pergerakan kaum muda indonesia didorong oleh adanya realitas sosial masyarakat kolonial

Sejarah Latar Belakang Pergerakan Nasional Sejarah Latar Belakang Pergerakan Nasional

Pergerakansosialis.com – Pergerakan nasional ditandai oleh bermunculannya organisasi-organisasi kebangsaart, yang berciri sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Bagaimanakah pergerakan nasional lahir? Pergerakan nasional ini berawal dari keprihatinan kalangan terpelajar tertentu akan banyaknya anak bumiputera yang tidak beroleh kesempatan menempuh pendidikan. Keadaan ekonomi rakyat Indonesia saat itu menyedihkan, padahal pendidikan menuntut biaya yang tidak sedikit. Bagaimana caranya agar martabat rakyat Indonesia berkembang berkat pendidikan? Salah seorang kalangan terpelajar yang peka terhadap kondisi saat itu adalah Dr. Dokter Wahidin menginginkan sebanyak mungkin anak bumiputera terdidik. Namun, ia menyadari harus ada dana untuk pendidikan mereka. Lalu, ia memi1iki gagasan untuk menggalang suatu gerakan pengumpulkan dana bea siswa. Sudah tentu ia tidak bisa sendirian. Maka, antara tahun 1906-1907, ia pun berkeliling ke seluruh Pulau Jawa mengajak para bupati dan kalangan terpelajar agar mendukung gagasannya. Gagasan Dokter Wahidin itu tidak bertepuk sebelah tangan. Ada sekelompok mahasiswa sekolah kedokteran Stovia, Jakarta, membentuk suatu organisasi sebagai tanggapan terhadap gagasan Dr. Wahidin. Organisasi inilah yang merupakan cikal bakal pergerakan nasional, yang diisi oleh rentetan munculnya berbagai organisasi kebangsaan lainnya. Dalam suatu rapat yang sederhana, beberapa mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA, di Kwitang Jakarta, bersepakat mendirikan organisasi kebangsaan bernama Boedi Oetomo (baca: budi utomo), atau disingkat BO.

Rapat itu berlangsung pada tanggal 20 Mei 1908. Para tokoh organisasi ini antara lain Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Cipto Mangunkusumo, R.T. Dapat dikatakan, BO merupakan organisasi kebangsaan yang pertama. Berdirinya organisasi ini menandai bentuk perjuangan baru melawan penjajah. Dahulu rakyat Indonesia berjuang secara fisik serta dengan organisasi yang berciri tradisional (kedaerahan). Sejak BO berdiri, perjuangan Indonesia menempuh cara organisasi modern demi kepentingan seluruh bangsa (nasional). Itulah sebabnya, hari jadi BO kita peringati sekarang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. BO bertekad meningkatkan martabat bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Agar tekad itu tercapai, organisasi tersebut memusatkan kegiatannya dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Adapun program yang dijalankannya antara lain memperhatikan kepentingan pengajaran umum, memajukan pertanian, peternakan, dan perdagangan, memajukan teknologi dalam industri kecil, mengenalkan kem.bali warisan kebudayaan dan ilmu pengetahuan nenek moyang, mempertinggi cita-cita kemanusiaan pada umumnya, serta memperhatikan segala hal yang perlu untuk menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat. Pada akhir tahun 1909, BO telah mempunyai cabang di 40 tempat dengan jumlah anggota sekitar 10.000 orang.

Dukungan terhadap organisasi ini terutama datang dari kalangan pelajar (kebanyakan bangsawan) dan para pejabat bumiputera (bupati dan sejawat). Pada tahun-tahun berikutnya, organisasi ini memperluas orientasi perjuangannya, tidak hanya di bidang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial, melainkan juga melangkah ke bidang politik. Pada tahun 1909, Kyai Haji Saman-hudi, seorang saudagar batik dari Laweyan, Solo, mendirikan suatu organisasi bernama Sarekat Dagang Istam. Tujuan semula dari organisasi ini adalah melindungi sekaligus memajukan usaha para pedagang bumiputera dalam rangka menanggulangi monopoli para pedagang besar Tionghoa. Selain itu, organisasi ini bertuj uan j uga meningkatkan pengamalan agama Islam di kalangan anggotanya. Tampak bagi kita, organisasi tersebut menempatkan ekonomi dan agama sebagai landasan organisasi. Sarekat Dagang Islam memperoleh sambutan luas di kalangan pedagang Islarn. Kemudian, pada tahun 1911, Sarekat Dagang Islam beralih nama menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama tersebut menandai perluasan ruang lingkup gerakan. Organisasi ini tidak lagi membatasi dirinya pada urusan perlindungan perdagangan saja, melainkan j uga melawan segala bentuk penindasan dan kesombongan rasial.

Baca Juga : Dukung Pergerakan Sosial Gabungan Scooterist Peduli

Perluasan gerakan tersebut merupakan desakan seorang anggota dari suatu kantor dagang di Surabaya, bemama Haji UmarSaid Cokroaminoto. Ia kemudian menjabat Ketua SI sejak tahun 1912. Adapun tokoh SI lainnya adalah Haji Agus Salim, Abdul Muis, dan Suryopranoto. Dalam Anggaran Dasarnya, tertanggal 10 September 1912, SI menggariskan program organisasinya sebagai berikut, yaitu mengembangkan jiwa berdagang, memberi bantuan kepada para anggota yang tertimpa kesukaran (semacam koperasi), memajukan. Kalau kita bandingkan dengan BO, akan kita jumpai keunikan tersendiri pada SI. BO amat kentara dipelopori oleh kalangan intelektual dan kalangan atas (bupati dan sejawat). Sedangkan SI mencakup semua lapisan masyarakat, sampai pada lapisan bawah. Dengan demikian, organisasi itu menempatkan dirinya sebagai gerakan rakyat. Itulah sebabnya, pemerintah kolonial merasa was-was dengan gerak-gerik SI. Gubernur Jenderal Idenburg berupaya mempersulit kegiatan organisasi tersebut. Misalnya, SI tidak diperbolehkan mempunyai pengurus besar, sehingga ijin menjadi badan hukum ditolak. Terhadap tindakan pemerintah kolonial itu, SI membentuk badan pusat yang mengatur SI di daerah-daerah. Pada bulan Juni 1916, organisasi ini menyelenggarakan sidang yang disebut Kongres Nasional SI.

Hubungan Partai Buruh Belanda Dengan Kaum Pergerakan Indonesia Hubungan Partai Buruh Belanda Dengan Kaum Pergerakan Indonesia

Pergerakansosialis.com – Seorang petinggi dari negeri Belanda akan segera turun dari kapal diiringi sambutan para wartawan surat kabar Belanda. Orang itu bernama Henri Hubertus Van Kol, anggota Parlemen Kerajaan Belanda sekaligus salah seorang pemimpin Partai Buruh Sosialis-Demokrat Belanda. Dalam perjalanan dinasnya mengelilingi Hindia Belanda, Van Kol sempat singgah di Jepara untuk menemui Kartini. Berdasarkan penuturan Sitisoemandari dalam Kartini Sebuah Biografi (1979: hlm. 254), keinginan untuk berjumpa dengan putri Bupati Jepara itu timbul atas dorongan dari Stella H. Zeehandelaar, aktivis sosialis perempuan sekaligus sahabat pena Kartini di Belanda. Sitisoemandari mendeskripsikan Van Kol sebagai sosok besar dan tegap. Mengutip pengarang W.H. Vliegen, ia menyebut Van Kol memiliki pengaruh “magis” dalam kepribadiannya sebagai pemimpin. Pengaruhnya ini terutama sangat dirasakan di kalangan kaum buruh. Selain mereka, para bupati termasuk Ayah Kartini pun disebutkan sangat menaruh hormat pada sosok tersebut. Van Kol bukan orang baru di Hindia Belanda. Pada tahun 1876, ia pernah bekerja di Tegal, Jawa Tengah, sebagai tenaga ahli pemerintah kolonial Belanda. Kala itu, ia menyaksikan diskriminasi yang mewarnai kehidupan kelas menengah ke bawah di negara koloni. Namun, ia tidak mengkritik pemerintah kolonial dan tetap bertahan melakoni pekerjaannya selama hampir 16 tahun. Pada 1892, Van Kol akhirnya memutuskan pulang ke Belanda.

Setelah kembali ke negerinya, Van Kol tak berdiam diri lagi. Pada 1894 ia mendirikan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau Partai Buruh Sosial-Demokrat bersama 11 orang cendekiawan lainnya. Salah satu tujuan pembentukannya ialah meningkatkan kesejahteraan penduduk pribumi di negara-negara koloni. 104), Van Kol melalui SDAP berulang kali melancarkan kritik terhadap kebijakan Pemerintah Belanda terkait tanah Hindia Belanda. Dalam tuntutannya, SDAP meminta agar Pemerintah Belanda menghentikan Perang Aceh dan menghapus kerja paksa. Mereka juga menunjukkan dukungannya kepada pergerakan yang menuntut perubahan harkat kehidupan masyarakat kecil di Hindia Belanda. Bukan hanya orang-orang Belanda dan kelompok Indo yang menerima dukungan ini, tapi juga orang-orang Jawa yang tergabung dalam Indische Partij, Budi Utomo, dan Sarekat Islam. Menurut Van Kol, pembentukan kelompok diskusi atau organisasi sosialis di negara-negara koloni sudah sepatutnya dilakukan. Menurut Preben Kaarsholm dalam antologi Internationalism in the Labour Movement: 1830-1940 (hlm. Namun, menurut Tichelman, SDAP selalu bersikap ragu-ragu menanggapi usulan Van Kol.

Mereka masih menganggap Hindia Belanda sebagai teritori yang tertutup dan kurang memiliki manfaat bagi kepentingan politik negara induk. Empat tahun setelah pidato di Paris, Van Kol kembali mempertegas resolusinya. Awal abad ke-20, pengaruh SDAP sudah mulai terasa di Hindia Belanda. Perkumpulan sosialis di Hindia Belanda disebutkan sudah mulai berkegiatan sejak tahun 1902. Lingkaran ini bahkan sempat membentuk Kontributie Vereeniging (perkumpulan penyumbang) yang ditujukan untuk menggalang dana bagi SDAP yang akan mengikuti pemilu pada 16 Juni 1905 di Belanda. Meskipun tidak berhasil memenangkan Pemilu 1905, SDAP tidak lantas kehilangan pamor. Sebaliknya, memasuki 1910-an partai ini semakin besar. Di saat yang bersamaan, SDAP juga mulai bersentuhan dengan kelompok Indo dan orang-orang pribumi terpelajar yang merantau ke Belanda. Berdasarkan catatan Pradipto Niwandhono dalam Yang Ter(di)lupakan: Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia (2011: hlm. 136), dunia pergerakan di Hindia Belanda mulai mengarah radikalisme saat memasuki tahun 1912. Di tahun itu, Douwes Dekker muncul mewakili golongan Indo miskin dan pribumi melalui kampanye politik yang diadakan dewan kotapraja Bandung. Ia kemudian membentuk Indische Partij (IP) bersama kawan-kawan Indonya. Namun, karena Politik Etis telah menempatkan orang Indo dan pribumi dalam posisi bersaing, IP tidak berhasil meraih dukungan dari orang-orang pribumi.

Untuk mengatasi hal itu, IP lantas mengajak beberapa orang pribumi dari kalangan terpelajar. Menjelang tutup tahun 1912, Douwes Dekker berhasil mengajak Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat untuk turut dalam kegiatan politik IP. Maka lahirlah Tiga Serangkai. Menurut Pradipto, IP banyak berafiliasi dengan serikat buruh pekerja. Keanggotaannya bersifat campuran antara orang Indo dan pribumi. Sebagian besar basis massa proletar ini datang dari wilayah keanggotaan di sekitar Semarang. Sebanyak 90 persen keanggotaan IP Semarang diisi oleh orang-orang dari serikat buruh kereta api. “Konsultasi yang luas pun diadakan dengan anggota Parlemen dari SDAP sebagai persiapan menghadapi perdebatan di Parlemen mengenai pengasingan itu. Namun, hanya SDAP yang tampil membela tiga serangkai itu,” tulis Poeze. Kedatangan Tiga Serangkai di Belanda diterima dengan penuh rasa hormat oleh orang-orang SDAP. Bahkan menurut temuan Poeze, sehari setelah menginjakkan kaki di Belanda, organ SDAP Het Volk, langsung mendedikasikan satu halaman penuh untuk memuat cerita perlakuan tidak adil pemerintah kolonial terhadap ketiganya. Pada tahun 1917, Soewardi memutuskan bergabung dengan harian Het Volk. Di sana, ia berkesempatan melaporkan jalannya rapat-rapat SDAP dan melakukan tinjauan panjang mengenai masalah Hindia Belanda. Poeze menyebut hubungan Soewardi dan SDAP semakin akrab berkat tulisan berjudul “Suara Seorang Hindia” yang didedikasikan untuk memperingati hari ulang tahun SDAP yang ke-25. “Banyaklah kita kaum nasionalis Hindia berhutang budi kepada partai ini. Bukankah kaum sosial-demokrat yang di bawah pimpinan Van Kol di Parlemen Belanda selalu bersikap jelas membela kepentingan kita terhadap borjuasi Belanda? ” tulis Soewardi seperti dikutip oleh Poeze. Tulisannya itu mengundang beragam reaksi. Banyak yang menegurnya karena melayangkan simpati kepada SDAP secara terbuka. Kebetulan di saat yang bersamaan, SDAP tengah terguncang akibat perseturuan dengan Sociaal-Democratische Partij (SDP) atau Partai Sosial Demokrat, kelompok sosialis revolusioner cikal bakal partai komunis Belanda. Namun, tampaknya Soewardi tidak terganggu dengan perseturuan orang-orang sosialis Belanda.

Baca Juga :Gaya Baru Pergerakan Politik Mahasiswa Masa Kini

Hegemoni ini terjadi melalui media massa, sekolah-sekolah, bahkan melalui khotbah atau dakwah kaum religius, yang melakukan indoktrinasi sehingga menimbulkan kesadaran baru bagi kaum buruh. Daripada melakukan revolusi, kaum buruh malah berpikir untuk meningkatkan statusnya ke kelas menengah, mampu mengikuti budaya populer, dan meniru perilaku atau gaya hidup kelas borjuis. Ini semua adalah ilusi yang diciptakan kaum penguasa agar kaum yang didominasi kehilangan ideologi serta jatidiri sebagai manusia merdeka. 2. “war of movement” (perang pergerakan). Perang posisi dilakukan dengan cara memperoleh dukungan melalui propaganda media massa, membangun aliansi strategis dengan barisan sakit hati, pendidikan pembebasan melalui sekolah-sekolah yang meningkatkan kesadaran diri dan sosial. Karakteristiknya: Perjuangan panjang. Mengutamakan perjuangan dalam system. Perjuangan diarahkan kepada dominasi budaya dan ideology. Perang pergerakan dilakukan dengan serangan langsung(frontal), tentunya dengan dukungan massa. Perang pergerakan bisa dilakukan setelah perang posisi dilakukan, bisa juga tidak. Meskipun analisa Gramsci berkisar pada perang kelas ekonomi, konsep hegemoni dapat diperluas ke wilayah sosial dan regional.