donasi ataupun membantu alat medis yang dibutuhkan oleh rumah sakit.

Selain dari itu, situasi di ambang krisis sosial seperti saat ini juga diperlukan kepemimpinan yang decisive, yaitu pemimpin yang memiliki komando dan kontrol atas komandonya. Juga, kepercayaan masyarakat atas komando tersebut yang dimaksudkan sebesar-besarnya untuk keselamatan masyarakat. Oleh karena itu, saatnya simpul masyarakat diperkuat untuk melawan Covid-19. Sinergitas antara masyarakat, semisalnya kelompok intelektual, pemuda, pemuka agama, serta organisasi masyarakat mesti terbangun. Kontrak sosial harus dikawal dan dipastikan terlaksana sebaik mungkin. Sebagai jembatan penghubung antar sesama masyarakat untuk menciptakan gerakan sosial dalam melawan Covid-19.