pergerakan sosial

Pergerakan-Sosial-Di-Tanah-Partikelir-Pamanukan-Dan-Ciasem-1913 Pergerakan-Sosial-Di-Tanah-Partikelir-Pamanukan-Dan-Ciasem-1913

pergerakansosialisSepanjang abad ke -19 dan awal abad ke – 20 di Indonesia terus- menerus timbul pemberontakan,kerusuhan,kegaduhan,brandalan dan sebagainya.,yang semua itu cukup menggoncangkan masyarakat dan pemerintah waktu itu.Tidak dapat disangkal lagi,bahwa domonasi barat beserta perubahan-perubahan sosial yang mengikutinya telah memungkinkan rakyat untuk berkecenderungan melakukan pemberontakan sosial.Dominasi ekonomi,politik dan kultural yang terjadi pada masa kulural telah menimbulkan disorganaisasi dikalangan masyarakat tradisional beserta lembaganya.Dalam menghadapi pengaruh penetrasi budaya barat yang memiliki kekuatan disintegratif,masyarakat Indonesia memiliki cara-cara untuk membuat reaksi sendiri.Karena didalam sistem kolonial tidak ada lembaga-lembaga untuk menyalurkan perasaan tidak puas atau kekuatan oposisional,maka jalan yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan gerakan sosial sebagai protes sosial.

PEMBAHASAN

A. GERAKAN MELAWAN PEMERASAN

1. Pendahuluan

Agresi kaum petani yang timbul ditanah sepanjang abad ke-19 dan awal abad-20 merupakan suatu gejala historis dari masyarakat petani pribumi.Pada umumnya hamper semua kerusuhan-kerusuhan yang terjadi ditanah partikelir merupakan akibat dari adanya pungutan pajak yang tinggi dan tuntutan pelayanan kerja yang berat terhadap kaum petani di daerah itu.Oleh karena itu kerusuhan-kerusuhan tersebut sering disebut kerusuhan cuke, sesuai dengan nama jenis pungutan pajak di daerah itu.

Berbeda dengan gerakan sosial lainnya pergolakan ditanah partikelir itu lebih terarah secara gerakan khusus karena suatu dendam tertentu Tanah partikelir timbul sebagai akibat dari praktek penjualan tanah yang dilakukan oleh Belanda semenjak permulaan zaman VOC sampai perempat pertama abad ke-19 Pada masa Deandels dan Raffles telah diadakan perbaikan,yaitu dengan adanya larangan kepada para tuan tanah untuk menerima sepersepuluh dari hasil tanah atau memungut pengerahan tenaga kerja yang berat.Dalam peraturan pemerintah tahun 1836 ,pemerintah juga memiliki kekuasaan untuk melindungi para petani dan juga mengatur peradilan ditanah partikelir.Meskipun demikian tindakan sewenang-wenang masih saja berlaku sehingga menimbulkan keresahan dikalangan para petani dan akhirnya meletus kerusuhan-kerusuhan.
Pada tahun 1845,1886,1892 terjadilah kerusuhan yang sengit dicandi Udik,Ciomas dan Campea.

2. Gerakan di Jawa

Tanah partikelir yang terletak di lereng gunung Salak bagian utara terjual oleh Gubernur Jendral Daendels .Daerah ini memiliki sejarah pergolakan yang berulang kali dalam menentang tuan tanah.Kerusuhan di ciomas yang terjadi pada tahun 1886 merupakan suatu pertentangan antara petani,tuan tanah.dan pemerintah.Ketidakpuasan para petani mengambil mengambil pemberontakan secara langsung pada bulan februari 1886,yaitu ketika camat Ciomas yang bernama Haji Andurrakim dibunuh..Pada bulan yang sama Arpan dan kawaan-kwaannya mundur kepasir Paok,dimana mereka menolak untuk menyerah kepada militerSebulan sebelum pecahnya pemberontakan Ciomas itu Mohammad Idris yang lahir Di Ciomas melarikan diri ke gunung Salak dan hidup berpindah-pindah.Makin lama maakin banyak orang yang bergabung dengannya yaitu orang-orang yang melarikan diri dari tanah partikelir.

Mereka menyusun rencana untuk menyerang Ciomas,dan tepat pasaa hari Rabu malam 19 mei 1886,Idris dan kawan-kawannya menduduki daerah Ciomas bagian selatan.Serangan mereka ditujukkan kepad tuan tanah dan bukan kekayaaannya.Kemudian pada tanggal 20 mei di Godok diselenggarakan sedekah bumi yang diakhiri oleh semua pegawaai tuan tanah.Melihat agen-agen tuan tanah yang menjadi agen penindasannya,maka pengikut Idris dengan kemarahannya menyerang mereka dengan membabi buta .Pesta itu diakhiri dengan penyembelihan besar-besaran dengan korban 40 orang terbunuh dan 70 orang lainnya luka-luka.Gerakan petani ini menganggap bahwa yang menjadi musuhnya adalah pegawai pemerintah ,tuan tanah,pedagang-pedagang dan lintah darat.Suatu ciri yang penting dari pemberontakan Ciomas adalah adanya spontanitas waktu.

Pada tahun 1913 tampaklah gelombang kerusuhan-kerusuhan baru yang meluas berturut-turut diberbagai tanah partikelir.Di Campea terdapat huru-hara pada awal tahun itu.Suatu pergantian pemilik tanah diikuti dengan pengangkatan pegawai yang baru.Pemilik yang baru itu dengan tanpa pengetahuan yang cukup tentang keadaan setempat mencoba untuk membuat peraturan-peraturanbaru guna menjamin hak tuan tanah.Pada malam hari tanggal 14 Januari sebuah mobil dihancurkan dan beberapa ekor kuda dilukai.Pada hari berikutnya berkumpulah kira-kira dua ratus orang untuk mengadakan protes terhadap peraturan-peraturan baru.Disebutkan bahwa pertemuan-pertemuan rahasia telah diadakan di Ciomas .Berapa bulan kemudian gerakaan ini merembes ke Pemanukan dan Ciasem dimana Agitasi rakyat menentang pungutan cuke yang meningkat tinggi mendapat tempat yang lebih luas.

Pada bulan mei 1913 kurang lebih 400 orang petani beramai-ramai datang kerumah Bupati Purwakarta untuk mengajukan permintaan keringanan beban pungutan cuke.Gerakan itu tidak berhenti malahan meluas kedesa-desa tanah partikelir.Kemudian peristiwa ditanah partikelir di Surabaya pada tahun 1916 bersifat radikal atau revolusioner.Gerakan ini sifatnya berbeda dari gerakan ditanah partikelir didaerah lainnya.Pergolakan ini bertujuan untuk menghancurkan institusi tanah partikelir termasuk berbagai kewajiban yang dibebankan kepada penduduknya.Secara keseluruhan latar belakang dari agresi petani dalam hal ini sangat penting karena menunjukan gerakan petani ini telah dipengaruhi radikalisme dan gerakan nasionalisme moderen,terutama terpengaruh oleh Serikat Islam.Ciri khas lainnya adalah gerakan ini tampak bersifat sekuler yaitu tidak adanya tanda-tanda ide agama atau upacara keagamaan.
Lebih sensasional dari pemberontakan Surabaya adalah pemberontakan di Condet,sebuah desa partikelir Tanjung Oost Jawa Barat.Dengan berlakunya peraturan baru tantang tanah partikelir tahun 1912,para tuan tanah melakukan pengadilan terhadap petani-petani yang tidak membayar pajak kepadanya.

Akibatnya banyak kaum petaani yang mengalami kebangkrutan karena harta milik mereka terpaksa disita,dijual atau dibakar.Di batu Ampar penduduk memasuki perkumpulan beladiri yang bermaksud untuk digunakan dalam melakukan pencegahan terhadap pegawai-pegawai pemerintah yang akan melaksanakan keputusan-keputusan peradilan distrik.Kemudian di Tangerang terdapat peeistiwa kerusuhan pada tahun 1924.Dalam penggarapan tanah para petani tangerang harus menyerahkan seperlima dari hasil panaen kepada tuan tanahnya.

Selain itu terdapat kompenian rakyat yang digunakan di perusahaan pembuatan genting.Beberapa hari sebelum meletusnya pemberontakan,kaum pemberontak mengadakan pertemuan-pertemuan dan perjalanan ketempat-tempat keramat di Manggadua dan Perungkured ,Rakhmat dari orang-orang keramat disana diharapkan untuk menjamin berhasilnya usaha dalam merebut kembali negeri pulo jawa .Pada tanggal 19 Februari,Kaiin salah seorang tokoh pemimpin pemberontakan di Tangerang,ia memimpin pengikut-pengikutnya menuju tempat tuan tanah di pangkalan dan menyerang penghuninya serta harta miliknya.Kantor tuan tanah Kampong Melayu dirobohkan dan buku-buku dibakar.

Kemudian gerombolan itu menuju rumah assisten Wedana Teluknaga untuk memberitahukan bahwa mereka akan datang ke Jakarta untuk menghancurkannya.Tak lama kemudian polisi digerakkan ke Teluknaga kemudian pada siang harinya gerombolan bergerak kea rah Jakarta .Perjalanan ini berakhir sampai ke Tanah Tinggi dimana mereka dihujani tembakan sehingga 19 pemberontak tewas dan 20 lainnya tertangkap.Kemudian gerakan di Demak pada tahun 1918 dan 1935 tampak adanya tingkatan modernitas yang lebih luas tingkatannya.Gerakan dimulai dengan diadakannya serentetan rapat dicabang-cabang Serikat islam,yang dirumuskan sebagai berikut :

  • Penghapusan pajak kepala (sebagai ganti kerja paksa )
  • Penghapusan lumbung desa dan pembagian padi kepada orang kecil
  • Pengembalian tanah sawah komunal kepada orang kecil
  • Pembelian tanah partikelir oleh pemerintah secepat mungkin .Bila tuntutan ini tidak dipenuhi rakyat akan memberontak.

Kerusuhan lain ialahperistiwa Genuk pda tahun 1935 di daerah Demak .Timbulnya pemberontakan ini terjadi dikalangan para kusir gerobag yang menolak untuk membayar pajak kepada pemerintah kotapaja Semarang.Mereka sebenarnya menolak pajak dua kali yaitu ke kabupaten Demak dan semarang.Kerusuhan di Genuk ini diorganisasi oleh Sukaemi daan Raden Akhmad yang menjadi anggota serekat kusir Indonesia .Gerakan ini juga terdapat unsur-unsur agama .Dari kerusuhan-kerusuhan tersebut maka jelaslah bahwa rakyat masuk dalam arus pemberontakan karena mereka menginginkan berakhirnya kebobrokan ekonomi.

B. GERAKAN RATU ADIL

• Pendahuluan

Secara singkat gerakan ini menghendaki munculnya suatu millennium yaitu harapan terhadap datangnya jaman keemasan yang tidak mengenal penderitaan rakyat dan semua ketegangan serta ketidakadilan telah lenyap.Dalam segi-segi keagamaan gerakan ini selalu menyertakan unsur-unsur nativistis ialah kehidupan kembali mitos-mitos lama atau suatu kerinduan terhadap kembalinya jaman keemasan pada masa lampau.Tujuan pokok dari gerakan ini adalah merubah kehidupan pro-fan dari masyarakat secara mutlak dan radikal,tanpa mengarahkan ke tujuan-tujuan dunia belaka.

Untuk memahami sifat khas daripada gerakan mesianistis di Jawa perlu kiranya diketahui lebih dahulu tentang latar belakang budaya tempat gerakan itu terbentuk.Praktek-praktek islam yang umum dipedesaan jawa selalu dipenuhi dengan unsur-unsur non-islam seperti misti,kekuatan magis, dan pola adat kebiasaan lama yang diserap tetapi semua unsur ini memperlemah sifat keagamaannya.Pesantren dan tarekat mempunyai peranan penting dalam perkembangan gerakan mesianistis.Keduanya memberikan dasar organisasi yang kuat bagi pergerakan social dan memberikan kekuatan yang pokok dalam melakukan tindakan-tindakan politik.Pesantren bukan hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama tetapi juga sebagai tempat penanaman kader-kader pemimpin agama.

Faktor penting yang berlaku umum disebagian besar gerakan mesianistis ialah bahwa gerakan itu tersusun dari kelompok-kelompok keluarga.Ledakan-ledakan mesianisme telah menunjukan didalamnya termuat tuntunan mengenai penyelamatan masyarakat yang menjelma dalam kedatangan ratu adil dan imam mahdi,Tradisi mesianistis islam masuk juga kedalam mesianisme jawa,dan mahdisme dapat dilihat dengan jelas dalam beberapa gerakan aliran agama di Jawa.Mesianisme islam yang masuk kedalam mesianisme jawa itu umumnya tercermin dalam bentuk eskatologinya.Persamaan dan perbedaan mengenai gerakan gerakan mesianistis ini dapat diperjelas melalui beberapa contoh yang muncul didalam budaya jawa.Perlu ditekankan bahwa skala gerakan itu mungkin mencakup lingkungan kecil,namun masalah yang dihadirkan cukup luas.

1. Milenarianisme dan Ratu Adil

Konsep ratu adil akan diikuti dengan konsep berikutnya, yakni Milenarianisme. Milenarianisme atau milenialisme adalah suatu keyakinan oleh suatu kelompok atau gerakan keagamaan, sosial, atau politik tentang suatu transformasi besar dalam masyarakat dan setelah itu segala sesuatu akan berubah kearah yang positif (atau kadang-kadang negatif atau tidak jelas). Milenialisme adalah suatu bentuk Milenarianisme spesifik berdasarkan suatu siklus seribu tahunan. Kelompok-kelompok milenarian biasanya mengklaim bahwa masyarakat masa kini dan para penguasanya korup, tidak adil, atau menyimpang. Karena itu mereka percaya bahwa mereka akan segera dihancurkan oleh suatu kekuatan yang dahsyat. Sifat yang berbahaya dari status quo ini selalu dianggap tidak dapat diubah tanpa adanya perubahan dramatis yang telah diharapkan. Ditemukan bahwa Dalam alam pikiran Jawa terdapat mitos Ratu Adil. Mayarakat Jawa sering kali mengaitkan mitos Ratu Adil ini dengan Ramalan Prabu Jayabaya.

Dalam ramalan itu banyak menyebutkan bahwa penderitaan yang dialami, seperti peningkatan beban pajak, harga hasil bumi merosot tajam, hukum dan pengadilan tidak berjalan semestinya, syariat Tuhan tidak lagi dijalankan, banyak orang akan tersingkir dan orang jahat akan berkuasa, pemerintahan tidak berjalan dengan baik dan rakyat semakin sengsara, banyak terjadi bencana alam, dan krisis-krisis sosial lainnya, akan hilang dengan datangnya Ratu Adil. Dengan demikian, Ratu Adil, dalam tradisi Jawa lebih bersifat politis, meskipun ada sedikit sebagai gerakan mistis (kebatinan).

Mitos Ratu Adil ini terwujud dalam bentuk tampilnya seorang pemimpin, yang dianggap dapat menjadi tokoh yang menyelesaikan permasalahan atau krisis yang melanda. Zaman edan tidak mungkin diubah dengan cara lain kecuali menanti tokoh Ratu Adil tersebut. Untuk merealisasikan perubahan zaman tersebut diperlukan suatu gerakan, yang ditopang oleh seorang pemimpin, yang dianggap sebagai Ratu Adil, yang mampu mewujudkan penentian tersebut. Adapun pengaruh dari mitos Ratu Adil misalnya ditemukan dalam perang Jawa dapat dilihat dari munculnya tokoh kharismatis, yang dianggap sebagai ‘wali Tuhan’ yaitu Pangeran Diponegoro yang mampu menangkap seluruh penderitaan dan kesengsaraan rakyat, sehingga melalui kharismanya ia mampu berfungsi sebagai pemikat massa dan katalisator atas keluhan dan penderitaan tersebut, sekaligus sebagai sentral penampung ide, harapan bagi terciptanya kehidupan yang adil dan makmur sejahtera.

Baca Juga : Soe Hok Gie Berperan Sebagai Pergerakan Mahasiswa

• Gerakan di Jawa

Pada tahun 1903 seprang kyai dari desa samentara di kabupaten sidoharjo bernama kasan mukmin.Ia lahir di sebuah desa dekat muntilan,kira-kira tahun 1854.Kasan mukmin mulai bertindak sebagai orang yang menerima wahyu dan mengaku sebagai jelmaan imam mahdi yang akan mendirikan sebuah kerajaan baru di Jawa.Ia berkhotbah bahwa perang jihad akan diumumkan untuk melawan pemerintahan belanda.Sebelum memproklamirkan dirinya sebagai juru selamat,ia membagikan jimat kepada pengikutnya dan menyatakan bahwa ia dapat menyembuhkan penyakit.Kasan mukmin berencana melakukan pemberontakan melawan belanda.

Mendengar adanya gerakan pemberontakan bupati sidoharjo pergi ke gedangan dengan dikawal polisi bersenjata.Pertempuran pun terjadi,dan dalam pertempuran tersebut residen menderita luka-luka dan meninggalkan korban sejumlah 40 orang meninggal dan 20 orang luka-luka.Kasan mukmin sendiri terbunuh karena menolak untuk ditawan ,pada saat itu jumlah orang yang ditawan mencapai 83 orang.Didalam peristiwa gedangan ini terdapat sumber-sumber yang menunjukan bahwa terdapat beberapa agitasi yang secara khusus berhubungan dengan rasa dendam dan ketidakpuasan rakyat.Hal ini terjadi akibat perselisihan petani dengan perkebunan tebu karena penyewaan tanah yang tidak wajar, pengerahan tenaga buruh, system pengairan, dan pungutan pajak.Terdapat pula rasa dendam dalam agitasi yang tajam seperti :

Gerakan mesianisme muncul kembali pada masa-masa berikutnya.Pada dasarnya pengikut gerakan ratu adil terdiri dari anggota bangsawan rendah, dan sejumlah pengikutnya berasal dari golongan masyarakat rendah atau orang kebanyakan.Ini terjadi akibat factor social ekonomi yang melatarbelakanginya.Dari gambaran munculnya gerakan mesianistis tersebut dapat dikatakan bahwa didalam budaya jawa,kepemimpinan didalam gerakan mesianistis bersumber pada wahyu suci, wisik ataupun wangsit dimana semua itu dinyatakan sebagai kekuatan yang bersifat gaib, misalnya memiliki kekuatan magis, dapat menyembuhkan orang sakit, dan sebagainya.Selain itu dapat ditunjukan pula bahwa pemimpin mesianistis tersebut pada dasarnya memiliki pribadi yang dinamis, memiliki jarinagn komunikasi yang luas yang dapat melewati batas-batas daerahnya. Tetapi ide dan sikap sebenarnya besifat tradisional.

C.GERAKAN SAMIN

Diantara pergolakan sosial dipedesaan, pergerakan samin dapat dianggap sebagai gerakansosial tradisional yang pasif. Gerakan ini memiliki ciri-ciri gerakan pedesaan yang lai, seperti pelakunya adalah para petani, daerah gerakannya tidak luas dalam arti hanya meliputi beberapa desa saja dan sering terpisah-pisa: artinya tidak ada dukungan atau konsulidasi diantara gerakan-gerakan tersebut. Gerakan Samin dimulai kira-kira akhir abad 19. Gerakan ini berhasil mencapai puncaknya yaitu dengan berhasil membuat kecemasan pada pemerintah Hindia Belanda,akan tetapi pengaruhnya terhadap tatanan masyarakat pada waktu itu ataupun pada susunan pemerintah tidaklah begitu besar.Pemerintah Hindia Belanda menganggap gerakan samin adalah gerakan mesianistis,pendapat tersebutsejalan dengan pandangan Snouck Hurgronje,penasehat Pemerintah Urusan bumiputra dan Ahli Islam paa waktu itu yang berpendapat bahwa gerakan Samin adalah gerakan mesianistis yang non islam. Gerakan ini tidaklah begitu berbahaya karena gerakan ini bisa ditumpas dengan menumpas pemimpinnya.Itulah sebabnya Surontiko Samin, pengajar ajaran Saminisme,dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda ke sumatra,meskipun tidak cukup bukti bahwa dia memberontak. Pada umumnya gerakan sosialis dipedesaan daantaranya Yang dilakukan Oleh orang-orang Samin karena didorong oleh tekanan-tekanan ekonomi karena kebijakan-kebijakan yang merugikan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintahan hindia Belanda dalam menjalankan politik kolonialnya.

• Gerakan di Jawa

Pada bulan Februari tahun 1903 Residen Rembang melaporkan kepada pemerintah Hindia Belanda bahwa didaerah Blora selatan dan daerah yang berdekatan dengan Bojonegoro terdapat lebih dari 7000 orang Samin. Empat tahun kemudian jumlah mereka diperkirakan berjumlah 3000 orang.pada tahun 1905 pemerintah mulai menaruh perhatian pada orang-orang Samin. Salah satu sebabnya ialah sikap orang-orang Samin itu yang mulai menarik diri dari kehidupan masyarakat sekitarnya. Misalnya mereka menolak menjalankan kewajibannya untuk menyerahkan padinya pada lumbung desa, selain itu mereka juga tidak menaati peraturan pemerintah dengan mengambil kayu di hutan-hutan yang dikuasai pemerintah karena orang samin menganggap daerah hutan itu adalah wilayahnya dan bebas memanfaatkan dan mengambil hasil dari hutan tersebut karena sejak dahulu pada jaman kerajaan majapahit daerah hutan yang dikuasai oleh kerajaan majapahit(penguasa terdahulu) hanya bersifat teoritis saja sehingga rakyat masih bebas memanfaatkan hutan.akan tetapi hal itu sangatlah terbanding terbalik karena pada saat itu tahun 1897 pemerintah Hindia Belanda (penguasa saat itu)sedang meningkatkan penguasaan dan pengelolaan hutan.

Karena pemerintah Hindia belanda benar-benar menguasai dan mengeksploitasinya secara efektif karena hutan jati merupakan salah satu sumber keuangan negara, maka pemerintah akan melarang bahkan memberi hukuman bagi masyarakat yang mengeksploitasi daerah kekuasaannya.Orang Samin adalah mereka yang mengangggap dirinya sebagai penganut ajaran Surontiko Samin, seorang petni yang berasal Randublatung, Blora Selatan.didalm ajarannya menganggap bahwa mereka tidak percaya dengan adanya tuhan, karena orang Samin mempunyai kepercayaan “Tuhan itu ada di dalam diri sendiri”dan penyelamat dari siksaan adalah dirinya sendiri. Selain itu ajaran samin juga diartikan sebagai sami-sami,yang bersumber pada dasar persamaan manusia.mereka menganggap semuanya itu saudara dan harus saling tolong menolong. Pada tahun 1890 samin mulai menarik pengikutnya, yaitu para petani didesanya dan desa-desa sekitarnya. Setelah ajarannya meluas sampai ke Rembang, Blora utara dan sampai Ngawi, pemerintah mulai menaruh perhatiaannya pada orang Samin karena mereka melakukan tindakan-tindakan yang melanggar peraturan pemerintah. Dalam penyebarannya Samin dibantu oleh dua menantunya yaitu surohidin dan Karsiyah

Pada tahun 1907 timbul desas-desus bahwa orang Samin akan melakukan pemberontakan terhadap Pemerintah, yang kemudian membuat surontiko samin dan 8 pengikutnya ditangkap dan dibuang di Padang dan meninggal disana, hal itu dilakukan karena banyak sumber-sumber resmi menuduh bahwa Samin dan para pengikutnya merencanakan akan menjatuhkan Pemerintahan Hindia Belanda dengan tujuan membentuk pemerintahn baru sesuai dengan pergantiaan jaman.karena kebetulan bahwa tahun baru Jawa yang diawali oleh bulan Suro jatuh pada tanggal 14 Februari 1907 dan orang Jawa percaya bahwa biasanya pada pergantian tahun atau jaman terjadi perubahan-perubahan dalam kehidupan umat manusia. Sehingga Pemerintah Hindia Belanda segera bertindak untuk mencegah semakin meluasnya gerakan meianistis ini.

Dengan kepergian Surontiko, gerakan Samin mengalami kemunduran dalam peyebaran ajarannya.pada tahun 1908 seorang yang bernama Wongsorejo menyebarkan ajaran Samin di Jiwan dekat madiun, ia mengakui dengan mengajak para pengikutnya untuk tidak membayar pajak, karena pengikutnya masih sedikit maka gerakn ini mudah di tumpas dengan menangkap Wongsorejo dan 2 pengikutnya. Akan tetapi pada abad ke 20 Gerakan Samin semakin meningkat,sifatnya pun berubah. Tanda-tanda bahwa merekan akan bertindak dengan cara keraspun mulai nampa. Di Grobogan Orang Samin dibawah pimpinan Surohidin dan Pak Engkrak tidak mau menaati peraturan-peraturan pemerintah, sedngkan pak Kasriyah menantu Samin, mengajak rakyat Kajen di pati untuk menentang pemerintah dan menamakan dirinya Pangeran Sendang Janur. Di Desa Larangan orang-orang Samin menolak membayar pajak, menyerang Kepala desa, dan menantang pasukan polisi. Menurut laporan J.E Jasper,asisten Residen Tuban pada tahun 1917 terbukti bahwa daerah pemukiman orang samin semakin luas, walaupun tampak jumlah pengikutnya menurun jumlahnya.

D.GERAKAN SEKTE KEAGAMAAN

• pendahuluan

Di luar arus perkembangan mesianisme yang berlangsung selama abad ke-19 dan 20,terdapat pula pertumbuhan sekte-sekte keagamaan yang baru,yang memuat berbagai tingkatan kepercayaan dan pandangan,baik dari tingkat kepercayaan islam yang orthodox maupun tingkat ide-ide yang mecerminkan sikap yang bertentangan dengan islam. Dalam pertumbuhannya gerakan milenaristis sangat menarik seklai bagi golongan petani pada khususnya dan lapisan bawah pada umumnya.Lahirnya gerakan milenaristis ataupun gerakan sekte menampilkan pemimpin-pemimpin karismatis,seperti yang diduduki oleh para guru,haji atau kyai dan memberikan tempat bagi rakyat untuk bersatu dalam ikatan keagamaan. Anggota-anggota gerakan sekte merasakan dirinya tenggelam dalam situasi masyarakat yang tampak tengah mengalami demoralisasi,oleh karena itu berusaha untuk menarik dari dari lingkungan tersebut.perkembangan arus sekte dijawa hanya harus difahami didalam kerangka perubahan-perubahan sosial serta kekacauan dan demoralisasi yang muncul sebagai akibat daripada proses westernisasi yang mendalam.gerakan sekte mengandung unsur pertentangan yang bersifat ganda.

Di satu pihak sekte-sekte bertentangan dengan golongan elite agama,di lain pihak sekte-sekte juga harus bertentangan dengan pemerintahkolonial dan elite birokratis. Ciri-ciri umum yang berhubungan dengan gerakan sekte dan mesianisme terdapat dalam masalah peranan pemimpin dan ajaran-ajarannya.pemimpin agama adalam orang yang pertama bertanggung jawab terhadap lahirnya gerakan-gerakan sekte yang benih-beninya telah ada didalam susunan sosial masyarakat jawa. Pemimpin-pemimpin sekte tidak menerima peranannya sebagai juru selamat,lagi pula mereka tidak menyatakan akan datanganya tokoh-tokoh suci. Dari segi ideologinya dapat diketahui ada persamaan antara gerakan mesianistis dan gerakan sekte. Gerakan keagamaan pada umumnya dan gerakan sekte khususnya merupakan gerakan protes yang menempatkan dirinya sebagai lawan masyarakat. Tujuan gerakan sekte adalah untuk menjawab persoalan kebendaan yang dihadapi anggota-anggotanya. Apa yang mereka cari sebenarnya adalah suatu kehidupan duniawi yang penuh kebahagiaan dan ketentraman.

Pada umumnya disalam gerakan keagamaan selama periode abad ke-19 dan 20 terdapat petunjuk adanya suatu variasi yang luas dalam bentuk dan arah pertentangan dengan pranata-pranata yang telah lama berlaku. Gerakan sekte tidak hanya menyalurkan perasaan kebencian atau dendam yang disebabkan oleh kebobrokan,tetapi juga sanggup memberikan jalan bagi anggota-anggotanya untuk memperoleh identitasnya di dalam suasanan perubahan sosial dan demoralisasi. Perbedaan sikap moral antara satu sekte dengan sekte lain memperjelas adanya bermacam-macam sektarianisme. Di satu pihak terdapat sekte yang secara keras melancarkan progapanda menentang kekendoran dalam menjalankan kehidupan agama dan sekaligus menganjurkan untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama secara ketat dalam kehidupan sehari-hari.

Percampuran unsur-unsur islam dan anasir-anasir pra-islam jawa yang banyak terdapat dilingkungan penduduk pedesaan merupak gejala gerakan sekte pula. Semetara anggota sekte ada yang sangat tebal kesadaran budaya tradisional sehingga lebih memperkuat warisan budaya jawa kuno mereka daripada budaya islam. Salah satu ciri lain gerakan sekte ialah adanya pengawasan yang ketat terhadap anggota-anggotanya. Sebagai syarat mutlak setiap calon anggota yang hendak masuk dalam tarekat harus mengucapkan sumpah setia terlebih dahulu secara khidmat. Dengan melalui sumpah tersebut, msks sekte dapat mengawasi ketaatan anggota-anggotanya secara ketat. Berbeda sekali dengan gerakan mesianistis yang hanya mengundang hak dari pihak pimpinan untuk mengeluarkan anggotanya bila melakukan penghianatan.

• Gerakan di jawa

Gerakan sekte yang sampai sekarang masih dapat dikenal antara lain ialan sekte budiah yang di dirikan oleh haji mohammad rifangi dari kalisalak pada pertengahan abad ke-19. Sekte budiah merupakan jenis sekte pemurnian islam yang menurut pendirinya diadakan untuk melawan kebobrokan agama yang dirasakan telah merayap kedalam masyarakat islam dijawa pada abad ke-19. Tujuannya ialah untuk mengadakan pembaharuan islam dengan cara kembali kepada ajaran yang murni.untuk mengetahui apa yang diajarkan oleh haji rifangi maka perlu dipelajari karya-karya antara lain ilmu hukum islam,asas-asa kepercayaan,dan mistisisme yang semuanya ditulis dalam bahasa jawa dan dalam bentuk puisi. Kumpulan karyanya-karyanya disebut kitab tardjumah dan pada dasarnya berisi terjemahan ke dalam bahasa jawa dari apa yang terdapat di dalam kitab suci yang berbahasa arab.

Menurut Haji Rifangi kehidupan agama dari rakyat dan pemimpin-pemimpinnya telah menyimpang dari petnjuk-petunjuk tuhan. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa penguasa negara,bupati-bupati,kepala-kepala distrik dan kepala-kepala desa semuanya berdosa. Sebagian besar dari guru-guru agama mengabaikan tugasnya mengajar murid-muridnya,dan takluk terhadapadat-adat kebiasaan orang-orang kafir. Dalam salah satu kitabnya Haji Rifangi juga membahas masalah perang sabil secara luas. Tetapi anehnya ia tidak memperinci perjuangan melawan pemerintah kafir. Berbeda dengan gerakan sekte budiah yang merupakan contoh dari jenis gerakan pemurnian islam, ada pula gerakan yang bersifat seni atau bertentangan dengan islam.

Gerakan igama jawa pasundan bermaksud memperbaiki keaslian daripada tradisi jawa. Gerakan ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap islam orthodox dan dianggap sebagai kepercayaan yang diimport dari luar. Sejumlah pengikut dari sekte ini terdapat di cirebon dan priayangan. Gerakan iagama jawa-pasundan didirikan oleh sadewa,atau lebih terkenal dengan nama madrais. Ia menuntut supaya diakui sebagai pangeran cirebon. Gerakan igama jawa-pasundan tidak mendapat tekanan dari pihak pemerintah karena gerakan itu tidak mengancam ketertiban umum. Lebih-lebih dalam salah satu ajarannya yang menyebutkan bersetia kepada seri. Selain itu ajarannya menyebutkan bahwa orang harus percaya kepada tuhan dan patuh kepada negara. Gerakan ini dapat dikatakan berbentuk atara suatu sekte mistik dan suatu gerombolan penjahat. Gerakan ini memiliki upacar-upacara sendiri,organisasi dan sumpah-sumpah rahasia sendiri, dan pergaulannya juga terbatas pada kalangan anggotanya sendiri. Sebagai salah satu contoh dari tipe gerakan itu dapat ditunjukkan gerakan sekte oah yang muncul disukabumi dan cianjur.

• Gerakan di tanah batak

Kepercayaan parmalim adalah kesaktian si singa mangaraja dan ibunya nan tika.demikian pula para pengikut parmalim percaya bahwa orang suci yang bernama ompu raja uti tidak dapat mati. Gerakan parsihudamdam diduga merupakan kelanjutan dari gerakan parmalim. Dugaan itu didasari oleh adanya berbagai persamaan ciri dari kedua gerakan ini. Pengikut parsihudamdam itu meneriakkan ucapan-ucapan yang tidak jelas artinya. Timbulnya gerakan parsihudamdam mempunyai berbagai kaitan dengan terjadinya berbagai perubahan ketika itu,yang telah melahirkan goncangan dalam kehidupan masyarakat batak,baik yang menyangkut ekonomi meupun politik,sosial dan budaya.

Sistem pajak yang merupakan beban berat rakyat,pemungutan pajak yang dilakukan secara sewwenang-wenang,dan kerja rodi merupakan beban pula yang sangat dirasakan memberatkan rakyat pada waktu itu. Akhirnya gezaghebeber W.C.M muller diperintahkan untuk mengakhiri gerakan-gerakan parsihudamdam itu. Ia memerintahkan untuk menghentikan upacara keagamaan itu. Tetapi perintahnya tidak dihiraukan oleh pengikut parsihudamdam.lalu muller mengeluarkan ancaman tetapi ancamannya mengakibatkan kemarahan orang parsihudamdam. Mereka menangkap muller dan secara beramai-ramai,badannya ditusuk-tusuk dengan senjata tajam sampai mati. Terbunuhnya muller mempertebal kenyakinan orang-orang parsihudamdam.

Dalam diri gerakan parsihudamdam telah ditemukan berbagai faktor yang menyebabkan kita cukup sulit menentukan jenis gerakannya. Gerakan ini jelas merupakan suatu sekte keagamaan tetapi tidak dapat disangkal bahwa gejala ini pun merupakan suatu gerakan yang menentang pemerasan karena adanya sistem pajak dan kerja rodi.Di luar arus perkembangan mesianisme yang berlangsung selama abad ke 19 dan 20, terdapatlah pertumbuhan sekte-sekte keagamaan yang baru, yang memuat berbagai tingkatan kepercayaan dan pandangan, baik dari tingkatan kepercayaan Islam yang orthodox maupun tingkat ide-ide yang mencerminkan sikap yang bertentangan dengan Islam. Sekte tidak lain adalah merupakan ekspresi keagamaan dari perasaan tidak puas suatu masyarakat dan perasaan-perasaan untuk memberontak, hasil perjuangan kelas organisasi dari kelas bawah dan peralatan dari sifat agresif mereka.Mengenai ciri umum yang berhubungan dengan sektarianisme dan mesianisme dapat dilihat di dalam masalah peranan pemimpin agama dan ajarannya. Dari segi isi ideologinya, ada kemiripan yang terkandung di dalam gerakan mesianistis dan gerakan sektaris. Salah satu ciri lain dari gerakan sekte ialah adanya pengawasan yang ketat terhadap anggota-anggotanya.

• Gerakan-Gerakan Sarekat Islam di Daerah Pedesaan

Gerakan protes dari kaum petani tidak hanya merupakan pernyataan tidak puas terhadap mereka yang berkuasa, tetapi juga merupakan cerminan dari jawaban mereka terhadap suatu masalah komunikasi yang mereka hadapi. Kaum petani tidak memiliki saluran-saluran untuk menyatakan keluhan-keluhannya mengenai apa yang menimpa mereka. Munculnya Sarekat Islam dalam situasi yang demikian itu dapat memberikan peralatan yang berarti sekali dalam mewujudkan keinginan dan kekuatan yang ada di lingkungan kaum petani melalui saluran ideologi, kepemimpinan, organisasi dan lambang-lambang dari organisasi tersebut. Sarekat Islam telah mendorong ke arah proses mobilisasi politik secara modern dari kalangan penduduk pedesaan.
Beberapa sifat penting dari gerakan Sarekat Islam ialah :

  • bersifat anti-Cina
  • sikapnya yang agresif terhadap penguasa pemerintah
  • sifat menyendirinya dan bermusuhnya terhadap orang-orang ”luar”
  • sifatnya revivalistis yang penting.

Selama dua tahun, tahun 1913 dan 1914, pertentangan komunal menjadi suatu corak yang umum di berbagai tempat di Jawa. Tahun-tahun itu boleh dikatakan merupakan periode memuncaknya agitasi anti-Cina.
Berdampingan dengan perluasan Sarekat Islam, gelombang revivalisme melanda juga daerah Jawa. Gerakan Sarekat Islam dan gerakan revivalisme dalam kenyataannya memang saling memperkuat. Agitasi Sarekat Islam sebagian memang ditujukan juga untuk memperkuat pelaksanaan keagamaan dan memperkuat semangat keagamaan.

Sejarah Latar Belakang Pergerakan Nasional Sejarah Latar Belakang Pergerakan Nasional

Pergerakansosialis.com – Pergerakan nasional ditandai oleh bermunculannya organisasi-organisasi kebangsaart, yang berciri sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Bagaimanakah pergerakan nasional lahir? Pergerakan nasional ini berawal dari keprihatinan kalangan terpelajar tertentu akan banyaknya anak bumiputera yang tidak beroleh kesempatan menempuh pendidikan. Keadaan ekonomi rakyat Indonesia saat itu menyedihkan, padahal pendidikan menuntut biaya yang tidak sedikit. Bagaimana caranya agar martabat rakyat Indonesia berkembang berkat pendidikan? Salah seorang kalangan terpelajar yang peka terhadap kondisi saat itu adalah Dr. Dokter Wahidin menginginkan sebanyak mungkin anak bumiputera terdidik. Namun, ia menyadari harus ada dana untuk pendidikan mereka. Lalu, ia memi1iki gagasan untuk menggalang suatu gerakan pengumpulkan dana bea siswa. Sudah tentu ia tidak bisa sendirian. Maka, antara tahun 1906-1907, ia pun berkeliling ke seluruh Pulau Jawa mengajak para bupati dan kalangan terpelajar agar mendukung gagasannya. Gagasan Dokter Wahidin itu tidak bertepuk sebelah tangan. Ada sekelompok mahasiswa sekolah kedokteran Stovia, Jakarta, membentuk suatu organisasi sebagai tanggapan terhadap gagasan Dr. Wahidin. Organisasi inilah yang merupakan cikal bakal pergerakan nasional, yang diisi oleh rentetan munculnya berbagai organisasi kebangsaan lainnya. Dalam suatu rapat yang sederhana, beberapa mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA, di Kwitang Jakarta, bersepakat mendirikan organisasi kebangsaan bernama Boedi Oetomo (baca: budi utomo), atau disingkat BO.

Rapat itu berlangsung pada tanggal 20 Mei 1908. Para tokoh organisasi ini antara lain Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Cipto Mangunkusumo, R.T. Dapat dikatakan, BO merupakan organisasi kebangsaan yang pertama. Berdirinya organisasi ini menandai bentuk perjuangan baru melawan penjajah. Dahulu rakyat Indonesia berjuang secara fisik serta dengan organisasi yang berciri tradisional (kedaerahan). Sejak BO berdiri, perjuangan Indonesia menempuh cara organisasi modern demi kepentingan seluruh bangsa (nasional). Itulah sebabnya, hari jadi BO kita peringati sekarang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. BO bertekad meningkatkan martabat bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Agar tekad itu tercapai, organisasi tersebut memusatkan kegiatannya dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Adapun program yang dijalankannya antara lain memperhatikan kepentingan pengajaran umum, memajukan pertanian, peternakan, dan perdagangan, memajukan teknologi dalam industri kecil, mengenalkan kem.bali warisan kebudayaan dan ilmu pengetahuan nenek moyang, mempertinggi cita-cita kemanusiaan pada umumnya, serta memperhatikan segala hal yang perlu untuk menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat. Pada akhir tahun 1909, BO telah mempunyai cabang di 40 tempat dengan jumlah anggota sekitar 10.000 orang.

Dukungan terhadap organisasi ini terutama datang dari kalangan pelajar (kebanyakan bangsawan) dan para pejabat bumiputera (bupati dan sejawat). Pada tahun-tahun berikutnya, organisasi ini memperluas orientasi perjuangannya, tidak hanya di bidang pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial, melainkan juga melangkah ke bidang politik. Pada tahun 1909, Kyai Haji Saman-hudi, seorang saudagar batik dari Laweyan, Solo, mendirikan suatu organisasi bernama Sarekat Dagang Istam. Tujuan semula dari organisasi ini adalah melindungi sekaligus memajukan usaha para pedagang bumiputera dalam rangka menanggulangi monopoli para pedagang besar Tionghoa. Selain itu, organisasi ini bertuj uan j uga meningkatkan pengamalan agama Islam di kalangan anggotanya. Tampak bagi kita, organisasi tersebut menempatkan ekonomi dan agama sebagai landasan organisasi. Sarekat Dagang Islam memperoleh sambutan luas di kalangan pedagang Islarn. Kemudian, pada tahun 1911, Sarekat Dagang Islam beralih nama menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama tersebut menandai perluasan ruang lingkup gerakan. Organisasi ini tidak lagi membatasi dirinya pada urusan perlindungan perdagangan saja, melainkan j uga melawan segala bentuk penindasan dan kesombongan rasial.

Baca Juga : Dukung Pergerakan Sosial Gabungan Scooterist Peduli

Perluasan gerakan tersebut merupakan desakan seorang anggota dari suatu kantor dagang di Surabaya, bemama Haji UmarSaid Cokroaminoto. Ia kemudian menjabat Ketua SI sejak tahun 1912. Adapun tokoh SI lainnya adalah Haji Agus Salim, Abdul Muis, dan Suryopranoto. Dalam Anggaran Dasarnya, tertanggal 10 September 1912, SI menggariskan program organisasinya sebagai berikut, yaitu mengembangkan jiwa berdagang, memberi bantuan kepada para anggota yang tertimpa kesukaran (semacam koperasi), memajukan. Kalau kita bandingkan dengan BO, akan kita jumpai keunikan tersendiri pada SI. BO amat kentara dipelopori oleh kalangan intelektual dan kalangan atas (bupati dan sejawat). Sedangkan SI mencakup semua lapisan masyarakat, sampai pada lapisan bawah. Dengan demikian, organisasi itu menempatkan dirinya sebagai gerakan rakyat. Itulah sebabnya, pemerintah kolonial merasa was-was dengan gerak-gerik SI. Gubernur Jenderal Idenburg berupaya mempersulit kegiatan organisasi tersebut. Misalnya, SI tidak diperbolehkan mempunyai pengurus besar, sehingga ijin menjadi badan hukum ditolak. Terhadap tindakan pemerintah kolonial itu, SI membentuk badan pusat yang mengatur SI di daerah-daerah. Pada bulan Juni 1916, organisasi ini menyelenggarakan sidang yang disebut Kongres Nasional SI.