peran pelajar

Gaya Baru Pergerakan Politik Mahasiswa Masa Kini Gaya Baru Pergerakan Politik Mahasiswa Masa Kini

Pergerakansosialis.com – Dalam sejarah perjuangan bangsa indonesia, mahasiswa kerap terlibat dan memainkan peran yang penting khususnya dalam pergolakan politik. Tidak dipungkiri, pemerintahan kita saat ini merupakan sumbangsih dari perjuangan mahasiswa pada masa itu dalam upaya membawa perubahan terhadap pemerintahan orde baru yang dianggap gagal dalam memimpin bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Untuk memperjuangkan tujuan tersebut memerlukan usaha serta pengorbanan yang besar, sehingga pada masa itu tidak jarang para aktivis mahasiswa sampai mendekam di jeruji besi bahkan gugur di tengah perjuangannya menggalakan reformasi dalam tatanan pemerintahan. Namun semua terbayarkan dengan lengsernya Soeharto beserta rezimnya yang menandai lahirnya era baru. Salah satu perubahan yang nyata dari adanya reformasi tersebut adalah hidupnya keterbukaan dan kebebasan sebagai syarat negara demokrasi yang pada masa orde baru seakan mati suri. Hal tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa adalah agent of change (agen perubahan) dan merupakan aset penting dari bangsa Ini dalam menentukan masa depan bumi pertiwi. Berbicara mengenai perkembangan mahasiswa, tentu banyak perbedaan antara mahasiswa dulu dan sekarang begitu pula gaya pergerakan mereka dalam dunia politik.

Mahasiswa dulu dikenal sangat kritis dan berani dalam pergerakannya sedangkan mahasiswa masa kini sering dianggap apolitis dan tidak kritis. Hal tersebut ditengarai salah satunya perbedaan yang banyak mengubah kehidupan antara mahasiswa dulu dan sekarang yaitu perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang membawa serta globalisasi tersebut membawa berbagai macam dampak salah satunya masuknya budaya-budaya baru di kalangan mahasiswa seperti individualis, hedonisme dan konsumtif yang dengan mudah menjangkiti mahasiswa. Disamping itu, mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial dan disibukkan dengan mengikuti tren-tren yang tidak pernah usai yang membuat mereka kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Jika sudah begini, bagaimana mahasiswa masa kini bisa disebut agent of change jika mereka tidak mengenali masyarakatnya sendiri? Tidak peduli akan lingkungannya, dan tidak paham dengan realitas sosial yang ada di depan mata? Apabila ditelisik, mahasiswa masa kini merupakan generasi Z yang menurut Hellen Chou P. adalah generasi muda yang tumbuh dalam ketergantungan besar terhadap teknologi digital.

Menilik dari data google consumer behaviour, dari total 265,4 juta populasi penduduk di Indonesia, 50% adalah pengguna internet dan dari 50% tersebut didominasi oleh generasi Z. Hal tersebut seharusnya menjadi suatu kelebihan bagi mahasiswa jaman sekarang dan menjadi modal besar dalam pergerakannya di bidang politik. Di era digital kini, pergerakan mahasiswa tidak hanya terbatas dilakukan dengan cara konvensional seperti turun ke jalan dan berdemo, namun juga dengan menggunakan media sosial dimana seluruh masyarakat dari berbagai kelas sosial terkoneksi sehingga cakupannya lebih luas dan global. Gerakan digital sebagai gaya baru pergerakan politik Indonesia membutuhkan mahasiswa yang peka terhadap adanya permasalahan politik di sekitarnya dan memiliki kemauan untuk mengadakan perubahan, tidak hanya sebatas ketikan jempol di gawai saja namun juga dibarengi aksi nyata, selain itu menurut saya mahasiswa harus mempunyai komitmen dan fokus yang tinggi dalam pergerakannya agar pergerakan tersebut tetap independen (tidak ditunggangi kepentingan politik lain), substantif, dan tetap memihak untuk kepentingan rakyat. Dengan hal tersebut mahasiswa masa kini dapat membuktikan bahwa pergerakan politik mereka yang baru adalah pergerakan politik yang transormatif progresif untuk membangun Indonesia yang lebih baik lagi.

Baca Juga :Kondisi Sosial Politik Indonesia Masa Jepang Dan Belanda

Selain Tjokroaminoto, terdapat beberapa tokoh penting SI yang juga melakukan hal serupa, seperti Raden Gunawan, Abdul Moeis, dan Haji Agus Salim. Raden Gunawan melakuakan propaganda di Jawa Barat hingga Sumaera Selatan. Abdul Moeis, melakukan propaganda di Sumatera Barat. Haji Agus Salim, melakukan propaganda ke berbagai daerah di Indonesia, selain melakukan propaganda Haji Agus Salim juga memperkuat basis ideologis kelembagaan SI. Seiring berkembangnya Sarekat Islam, ideologi Sosialis-Komunis juga mengalami perkembangan di Indonesia. Sosialisme Komunis di Indonesia yang disebarkan oleh propagandis Belanda seperti: Sneevliet, Barandesteder, Ir. Baars, Brigsma, dan Van Burink. Mereka membentuk organisasi pergerakan sosialis Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang. Untuk memperjuangkan kepentingan buruh, ISDV kemudian membentuk Vereeniging voor Spoor en Tramweg Personeel (VSTP). Pergerakan yang dilakukan kaum sosialis ini, ternyata menarik simpati para anggota SI, sehingga beberapa anggota SI turut serta menjadi anggota ISDV dan VSTP. Dimulai dengan munculnya Semaoen yang merupakan anggota VSTP sebagai ketua SI Semarang, diikuti masuknya para anggota SI yang lain ke dalam organisasi-organisasi tersebut, hal ini tentu saja memperkuat posisi kaum sosialis. Sosialis-Komunis menjadi wacana baru bagi para anggota Sarekat Islam, selain Pan Islamisme.